Sula  

Tuntut Naikkan Harga Kopra, Pemkab Kepsul Canangkan Ubah Pengolahan Kelapa

KMPD Kepsul unjuk rasa di depan kantor Bupati Kepsul

SANANA – Komite Mahasiswa  Peduli Demokrasi (KMPD) Kepulauan Sula (Kepsul) kembali melakukan aksi unjuk rasa untuk kedua kalinya terkait anjloknya harga kopra. Aksi berlangsung di depan kantor Bupati dan kantor DPRD  Kepsul menuntut adanya intervensi Pemkab Kepsul untuk segera menaikkan harga kopra di Kepsul.

Riana Umasugi dalam orasinya menyampaikan saat harga kopra turun, harusnya Pemda mengambil langka untuk menaikkan harga kopra lewat intervensi pasar, bukan disaat kodisi mencekam seperti ini Pemda malah mendiskusikan mode baru pengelolaan kelapa yang masih butuh waktu untuk merencanakan.

“Sementara ini kelapa-kelapa para petani atau orang tua kita  yang ada, sudah hampir semuanya bertunas karena tidak dibuat kopra,” kata Riana di depan kantor Bupati Kepsul, Senin (3/12/2018).

Massa aksi saling bergantian menyampaikan orasi berkeinginan bertemu dengan Bupati Kepsul Hendrata Thes untuk meminta tanggapan Pemkab terkait harga kopra yang terus anjlok ini. Namun Bupati Hendrata tidak bisa menemui mereka karena sedang melaksanakan perjalanan dinas luar daerah.

Sekda Kepsul Umar Umabaihi dan beberapa SKPD menemui massa aksi sambil hearing terbuka. Di hadapan para mahasiswa ini, Sekda Umar mengaku Pemkab kini lebih berupaya mendatangkan investor ke Kepsul guna mengubah pola produksi kelapa oleh petani.

“Kami sudah mengambil tindakan  melalui rapat bersama dengan SKPD, dan kami bersepakat untuk menyikapi persoalan kopra dengan mengadakan mesin pembuatan Crude Coconut Oil (CCO) dari kelapa petani kopra tersebut dan kami juga mengarahkan peralihan dari kopra hitam ke kopra putih,” sebut Umar di depan massa aksi.

Pernyataan Sekda sangat disesali, sebab petani kopra menginginkan adanya intervensi pasar agar harga kopra bisa melonjak naik, sehingga kelapa mereka kini sudah nyaris rusak bisa diproduksi. Sebab rencana Pemkab merupakan rencana jangka panjang.

“Kelapa orang tua kami akan busuk jika harus menunggu sampai berbulan-bulan, kenapa Pemda tidak naikkan harga kopra biar kelapa-kelapa yang ada saat ini dikerjakan petani,” keluh Riana.

Masa mengancam, jika 2019 apa yang direncanakan Pemda tidak dilakukan, maka mereka akan kembali mendatangi Pemda. Dilain pihak, masa aksi mengungkapkan derita yang dialami jika begini cara Pemda Kepsul merespon anjloknya harga kopra. (Ajo)

Hak Cipta KabarMalut