Luka di RSUD Weda dan Kepekaan Sosial Jurnalis

  • Bagikan
Screenshot status Dirut RSUD Weda yang menyebutkan berita tolak pasien KIS dan suruh nginap di penginapan adalah hoax

Malam itu, Selasa (10/4/2018) tepat pukul 00:31 dini hari, waratawan kami yang bertugas di Kabupaten Halmahera Tengah, saudara Sahril Nento menelpon saya, cukup larut memang untuk ukuran jam istrahat orang pada umumnya, tapi bagi seorang jurnalis itu jam yang masih sangat muda. Suara di ujung telpon itu meminta maaf sebelum mengutarakan maksudnya. Saya langsung memahami ini pasti soal pekerjaan yang sifatnya penting dan mendesak.

“Izin korlip, ada berita RSUD Weda tidak terima pasien KIS dan suruh pasien nginap di penginapan, hanya saja jam begini berita bisa naik tidak, berita ini hanya saya yang dapat,” kata Sahril.

Dia sadar telah melewati deadline memasukan berita. Sekali lagi, Sahril meyakinkan saya bahwa peristiwa itu memang terjadi pada pagi hari, dan dirinya baru bertemu dengan  pasien beserta keluarganya pada pukul 22:00 di Penginapan Maros. Lalu mewawancarai mereka dan tak lupa mengambil gambar pasien.

Kepada saya, Sahril menjelaskan yang membuat berita itu lama sampai di media redaksi, disebabkan karena dirinya melakukan upaya konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak RSUD Weda, guna memenuhi prinsip cover both sides atau keberimbangan berita, dia mencoba mencari nomor kontak Direktur Utama (Dirut) RSUD Weda, Valeria Vransisren, hanya saja nomornya tidak ada pada daftar kontak,  yang ada hanya sekertaris direktur RSUD, Ade Sabtu sehingga Sahril menelpon dan mengirim SMS akan tetapi tidak mendapat respon.

Tak menyerah, sahril menelpon Kepala Dinas Kesehatan untuk menanggapi hal ini, sayangnya nomor yang di tuju tidak dapat dihubungi, bahkan Sahril sampai nekat menelpon Bupati Edi Langkara dan Wakil Bupati, Abd Rahim Odeyani di tengah malam itu untuk menanggapi hal ini, dan hasilnya sama tidak ada yang mengangkat telponnya.

Tak puas, Sahril mendatangi RSUD Weda untuk konfirmasi secara langsung kepada petugas yang piket malam itu, dan mereka hanya menjawab itu di luar  kewenangan mereka untuk menjelaskan kepada media. Jam menunjukan pukul 23:30, Sahril lalu memutuskan menulis berita dan mengirimnya ke redaksi via WhatsApp malam itu juga.

Selanjutnya tugas saya, mengedit berita yang cukup menguras emosi itu, sebab hati siapa yang tega melihat orang yang lanjut usia tidak mendapatkan pertolongan medis tapi diperlakukan seperti itu, maka jadilah berita dengan judul. RSUD Weda Tolak Pasien KIS dan Suruh Nginap di Penginapan

Dan booom !!!, berita itu viral di media sosial, tak sampai 24 jam setelah penayangan berita itu sudah dibaca lebih dari 3000 kali, di hari itu juga Wakil Bupati Halteng melakukan sidak di RSUD Weda dan melakukan rapat bersama petinggi RSUD, yang tak hadir hanya Dirut RSUD Valeria Vransisren sebab tidak ada di tempat tugas alias keluar entah kemana.

Saya bisa memahami, kenapa Sahril begitu ngotot ingin segera menayangkan berita itu. Sebab, keberpihakan seorang jurnalis adalah kepada rakyat, menajdi mata, telinga dan suara rakyat, saya yang hanya mengedit berita tersebut saja cukup merasa geram apalagi wartawan yang turun langsung di lapangan.

Ini bukan soal kecepatan menulis berita atau merasa bangga dengan banyaknya orang yang membaca berita kita, tetapi ini soal kepedulian dan kepekaan sosial yang mendorong kami untuk menulis dan menyampaikan fakta, menjadi penyambung lidah bagi masyarkat kecil seperti bapak Suraji yang ditolak pihak RSUD karena menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diidentikan sebagai orang tak punya.

Apa yang dilakukan oleh Sahril adalah apa yang dituliskan oleh mantan wartawan The New York Times Bill Kovach bersama rekannya Tom Rosentiel dengan buku The Elemnts of Jurnalism yang sangat terkenal dan menjadi pedoman bagi waratawan di seluruh dunia, dan bahkan mengilhami seorang jurnalis senior Indonesia, Andreas Harsono untuk menulis buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme.

Pekerjaan sebagai jurnalis adalah pekerjaan yang beresiko dan penuh tantangan, kami melewati tahapan itu untuk menyajikan suatu kebenaran kepada halayak, memperjuangkan kepentingan masyarakat dihadapan pemerintah, berani bersuara lantang dan mengabil peran untuk mengawasi jalannya pemerintahan, sebab pers adalah pilar ke 4 dari demokrasi.

Sehingga itu apabila ada orang yang mengatakan hasil jerih payah jurnalis adalah hoax alias berita bohong, membuat kami benar benar merasa tersinggung, apalgi orang itu merasa paling tahu dengan menggunakan kitab panutan para jurnalis untuk mebunuh krakter kami.

Perlu  dicatatat, pekerjaan jurnalis itu turun langsung ke lapangan memeriksa fakta demi fakta lalu mengkonfirmasinya lagi kemudian memahami dan menuliskannya, bukan pergi meninggalkan tempat tugas lalu seenaknya mengatakan telah bertanya kepada orang yang bersangkutan. Seperti anda megaku telah bertanya langsung kepada pasien, lalu siapa yang hoax di antara kita ???

(KORLIP)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut