Menimbang Lawan Jokowi yang Sepadan

  • Bagikan

Oleh; Helmi Alhadar
Dosen Komunikasi UMMU & Kandidat Doktor di Univ Padjadjaran Bandung

Isu Pilpres makin hangat diwacanakan oleh para elite. Bagaimana tidak, partai politik sudah harus menetapkan para capresnya di Bulan Agustus nanti. Golkar, PPP, Nasdem, Hanura dan PDI-P pun telah bulat menetapkan Jokowi sebagai capresnya. Sementara Prabowo terkesan belum mantap untuk maju bertarung melawan Jokowi pada 2019 nanti, sekalipun seluruh DPD Gerindra telah sepakat mengusung Prabowo sebagai capresnya, termasuk dukungan dari PKS dengan menyodorkan sembilan kadernya untuk dipilih Prabowo sebagai cawapres pendampingnya. Sikap Prabowo dapat difahami mengingat hasil survei dari berbagai lembaga menempatkan Jokowi sebagai pemenang jika berhadapan dengan mantan komandan kopasus itu, sekalipun kedua calon tersebut berpasangan dengan siapapun yang menjadi cawapresnya. Di lain pihak, PKB, PAN dan Demokrat coba membangun komunikasi politik diantara mereka yang diduga bisa memunculkan poros ketiga. Namun belakangan, Demokrat diisukan akan merapat ke kubu Jokowi, sementara PKB cenderung memaksa Jokowi untuk mengambil Cak Imin sebagai cawapresnya.

Hasil-hasil survei dari berbagai lembaga yang menempatkan Jokowi sebagai figur yang paling kuat sebagai calon presiden tidak serta merta membuat Jokowi nyaman dengan posisi tersebut. Sebab di lain pihak, hasil survei juga menunjukan bahwa lebih dari 50% masyarakat Indonesia tidak memilih mantan Gubernur DKI tersebut, dimana hasil survei menunjukan bahwa kemenangan Jokowi terhadap Prabowo yang merupakan rival terkuat Jokowi tidak pernah menyentuh angka 50%. Hal ini menunjukan bahwa posisi Jokowi belum aman dan masih mungkin dikalahkan jika lawan-lawan politik Jokowi mampu memilih tokoh alternatif sebagai capres pengganti Prabowo. Belum lagi partai-partai koalisi pendukung Jokowi terkesan ingin memasangkan Jokowi dengan kadersnya atau ketua umumnya. Golkar jelas sangat berminat memasangkan Jokowi dengan Airlangga Hartarto, begitu juga dengan PPP yang coba menawarkan Romi sebagai pendamping Jokowi, adapun Hanura yang menyodorkan Wiranto. Bahkan PKB secara tegas mengatakan kemungkinan akan bergabung dengan kubu Prabowo apabila Muhaimin tidak dipilih sebagai cawapres Jokowi. Realitas demikian membuat Jokowi perlu hati-hati membangun komunikasi politik dengan koalisi partai pendukungnya untuk tetap menjaga kesolidan koalisi pendukungnya.

Melihat realitas politik yang ada rasanya lawan-lawan politik Jokowi harus serius memikirkan capres yang paling realistis untuk dihadapkan dengan Jokowi untuk memperebutkan kursi presiden pada 2019 nanti kalau memang ingin serius mengalahkan presiden petahana tersebut. Namun siapa yang harus diusung untuk melawan Jokowi? Prabowo, Anis Mata, Muhaimin Iskandar atau Zulkifli Hasan rasanya terlalu sulit untuk menghadapi Jokowi yang elektabilitas dan popularitasnya terlalu moncer untuk dilawan. Sementara kalau Jokowi harus melawan kotak kosong juga demokrasi kita menjadi tidak elok dan rakyat tidak memiliki alternatif untuk memilih capres, padahal kemungkinan masih banyak rakyat yang menghendaki ada penggantian presiden pada 2019 nanti. Jadi, bagaimanapun, harus ada tokoh alternatif yang dimunculkan sebagai capres yang sebanding untuk menghadapi Jokowi.

Memetakan tipologi politik yang ada di Indonesia, kita dapat memetakannya menjadi empat: Nasionalis kiri yang diwakili PDI-P di bawah kepimpinan Megawati dengan massanya yang sebesar 24%. Nasionalis kiri tengah yang diwakili Golkar, Demokrat, Nasdem, Hanura dan Gerindra. Adapun kelompok kanan tengah seperti PKB dan PAN. Sedangkan kelompok islam kanan yang terdiri dari PKS, PPP, PBB dan kelompok hizbuttahir dll termasuk FPI dengan pengikutnya berkisar 34%. Sementara jumlah kelompok kiri tengah dan kanan tengah jika dijumlahkan berjumlah sekitar 42%. Melihat realitas tersebut dimana kelompok kiri dan kiri tengah di luar Gerindra telah sepakat menjagokan Jokowi, sementara kelompok kanan selain PPP masih kesulitan mencari alternatif sebagai capres untuk diusung dalam pilpres 2019 nanti. Adapun kelompok kanan tengah antara PKB dan PAN masih juga belum menentukan sikap secara tegas dalam pencalonan presiden nanti.

Melihat realitas politik tersebut kemungkinan kubu Prabowo masih mungkin mencari figur alternatif sebagai lawan Jokowi yang sepadan. Sebab kelompok kanan yang berjumlah 34% diduga sangat kecil dapat berkompromi dengan kubu PDI-P untuk mengusung Jokowi sebagai presiden mengingat resistensi politik kedua kubu ini cukup kental. Gatot yang baru saja pensiun dari TNI telah aktif bermanuver untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Memang gelagat Gatot sudah terendus sejak masih sebagai panglima TNI dimana purnawirawan jenderal tersebut cenderung dekat dengan kelompok kanan yang dimotori Habib Rizik dalam aksi 212 pada pilgub DKI lalu untuk menuntut Ahok diseret di pengadilan dalam kasus pelecehan agama. Tapi pencalonan Gatot mungkin hanya lebih direspon oleh kelompok islam kanan, sebab kemungkinan sosok Gatot tidak terlalu seksi untuk memikat kalangan islam tengah dan kelompok muslim intelek dan profesional, apalagi kalau Jokowi berpasangan dengan Muhaimin Iskandar.

Dengan mengamati realitas tersebut rasanya Prabowo akan realistis untuk mengurungkan niatnya maju bertarung dalam pilpres nanti. Dan sepertinya Prabowo telah menunjukan gelagat itu dengan memikirkan calon alternatif sebagai pengganti dirinya yang kemungkinan bisa mengalahkan Jokowi. Dan realitas politik pun akan berubah kalau Jokowi tidak mengakomodir harapan Cak Imin untuk bersanding dengannya karena kemungkinan besar PKB akan banting setir untuk bergabung dengan kubu Prabowo. Muhaimin sangat lihai memanfaatkan posisi PKB yang disokong oleh mayoritas kiyai nahdiyin yang begitu memainkan peran penting dalam pemilihan presiden kali ini, mengingat dukungan kaum nahdiyin sangat penting bagi Jokowi, sementara kehilangan pinangan dari Jokowi membuat posisi PKB dan Cak Imin juga menjadi penting bagi kubu Prabowo yang sangat membutuhkan dukungan dari kalangan NU. Dengan begitu, kemungkinan kubu oposisi akan mengusung Anies Baswedan-Cak Imin sebagai representasi dari Muhammadiyah dan NU untuk berhadapan dengan Jokowi-Airlangga/Moeldoko. Apalagi kebijakan Anies di Jakarta sudah terlihat keberpihakannya kepada kelompok kecil yang kemungkinan akan mendapat dukungan dari kelompok nasionalis yang intelektual dan profesional, bahkan dapat menarik kubu PPP untuk bergabung dengan kubu oposisi. Kalau itu terjadi dapat dipastikan pilpres pada 2019 nanti bisa berlangsung lebih seimbang dan semarak sehingga rakyat lebih memiliki alternatif untuk menentukan pilihannya.

Tapi tentu itu tidak mudah mengingat Anies dan Cak Imin pun bukanlah orang yang mudah dapat diterima oleh islam kelompok kanan yang sering berseberangan dalam politik dengan Anies maupun kubu NU yang termasuk Muhaimin Iskandar. Adapun Prabowo dengan Gerindra yang dipastikan tidak akan mendongkrak penambahan suara untuk Partai Gerindra kalau tidak mengusung Prabowo sebagai capres. Tapi apabila masing-masing kelompok tetap mempertahankan ego kelompoknya maka dapat dipastikan Jokowi akan melenggang dengan mudah ke istana pada pilpres 2019 nanti. Namun melihat keinginan dari pihak oposisi untuk mengalahkan Jokowi, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam politik untuk melakukan kompromi demi untuk kepentingan yang lebih besar. Tapi kalau kubu Jokowi mengakomodir tawaran Cak imin, maka kemungkinan alternatif lain yang paling realistis untuk menghadapi pasangan Jokowi-Cak Imin adalah pasangan Anies-Gatot. Waullahualambisawab!

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut