Ulfi Saksikan Suaminya Mati Ditembak Polisi

  • Bagikan

LABUHA, Mata sembab dan memerah terlihat jelas di wajah Ulfi Tuwara, warga Desa Marabose Kecamantan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), yang menyaksikan secara langsung peluru milik anggota buru sergap (buser) Polres Halmahera Selatan menghujam ke dada suaminya Jufri Papilaya alias Jefri, hingga membuat pria terkasihnya itu meregang nyawa tanpa melewati proses peradilan yang berlaku di negeri ini.

Kepada sejumlah wartawan, Ulfi didampingi paman korban, Halid Ahmad menceritakan peristiwa nahas dimalam jumat tanggal 25 Januari pekan lalu itu, pihak keluarga tidak puas dengan tindakan anggota Buser Polres Halsel, yang menembak mati JP dalam operasi penengkapan di rumah salah satu warga di Desa Kampung Makean.

Halid menyebutkan, tindakan penembakan yang dilakukan oleh anggota Polres Halsel terhadap keponakanya itu tidak wajar. Sebab menurut keterangan dari Ulfi, JP sebelum ditembak dibagian dada, korban dianiaya oleh polisi.

“Menurut keterangan istri korban, sebelum korban ditembak. Korban di pukul, di pukul di bagian belakang dan ditendang dibatang leher. Kemudian korban jatuh lalu ditembak di bagian dada,” ungkapnya saat diwawancarai siang tadi, Minggu (28/1/2018).

Peristiwa ini terjadi saat Ulfi dijemput oleh Polisi di rumah orang tuanya di Desa Marabose, sekitar pukul 19:45,  kemudian Ulfi digiring ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangan terkait keberadaan suaminya.

“Mereka (Polisi,red) datang jemput istri korban. Kemudian mereka tanya suaminya si Jefri ini, posisinya dimana. Mereka ancam istrinya sehingga dia beri tau posisi suaminya,” ceritanya.

Setelah mengetahui keberadan JP, polisi langsung  ke tempat persembunyian JP di Desa Makeang dengan membawa serta Ulfi. Setibanya di rumah itulah Ulfi menyaksikan suaminya dianiaya dan ditembak.  “Dia (Ulfi) lihat itu tembakan pertama mengaraha ke korban sedangkan tembakan kedua dan ketiga tembakan ke atas,” jelasnya.

Halid mengancam akan meloparkan  kasus penembakan keponakanya itu  kepada Komnas HAM dan Kontras, sebab meskipun JP ditetapkan sebagai DPO untuk kasus pencurian disejumlah kantor instansi pemerintah daerah Halsel, akan tetapi hukuman tembak mati tak bisa dibenarkan.

“Saya akan laporkan ke Komnas HAM dan Kontras terkait kejadian ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolres Halsel, AKBP Ifan S.P. Marpauang melalui rilis yang dikantongi oleh wartawan menjelaskan polisi terpaksa menembak mati JP karena melakukan perlawanan dengan menggunakan sebilah parang.

“Atas nama undang undang pelaku diminta menyerahkan diri namun tidak diindahkan, kami terpaksa menembak,” terangnya.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut