Bupati Benny ‘Rencana Tutup’ Sejumlah Gereja di Morotai

  • Bagikan
Pendeta Konstan Rein Padosa saat melakukan aksi protes terhadap rencana Bupati Benny Laos di depan kantor Bupati Pulau Morotai

DARUBA – Bupati Pulau Morotai, Benny Laos diduga merencanakan tahun 2019 bakal menutup sejumlah gereja dan tidak menginjinkan penambahan bangunan gereja baru di Pulau Morotai dengan dalih banyaknya keberadaan gereja, telah menguras anggaran daerah. Rencana ini mendapat banyak penolakan masyarakat Pulau Morotai sehingga menggelar aksi bersama dengan para ASN menuntut Benny Laos mundur dari jabatanya.

“Sebelumnya Benny Laos mengatakan tahun 2019 gereja – gereja di morotai akan ditutup dan tidak boleh lagi ada pembangunan gereja karena hanya menghabiskan uang daerah,” ungkap Pendeta Konstan Rein Padosa saat menyampaikan orasi di depan Kantor Bupati Pulau Morotai, Rabu (21/11/2018).

Sebagai tokoh agama kristen, Konstan merasa gerah dengan rencana Bupati Pulau Morotai yang disampaikan secara langsung terhadapnya sejak tahun 2017 silam, saat dirinya bertemu dengan Bupati Benny di kediamannya. Konstan juga mengaku merasa terhina dengan perkataan Beny Laos yang mengatakan masuk gereja tidak menjamin masuk surga.

“Masa kata Benny Laos 2019 beberapa gereja akan ditutup dengan alasan menghabiskan anggran daerah,” tegas Kostan.

Sementara, Pendeta Gereja Kristen Protestan Injil Indonesia (GKPII) di Desa Darame, Adnis Iwisara juga mengaku tersingung dengan ucapan Bupati yang melecehkan profesinya sebagai pendeta. Perkaat Bupati didugaan merupakan penistaan yang menjadi musuh Pancasila, musuh rakyat Morotai serta musuh NKRI.

“Olehnya itu saya menolak keras karena telah melecehkan profesi saya sebagai pendeta, Kalau seperti ini ahlaknya hancur, untuk apa pimpin Morotai, pememinpin seperti ini tidak cocok pimpin Morotai, karena ahlaknya hancur. Atas nama Undang-Undang harus dihukum, karena panglima tertinggi kita adalah Undang-Undang,” kata Adnis.

Menurut Adnis, perkataan Bupati Benny dinilai telah melecehkan agama, apalagi gaji pendeta tidak dibebankan kepada Pemerintah melainkan dibayar melalui organisai.

“Jangan ejek profesi sebagai pendeta, kami punya organisasi yang memberikan tunjangan dan gaji kepada kami,  saya pribadi menentang orang ini (Benny Laos),  agama manapun melarang menistakan agama. Mari kita perangi orang ini,” kesal Adnis.

Tokoh Pemuda Pulau Morotai, Taufik Sibua menyayangkan penyataan Benny Laos tersebut karena telah mengarah ke penistaan agama.

“Untuk itu hal  ini akan kami laporkan secara resmi kepada pihak kepolisian, serta meminta kapolres Morotai segera melakukan pemeriksaan terhadap Benny Laos yang telah melakukan penistaan agama,” tegasnya.

Wakil Ketua MUI Pulau Morotai, Hi Abdullah Tohir memastikan bahwa umat Islam dan  Kristen Morotai akan bersatu menjatuhkan Beny Laos, sebab perkataanya dinilai telah menyalahi aturan dan menista agama tertentu.

“Kami tidak terima dengan perkataan Benny Laos yang menurut kami itu adalah penistaan agama,” tambahnya.

Terpisah, Bupati Pulau Morotai Beny Laos dikonfirmasi KabarMalut,  membatah rencana yang disampaikan para pendeta tersebut.

“Tidak pernah ngomong, tapi dibuat isunya. Maklum terkadang pemahaman kan perlu proses, masa sesama agama saya melakukan penistaan,” tandasnya.

Benny mengaku justru saat ini ia sedang melakukan perbaikan banyak gereja dan memastikan bahwa tahun ini ada 55 rumah ibadah yang dituntaskan lewat CSR.

“Jadi tidak bisa pemerintah tutup rumah ibadah,” singkatnya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut