Pamkab Kepsul Canangkan Festival Soha Lag Sebagai Event Tahunan

  • Bagikan
Proses Soha Lag ( Ambil Laur) di laut Desa Sama

SANANA – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) menghadiri Festival Soha Lag atau Ambil Laur yang dilaksanakan masyarakat Desa Sama, Kecamatan Sulabesi Timur Rabu 7 Maret 2018.

Festival yang dirangkaikan dengan pentas seni budaya itu, dihadiri unsur Pemkab Kepsul diantaranya Asisten II Hasan Pawah, Asisten III Ahmad Salawane, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Arif Umasugi dan masyarakat Desa Sama, Baleha, Waisepa, Fatkauyon dan Wailia serta sejumlah masyarakat yang berdatangan dari Kota Sanana untuk menyaksikan Festival Soha Lag yang menjadi budaya turun temurun masyarakat setempat.

Pemda Kepsul dan peserta lomba Festival Soha Lag (Ambil Laur)

Kepala Desa Sama, Den Wambes menjelaskan, Laur dijadikan makanan sejak dari jaman nenek moyang dahulu kala, dimana saat dahulu hidup seorang Pria di kebun dan sedang mencari makan di laut. Sehingga menemukan hewan atau binatang jenis laur, ia lantas membawa pulang dan dikonsumsi sebagai makanan yang alami, dan pada akhirnya masyarakat setempat pun berbondong-bondong menjadikan Lag atau Laur sebagai makanan musiman.

Bukan hanya itu, Lag atau Laur sebagai makanan masyarakat Desa Sama bahkan sudah dijual ke desa tetangga hingga ke pasar dalam Kota Sanana. Den mengaku, pelksanaan festival ini mendapat dukungan penuh dari Pemkab Kepsul dan hal ini diharapkan kedepan lebih dikembangkan lagi.

Dia juga memaparkan, cara Soha Lag atau pengembalian Laur diatas laut  menggunakan alat tradisional seperti Karung, Saloi dan obor. Dimana pada musim Lag atau Laur, masyarakat Desa Sama maupun desa tetangga dimalam hari tepat pukul 20.30 WIT hingga selesai, menyerbu laut hanya untuk mendapatkan jenis hewan laut yang dikenal dengan Lag atau Laur.

Terpisah, Camat Sulabesi Timur, Ikram Sibela juga menjelaskan, upaya mensukseskan Festival Soha Lag merupakan sebuah kerja sama semua desa di Sulabesi Timur. Selaku Camat dirinya menginstruksikan kepada semua kepala desa di Kecamatan Sulabesi Timur untuk terlibat aktif dalam suksesi Festival Soha Lag.

Ikram juga berharap Pemda Kepsul terus mendorong tradisi yang menjadi khas orang Sula ini untuk terpublikasi ke dunia nusantara.

Tarian Laur Asli Sula

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kepsul, Arif Umasugi menegaskan, Festival Soha Lag merupakan seni budaya masyarakat sula yang secara local, dikenal sebagai bagian dari mengambil sejenis hewan laut atau biasa disebut Laur menggunakan alat tangkap tradisional.

Dengan demikian sebagai duta pemerintah yang juga menangani bidang budaya dan pariwisata, ia sangat terharu dan bangga atas upaya masyarakat yang masih setia mempertahankan budaya daerah di tengah-tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Lanjutnya, Untuk mempertahankan dan mempublikasikan budaya soha Lag dimata masyarakat luas, pihaknya akan  bekerjasama dengan semua pihak guna kegiatan festival ini lebih dikenal, salah satu cara yaitu memasukkan Festival Soha Lag sebagai Iven tahunan. Sebab diyakini Festival Soha Lag bagian dari upaya menjawab visi misi kepala daerah yaitu menjadikan Kabupaten Kepulauan Sula sebagai daerah Industri terpadu, mandiri dan bersahaja di Maluku Utara.

Guna menjawab visi dan misi kepala derah, maka seluruh rangkaian seni budaya berupa Festival Soha Lag atau ambil laur yang sering disebut  ronggeng Laur dan festival lainnya yakni, Ronggeng Harmonika, Gambus, Denge, Ronggeng Gala dan Bela Yai Patut dilestarikan dan diperjuangkan sebagai aikon wisata budaya yang dikenal lebih luas dengan harapan bisa mendatangkan wisatawan lokal maupun manca negara agar dapat menggenjot angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih maksimal. (PN/Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut