Tuntut Keadilan, Ibu Korban Pembuhan Histeris

  • Bagikan
Salima Umalekhoa, ibunda korban Pembunuhan hesteris di depan Polres Kepsul

SANANA – Ratusan warga Desa Wai-Ina, Kecamatan Sulabesi Barat, membanjiri kantor Polres Kepulauan Sula (Kepsul) meminta kejelasan kinerja penyidik Polres dalam menangani kasus pembunuhan korban Murdimin Fokatea, dengan menggelar aksi unjuk rasa.

Warga bersama ibu korban, Salima Umalekhoa mengaku tidak percaya lagi dengan kinerja Polres Kepsul menangani kasus pembunuhan yang terjadi 14 Juli 2018 di Desa Falahu. Salima bersama warga juga berusaha masuk namun dihalangi anggota yang melakukan penjagaan.

“Kenapa pelaku masih belum ditangkap, anak saya korban dan telah meninggal, apa itu anak binatang yang dibunuh sehingga hukum tidak bertindak,”  teriak Salima dengan wajah penuh linangan air mata, Senin (13/8/2018).

Salima berteriak histeris sehingga berhujung pingsan, hingga wanita malang itu harus dipapah ke ruang SPKT Sanana.

Masa yang masih saja belum mendapat kejelasan terkait penyelidikan tersebut menyatakan mosi tidak percaya kepada Polres Kepsul dan berjanji bakal melaporkan persoalan ini ke Polda Maluku Utara (Malut).

“Kami datang untuk memastikan kenapa sudah satu bulan pelaporan tidak ada perkembangan kasus yang dikabarkan kepada keluarga korban. Bahkan satu pelaku yang melarikan diri juga belum ditangkap, jika kalian (Polres Kepsul) tidak mampu kami akan laporkan ke Polda Malut,” kata Irwan Fokatea saat berorasi.

Salima Umalekhoa jatuh pingsan sehingga dipapah anggota Kepolisian Polres Kepsul

Massa aksi yang semakin naik darah karena tidak ditemui Kapolres Kepsul, AKBP Jan W I Makatita, langsung menyatakan sikap akan melanjutkan aksi ke rumah korban yang terletak di Desa Falahu. Jika hal ini terjadi maka masalah akan semakin melebar, sehingga pihak kepolisian langsung memediasi untuk hearing dengan Kapolres AKBP Jan W I Makatita dan Kasat Reskrim AKP Heri Suhendar.

Kapolres Kepsul, AKBP Jan W I Makatita menjelaskan kepada massa aksi bahwa pihaknya tidak mendiamkan perkara dimaksud melainkan Polres sudah bekerja keras. Tidak ditahannya pelaku karena pelaku merupakan anak dibawah umur, dan aturan hukum memperbolehkan pelaku bisa diawasi sebelum penahanan di proses persidangan.

“Kami sudah melakukan penyelidikan dan saat ini sudah di P21 ke Kejaksaan, dan kami tidak membebaskan dua pelaku dibawah umur itu, aturannya mereka tidak boleh ditahan dan seharusnya mereka  ditahanan Rutan PPA, hanya saja itu (Rutan PPA) tidak ada di sini, maka kami kembalikan dan dibawah pengawasan orang tua. Sementara satu orang yang melarikan diri dipastikan besok akan kami tangkap, sebab pelakunya sementara sedang berlayar menuju Kepulauan Sula dan akan tiba besok,” ungkap Jan dalam forum hearing.

Setelah mendengar pernyataan Kapolres, massa aksi kemudian membubarkan diri dengan meninggalkan ruangan serta mengapresiasi kinerja Polres.

“Kami pesankan segera Kepolisian melakukan reka ulang peristiwa agar pelaku-pelaku yang masih tersembunyi bisa terungkap, karena ada pelaku yang lain,” pungkasnya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut