Kadis Pertanian Halbar Tak Tahu Hasil Panen Jagung

  • Bagikan
Kadis PeratianHalbar, Totari Balatjai

JAILOLO – Hasil panen jagung perdana 20.000 hektar tahun 2017, di Desa Kuripasasi Kecamatan Jailolo, serta desa lainnya, sampai saat ini tidak diketahui secara pasti oleh publik. Parahnya lagi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) Totari Balatjai juga tidak mengatui secara terperinci.

Padahal, Kegiatan ini merupakan lanjutan pembangunan pengawasan pertanian berbasis kepulauan melalui Program Upaya Khusus (UPSUS) Kementerian Pertanian RI. Untuk itu, jagung merupakan komuditi tanaman pangan yang memiliki peranan strategis dalam pembangunan Nasional, dan menjadi bahan baku utama pakan ternak untuk kelanjutan produksi daging nasional.

“Torang (kami) tidak hafal, karena kelompok dari masing-masing desa langsung jual,” kata Kadis Pertanian Halbar, Totari Balatjai kepada KabarMalut di ruang kerjanya, Rabu (9/5/2018).

Lanjut Totari, jagung tetap ada sehingga hasil panennya langsung dijual ke pakan ternak di lokal, bahkan dijual ke ternak milik mantan Bupati Halbar Namto H. Roba, maupun diberikan ke investor yang berada di Surabaya, tetapi jumlah keseluruhannya tidak diketahui secara pasti.

Menurutnya, harga jagung berdasarkan tiga kategori tetapi dilihat dari sampel misalnya kadar air, mutu dan kualitas dengan begitu nilai harganya berbeda. Walaupun begitu, nominalnya juga tidak diketahui dan yang jelas hasil panen jagung tahun 2017 kemarin sudah selesai.

“Harga jagung berdasarkan sampel, baru nilai harganya ditentukan tetapi saya juga tidak hafal,” terangnya.

Sebelumnya, aksi unjuk rasa Liga Mahasiswa Banau (Limau) juga menuntut keras, agar pemerintah merealisasikan janjinya program untuk masyarakat, ketika masyarakat telah diperintahkan untuk menanam jagung, padahal tidak sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhan mereka. Anehnya pada saat jagung sudah dipanen, pemerintah tidak menyediakan pasar untuk petani bisa memetik hasilnya. Ajo)

  • Bagikan

Respon (1)

  1. Di desa saya juga sampai saat ini kelompok jagung juga jadi bingung, karna setiap saat bibit jagung selalu di kirim dari kabupaten ke desa saya, namun masyarakat yang namanya tercantum sebagai kelompok jagung banyak yamg tidak tahu kapan kelompok itu terbentuk, dan sampai saat ini bibit jagung yang di datangkan dari kabupaten sekitar 200 dus lebih di biarkan terhambur dan menjadi mainan anak2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut