Peringati Hari Sumpah Pemuda, KNPI Halsel Gelar Dialog Masalah Asusila

  • Bagikan
Suasana Dialog yang digelar KNPI Halsel di Caffe Marimoi21 Desa Tomori

LABUHA – Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2018, DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Halmahera Selatan (Halsel), menggelar diskusi dengan menyoroti maraknya kasus Asusila yang belakang meningkat di Halsel.

Ketua DPD II KNPI Halsel, Husen Alhadar mengatakan bahwa diskusi dalam refleksi Pemuda Tahun ini diangkatnya isu Kasus Asusila karena kasus ini semakin meningkat setiap tahunnya. Di Halsel kasus asusila menjadi hal serius untuk ditangani.

“Kami harap hasil dari diskusi ini akan melahirkan rekomendasi bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan pihak Kepolisian dalam aspek penanganan dan penegakkan hukum dan pencegahan tindakkan asusila di Halsel,” kata Husen kepada wartawan, Senin (29/10/2018).

Diskusi yang dipandu oleh salah satu Pengurus KNPI Halsel, La Jamra Hi Zakaria mengadirkan Pemateri Kepala Kejaksaan Halsel, Cristian Carel Ratuanik, pihak Polres yang diwakili Kapolsek Bacan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Halsel, Udin Umar, LSM Srikandi Sibela, Rusna Ahmad dan Psikolog, Kasman Jaati serta keterwakilan dari OKP yang berada di Halsel.

Foto bersama pengurus KNPI Halsel dan para Pemateri usai Dialog

Dalam diskusi yang berjalan alot tersebut, melihat bahwa faktor-faktor terjadinya tindakan asusila yaitu akibat pergaulan bebas, pengaruh ekonomi, cara berpakaian, sering menonton film porno, pengaruh narkoba dan kurangnya pendidikan.

Udin Umar dari DP3A mengatakan bahwa dari segi bahasa asusila yaitu tidakan yang tidak baik tingkah lakunya, yaitu cabul, perkosaan dan pelecehan seksual. Menurut dia yang memprihatinkan karena kasus asusila tidak hanya orang dewasa yang menjadi korban akan tetapi saat ini anak dibawah umur juga sering menjadi korbannya. Olehnya itu perlu melakukan perlindungan terhadap anak dari kejahatan seksual.

“Harus ada upaya prefentif yang itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah akan tetapi juga tanggung jawab bersama, karena dalam Undang-Undang Anak, setiap anak harus mendapatkan perlindungan. Dan kami dari dinas sudah ada langkah-langkah pencegahan,” tuturnya.

Sementara Kajari Halsel, Kristian Carel Ratuanik menegaskan tidak berkompromi dengan kasus asusila yang ditanganinya. Dirinya akan memberikan sanksi berat bahkan ada yangn mendapat hukuman 20 tahun penjara.

“Tidak ada kompromi kalau soal asusila bagi saya,” tegasnya.

Kasman Jaati, sebagai Psikolog mengatakan bahwa setiap perbuatan asusila harus dilihat penyebab psikologi baik korban maupun pelaku, sehingga dalam pencegahannya bisa meminimalisir bahkan memberantas habis kasus tersebut di Halsel. (PN/Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut