Bahri: Pembangunan Gerbang Gotowasi Adalah Batas Adat

  • Bagikan
Sekretaris Komisi I DPRD Haltim, Bahri Hayun

MABA- Sekretaris komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Kabupaten Halmahera Timur, Bahri Hayun,  mengaku jika pembangunan gerbang Desa Gotowasi Kecamatan Maba Selatan dan Desa Soagimalaha Kecamatan Kota Maba, bukan batas administrasi, melainkan batas adat Sangaji Sogimalaha dan Sangaji Gotowasi.

“Gerbang itu dibuat untuk batas adat, karena batas administrasi kedua desa adalah kewenangan Pemerintah Kabupaten,” katanya saat ditemui KabarMalut di ruang kerjanya, Selasa (27/2/2018).

Bahri menyebutkan,  menurut masyarakat Gotowasi dan Pemerintah Desa setempat batas adat sudah selesai, karena pada tahun 2010 lalu sudah ada kesepakatan antara sangaji Soagimalaha dan sangaji Gotowasi.

“Soal ekpektasi masyarakat, kita tidak bisa prediksi, apakah sikap mereka seperti apa kita belum tahu, tetapi sejauh ini saya mendapat informasi dari masyarakat Gotowasi sudah selesai tapal batas adat sudah sesuai yang ada,” ujarnya,

Dirinya menjelaskan, soal batas administrasi itu merupakan kewenangan Pemkab Haltim, terkait batas wilayah administrasi apakah Gotowasi berbatasan dengan Tewil atau berbatasan dengan Soagimalaha. Untuk itu pihaknya berharap Pemkab agar memediasi antara kedua pemerintah desa, untuk diselesaikan batas wilyah adminsitrasi.

“Kalau diselesaikan lewat lembaga adat, maka yang berwenang adalah adat misalnya Kesultaan atau sangaji Sogimalaha dan sangaji Gotowasi, sementara gerbang antara desa Gotowasi dan desa Soagimalaha itu dibuat sebagai batas adat gotowasi dan batas adat soagimalaha belum batas kecamatan atau pun batas desa. Karena batas kecamatan dan batas desa di kembalikan ke Pemkab,” terangnya.  (Ong)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut