Menjaga Kewarasan Dalam Sikap Politik

  • Whatsapp

Sukur Suleman

Ketua LSM Saruma Lestari Institute HalSel

 

Waras menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sehat jasmani dan rohani. Namun yang menjadi bahasan adalah waras  dari aspek rohaninya atau jiwa. Secara sederhana, waras adalah lawan kata dari gila. Gila sering diartikan sebagai ketidakmampuan menangkap realita. Tidak waras artinya kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kenyataan (realita) dan khayalan.

 

WARAS bisa dilihat dari dua sisi, waras secara moral dan waras secara intelektual atau rasional. Secara moral, orang dikatakan waras bila bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Waras secara intelektual artinya bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ini lebih rumit karena kebenaran ilmiah atau pengetahuan tidak selalu transparan, absolute.

Karenanya, untuk maksud tulisan ini kita hanya berbicara tentang menjaga kewarasan moral dalam sikap politik yang merupakan bagian dari tindakan prilaku untuk membedakan mana politik untuk kemanusiann yang senantiasa  bersungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan ummat dan mana yang politik untuk nafsu kuasa.

Kurang lebih 6 bulan kedepan kita memasuki era dimana masyarakat senantiasa disibukkan dengan tahun politik di 2019 mendatang. Momentum ini juga sekaligus menguji kewarasan kita sebagai masyarakat untuk menentukan sikap politiknya.

Sekali lagi kembali pada definisi awal tentang kewarasan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita untuk membedakan yang terbaik dan tidak terbaik, sehingga pada konteks kewarasan ini kita tidak inginkan terjebak seperti yang dikatakan tokoh islam besar kita yakni Imam Al-Gazali yang dalam ungkapannya mengatakan bahwa salah satu tingkatan manusia yang paling rendah ialah ketika dia mengetahui sesuatu itu kebohongan atau buruk tapi dia tetap melakukannya.

Pada konteks ini ketika dikaitkan dengan menjaga kewarasan dalam menentukan sikap politik, dan ketika nalar politik kita tdak tepat dalam bersikap maka bisa jadi kita adalah orang-orang yang termasuk dalam ketidakwarasan itu. Selanjutnya  untuk menjaga kewarasan yang dimaksud, maka paling tidak kita mampuh melihat dan selektif pada situasi poltik yang  ada.

Momentum pemilihan DPD, DPR dan DPRD serta pemelihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 mendatang adalah kesempatan masyarakat untuk mengevaluasi atas kinerja sebelumnya, dan jika dianggab gagal dan lalai, maka salah satu cara untuk menghukuminya adalah dengan tidak memilih kembali. Selanjutnya bahwa Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang selalu memikirkan rakyatnya ketika mereka susah dan selalu punya solusi ketika dia dibutuhkan. (*)

Pos terkait