Minyak Tanah di Kepsul Langka, Disperindag Janji Tertibkan Agen Bandel

  • Bagikan
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kepsul, Abdul Rauf Upara

SANANA – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak tanah di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), satu bulan terakhir ini terjadi kelangkaan yang cukup meresahkan warga karena pengecer menjual minyak dengan harga tinggi. Padahal jumlah pangkalan minyak tanah di Kota Sanana per desa lebih dari 5 pangkalan.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kepsul, Abdul Rauf Upara menuturkan pihaknya telah menggelar rapat dengan Pertamina, SPBU, AMT hingga penyalur dan sub penyalur terkait kelangkaan minyak tanah. Baginya, masalah ini sudah menjadi perhatian serius Pemda hanya saja, masih ada pengkalan yang membandel dengan menjual minyak tanah kepada pengecer lainnya kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi.

“Ini permainan di tingkat pengecer, jadi pengecer ini mau mendapatkan minyak murah maka mereka harus membeli di pangkalan dengan harga yang sedikit tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) dengan jumlah banyak, dari pangkalan kalau sudah ditawar dengan harga Rp 5.000 misalnya, maka pasti pangkalan juga mau,” kata Rauf di ruang kerjanya, Senin (5/11/2018).

Pasalnya, lanjut Rauf, pihak pangkalan sendiri selain mencari untung juga mengejar setoran ke AMP sebagai syarat untuk bisa mendapat jatah minyak di bulan depan.

Menurut Rauf jumlah pangkalan di Kota Sanana sudah terlalu banyak, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Harusnya tidak ada lagi pengecer yang menjual minyak tanah subsidi di Sanana.

“Dengan pangkalan yang begini banyak tapi minyak susah sekali, jika kedapatan ada pengecer maka kita akan cari tahu pangkalan mana yang menjual minyak tersebut,” tegasnya.

Jika kedapatan, lanjut Rauf, pihaknya langsung mencabut ijin usaha  pangkalan.

“Kalau masih kedepatan maka resikonya itu dan kita sudah berkordinasi dengan kepolisian,” pungkasnya.

Sementara berdasarkan aturan harga nasional BBM jenis minyak tanah Rp 2.500 per liter. Namun Pemkab menetapkan melalui SK Bupati tentang HET tingkat  penyalur Rp 3.250, kemudian dihitung lagi kos dan sebagainya ditetapkan harga Rp 4.000 per liter untuk pangkalan. Sementara Kondisi yang terjadi saat ini harga mita mencapai Rp 7.000 per liter bahkan lebih. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut