Fenomena Ekologi: Antara Ekonomis dan Ekologis

  • Bagikan
Ilustrasi

KEHIDUPAN dunia yang seimbang, dimaknai berupa harmonisasinya unsur makro dan mikro antar seluruh komponen ekosistem di permukaan bumi ini. Sumbangan dan kontribusi tumbuhan dan hewan bagi kehidupan manusia, tak terbatas dan tak bisa terhitung secara finansial. Kompleksitas kehidupan yang sempurna, termasuk siklus unsur mikro maupun siklus energi yang terjadi di dalamnya meliputi daur oksigen, nitrogen, karbon, fosfor dan aliran energi yang saling terkait, senantiasa tertata dengan baik hingga secara langsung maupun tidak langsung menopang kehidupan ‘makhluk berakal’ (manusia) dan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini.

Kompleksitas kehidupan hutan yang di dalamnya terdapat beragam jenis tumbuhan, ketika ditilik lebih mendalam lagi, ada kontribusi hewan melalui mekanisme polinasi dan distribusi benih yang terkadang kita bersikap ‘apatis’ terhadap peranan vital mereka. Begitu pula untuk fauna dan biota di perairan. Tulisan ini lebih menyentil pada peranan biologi hewan dan tumbuhan secara ekologis maupun ekonomis, agar tumbuh semangat ekosistem-centris dalam berkehidupan di ‘zaman now’.

Tantangan bagi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia masih berkutat pada traditional campaign dan classical effort. Demikian halnya yang terjadi di propinsi Maluku Utara. Pengetahuan para decision maker tentang pengelolaan SDA berbasis kearifan lokal dan berkelanjutan, masih minim dan sangat terbatas. Begitupun dengan pengetahuan eksklusif masyarakatnya.

Ironis dan miris ketika masih banyak jenis burung yang ditangkap untuk dipelihara dan diperdagangkan serta masih banyak hutan yang dirambah dan dieksploitasi guna kebutuhan dan kepentingan individu atau kelompok tertentu. Tak dapat dipungkiri, deforestasi hutan menyebabkan berkurang atau hilangnya jenis hewan tertentu yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap jenis tumbuhan tertentu pula (sebagai inang utama). Berkurang atau hilangnya salah satu jenis hewan, lebih-lebih kalau jenis tersebut memiliki nilai penting ekologi dapat menyebabkan terganggunya dinamika ekosistem.

Terganggunya ekosistem, dapat memunculkan berbagai fenomena ekologi, misalnya yang pernah terjadi di Kabupaten Sumba Timur pada pertengahan Juni 2017 lalu, akibat hilangnya populasi burung pemangsa, menyebabkan populasi belalang meningkat. Ledakan populasi belalang yang besar ini, tidak sebanding dengan jumlah pakan yang tersedia. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang diserang dan menyebabkan para petani mengalami kerugian yang sangat besar.

Di Indonesia, fenomena ledakan populasi belalang pernah terjadi di beberapa propinsi, sebut saja Propinsi Lampung, Sumatera Selatan, NTT, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Fenomena lain, ketika terjadi ledakan populasi ulat bulu sekitar tahun 2011, akibat hilangnya pemangsa alami mereka, yakni burung, kelelawar, parasitoid dan semut rangrang. Selain itu, faktor non-biotik juga turut berpengaruh, misalnya perubahan ikim dan pemanasan global. Oleh para ahli ekologi, berbagai peristiwa ini disebut dengan efek ‘kaskade’, yakni peristiwa putusnya salah satu rantai makanan (foodchain), akibat berkurang atau hilangnya satu jenis taksa organisme dalam jaring makanan (foodweb). Idealnya, alam telah menyediakan segala sesuatu untuk membatasi dan mengendalikan jumlah populasi setiap tingkatan organisme.

Jumlah populasi bakteri spesifik di alam, juga dibatasi karena peranan fungsional kecoa yang terkadang kita anggap jijik dan kotor, sebagai agen pengendali hayati alami. Tinja hewan (termasuk manusia) dan bangkai seluruh hewan dan tumbuhan, mampu di daur ulang oleh cacing dan jenis kumbang pemakan bangkai atau pemakan tinja. Pernahkah terpikirkan oleh kita, apa yang terjadi jika salah satu populasi hewan tersebut berkurang atau bahkan hilang di alam? Bagaimana bila bumi dipenuhi dengan tumpukan bakteri, tumpukan bangkai atau tinja tanpa ada makhluk lain yang berperan dalam mereduksinya? Berapa biaya (cost) yang digunakan untuk mengatasi hal tersebut?

Jenis tumbuhan dan hewan yang bernilai ekonomis rendah, akan tetap terjaga kelestariannya, sebaliknya tragis pada jenis hewan yang bernilai ekonomis tinggi, karena kerapkali dieksploitasi. Betapapun hebatnya peranan kumbang tinja bagi ekosistem, tak akan dilirik oleh perusahaan manapun bila hanya bernilai ekologis, bukan ekonomis.

Kupu-kupu endemik Pulau Bacan dengan akulturasi warna sayap yang indah, akan berkurang jumlah populasinya di alam akibat perburuan untuk diperdagangkan, manakala harga di pasaran menembus kisaran Rp 600 ribu hingga jutaan per ekor. Pengambilan intensif terhadap jenis tumbuhan dan hewan, tergantung tingginya permintaan konsumen.

Di Cina, kuda laut dipercaya ampuh menyembuhkan berbagai penyakit, sehingga pasokan hewan tersebut mencapai 20 ton per tahun. Setiap tahun Indonesia mengekspor lengan katak sekitar 94-235 juta katak ke negara-negara Eropa Barat untuk makanan mewah (Indrawan dkk, 2007).

Kepercayaan kelompok masyarakat tertentu bahwa otak monyet hitam dapat meningkatkan daya seksualitas pria, juga menyebabkan berkurangnya populasi monyet hitam di Pulau Sulawesi. Maraknya perburuan terhadap satwa liar, karena nilai ekonomis yang melekat pada jenis tersebut, bukan pada nilai ekologisnya.

Kelapa sawit akan mengganti posisi fisik tumbuhan lain, karena produk olahan kelapa sawit saat ini bernilai ekonomis tinggi di pasaran dunia, namun fungsi ekologis tumbuhan lokal tidak tergantikan. Inilah cara pandang pragmatis yang kini tumbuh semakin subur dengan beragam alasan bernada pembenaran.

Kaitannya dengan kelapa sawit, mungkin kita bisa tengok sebentar pada kisah yang terjadi di wilayah Gane Timur Kabupaten Halmahera Selatan. Ribuan hektar lahan “disulap” menjadi perkebunan kelapa sawit. Perubahan fungsi hutan di Indonesia, telah terjadi dari tahun 1990. Diperkirakan oleh Universitas Princeton dan Institut Teknologi Federal Swiss, bahwa hutan primer di Indonesia telah diubah fungsinya menjadi perkebunan kelapa sawit sebesar 55-60%. Lebih lanjut di tahun 2007, berdasarkan laporan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), menyatakan bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama deforestasi hutan di negara Indonesia. Belum lagi dampak sosial berupa klaim mengklaim kepemilikan di areal perluasan, ketergantungan masyarakat lokal terhadap perusahaan dan lain-lain. Tentu saja kehadiran kelapa sawit bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan manfaat, berupa terbukanya lahan pekerjaan baru bagi masyarakat lokal, penambahan devisa daerah dan profit bagi perusahaan (ekonomis), namun di sisi lain memberikan dampak buruk (mudharat) bagi dinamika ekosistem (ekologis), meliputi berkurangnya hotspot keanekearagaman hayati, menurunnya kualitas perairan, kematian bagi jenis-jenis satwa yang rentan punah, dan meningkatnya gas efek rumah kaca.

Dari berbagai fenomena, fakta empiris dan asumsi yang disampaikan, perlu kita evaluasi kembali cara pandang kita mengenai pengelolaan sumber daya hayati. Fenomena ekologi tidak akan terjadi manakala komponen-komponen ekosistem itu seimbang. Untuk melindungi dan melestarikan jenis flora dan fauna yang bernilai ekologis, perlu adanya regulasi, kebijakan dan ketegasan hukum yang jelas, dan tentu saja berpihak pada alam bukan pada kepentingan perorangan maupun kelompok tertentu.

Idealnya, kekayaan hayati yang melimpah di tanah pusaka para Sultan ini perlu dijaga dan dilestarikan dengan manajemen yang baik, sesuai pesan para datuk dengan kearifan lokalnya. Ini adalah harapan kita semua (mungkin juga harapan para datuk terdahulu), untuk kehidupan generasi yang akan datang, agar lebih baik lagi. Semoga

Penulis: Zulkifli Ahmad

(Mahasiswa S3 Ilmu Biologi UGM Yogyakarta)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut