Tenaga Fasilitator Sanitasi Deberi Pelatihan

  • Bagikan
Peserta Pelatihan Tenaga Fasilitator

JAILOLO – Setelah perekrutan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018, Bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) selesai dilakukan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), mengadakan pelatihan, di Hotel De’hok, Kamis (8/3/2018).

“Rencananya pelatihan TFL dilakukan selama dua hari, terhitung mulai hari ini sampai besok, dengan diukuti 40 peserta,” ungkap Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Halbar, Robert Faldy.

Apalagi dalam kegiatan tersebut, lanjut Robert, pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman di Halbar yang memiliki kondisi geografis, sosial ekonomi dan budaya yang beragam, merupakan salah satu dari sekian banyak kabupaten/kota di indonesia yang belum sepenuhnya bersedia.

“Akses penduduk kepada prasarana dan sarana air limbah pemukiman pada dasarnya, erat kaitannya dengan aspek kesehatan lingkungan hidup, pendidikan, sosial budaya serta kemiskinan. Dengan begitu, hasil berbagai pengamatan dan penelitian telah membuktikan, semakin besar akses penduduk kepada fasilitas prasarana dan sarana air limbah pemukiman serta pemahaman tentang hidup bersih dan sehat, semakin kecil kemungkinan terjadinya kasus penyebaran penyakit yang ditularkan melalui media air (waterbomr diseases),” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Robert, salah satu solusi dalam penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan air limbah yang sistematis yang bermanfaat dalam peningkatan kualitas kesehatan. Dalam mewujudkan ini, komponen utama adalah penguatan kapasitas yang terkait dengan proses pendampingan masyarakat nantinya. Tahapan proses pelaksanaan program dimulai dari persiapan sampai pada serah terima hasil pekerjaan, sehingga diharapkan TFL dapat mendalami dan memahami tugas dan fungsi dalam membangun komitmen tim.

“Untuk kepentingan bisa tercapai, maka diperlukan pelatihan bagi Tenaga Fasilitator Lapangan, sehingga nantinya dapat bekerja dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal,” tandasnya.

Menurutnya, dengan kegiatan seperti ini untuk memberikan pemahaman mengenai kebijakan pelaksanaan kegiatan DAK inflastruktur Sub Bidang Sanitasi beserta seluruh prosesnya.

“Untuk itu,  dapat memberikan pelatihan tenaga fasilitator lapangan DAK 2018 dengan kemampuan teknis dan non teknis terkait dengan implementasi kegiatan DAK inflastruktur Sub Bidang Sanitasi,” cetusnya.

Sementara Asisten I Setda Halbar Moh. Duwila, di kesempatan itu, mengatakan, untuk mewujudkan rencana jangka panjang menengah Nasional, yang mencapai universal Acces dasar sanitasi hingga tahun 2019, diperlukan upaya bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Sehingga di Halbar, DAK Bidang Sanitasi diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang infalastruktur serta meningkatkan cakupan pelayanan sanitasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui perluas akses, pelayanan air limbah dan persampahan yang layak skala komunal dengan kriteria padat penduduk, dan rawan sanitasi yang diselenggara melalaui proses pemberdayaan masyarakat.

“Kegiatan Sanimas merupakan pemberian dana bantuan pemerntah sebagai bentuk inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan,” tukasnya.

Lanjut Moh Duwila, melalui pelaksanaan Sanitasi berbasis masyarakat ini, masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah pemukiman sesuai,  untuk membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), ikut pula menyusun rencana aksi dan melakukan pembangunan fisik dan membentuk Kelompok Pemanfaatan dan Pemeliharaan (KPP) untuk melaksanakan pengelolaan kegiatan operasi dan pemeliharaan.

“Tenaga fasilitator lapangan merupakan orang atau tenaga yang dipersiapkan secara khusus untuk menjadi fasilitator antara masyarakat dengan pemerintah kabupaten,” tegasnya.

Moh Duwila mengatakan, pendampingan oleh TFL merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan DAK Bidang Sanitasi. Oleh karena itu, pemberdayaan harus diatur agar personilnya yang menjadi TFL merupakan orang yang tepat untuk kegiatan sanitasi yang bersifat swakelola.

“Perekrutan TFL keriteria sesuai Juknis, dan melakukan pelatihan terhadap mereka sehingga nantinya TFL mampu bertindak sebagai monivator, komunikator, mediator katalisator, moderator dan sebagai ‘starter’ yang dapat bekerja dengan baik dan memperoleh hasil yang lebih maksimal,”pintanya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut