Saksi AGK-YA Mengaku Tak Percaya Polisi

  • Bagikan
Sidang PHP Pilgub Malut di Mahkamah Konstitusi

JAKARTA – Salah satu saksi Paslon Abdul Ghani Kasuba-M Al Yasin Ali (AGK-YA), mengaku tidak percaya dengan aparat kepolisian Polda Maluku Utara (Malut), yang melakukan pengamanan pelaksanaan pleno rekapitulasi Pilgub Malut 2018 di tingkat KPU Kabupaten Pulau Taliabu.

Saksi AGK-YA, Dayan Samiun ini mengatakan, proses pleno rekapitulasi tingkat KPU Pulau Taliabu pada 4 Juli 2018 lalu, dirinya bersama Maarif Ode dipercayakan sebagai saksi mandat AGK-YA, pleno dimulai sekira pukul 09.00 WITA. Selama pleno berlangsung dirinya selalu mendapat ancaman dari Ketua KPU Pulau Taliabu bahkan salah satu temanya harus walk out lebih dulu sebelum proses pleno selesai.

“Ketua KPU sudah marah-marah yang mulia, karena yang diisi sebenarnya pada berita acara di kabupaten itu saudara Maarif, dari awal mulai perhitungan saya sudah diingatkan berulang-ulang kali, saya tidak boleh menandatangani yang mulia, tetapi terakhir karena pleno ini sudah berjalan gadung saudara Maarif dia walk out,” kata Dayan dalam persidangan PHP Pilgub Malut di Mahkamah Konstitusi, Senin (20/8/2018).

Dalam kesaksiannya, Dayan mengaku disandra hingga pukul 03.30 dihari, maka dengan terpaksa harus menandatangani berita acara pleno rekapitulasi yang sudah ditetapkan meski awalnya menolak.

“Saya dipaksa tanda tangan yang mulia, saya disandra kurang lebih jam 04.00 subuh itu, saya tidak bisa kemana-mana lagi, karena teman saya sudah walk out duluan. Jadi tidak ada pilihan lain (menandatangani berita acara) yang mulia, saya sudah pada ketakutan, sudah tidak bisa lagi,” jelasnya.

Majelis hakim Suhartoyo menanyakan Dayan, siapa yang menakut-nakutin dan menyadranya serta membuat laporan keberatan atau tidak. Namun Dayan tidak menjelaskan secara rinci pelaku penyadaan dimaksudanya, bahkan Dayan mengaku dirinya tidak membuat laporan dan mengisi form keberatan karena dianggap tidak mendasar.

“Kerberatan-keberatan tapi tidak diterima yang mulia, tidak diberikan form khusus alasanya tidak mendasar,” singkatnya.

Hakim Sohartoyo kemudian mengakhir pertanyaanya serta mengaku nantinya majelis mahkamah yang menilai pengakuan Dayan.

Penasaran dengan jawaban Dayan, Majelis Hakim Arief Hidayat menanyakan proses plone berlangsung apakah dijaga aparat kepolisian atau tidak, jika dijaga kenapa tidak dilaporkan ke polisi jika merasa diancam. Dengan sigak, Dayan mengaku tidak berani maporkan ke polisi karena tidak percaya pada polisi.

“Saya juga sudah tidak percaya lagi sama polisi yang jaga di situ (pengamanan pleno,” kata Dayan menjawan pertanyan majelis Hakim.

Karena tidak percaya sama polisi, maka dengan terpaksa dirinya harus menandatangani berita acara pleno rekapitulasi di tingkat KPU Pulau Taliabu. Bahkan tidak bedaya karena sudah dinihari masih terus disandra.

“Saya sudah cape (lelah) sampai jam 3 itu yang mulia, saya tidak berdaya lagi yang mulia,” ucapnya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut