Cakades Bajo Kayoa Diduga Gunakan Ijazah Palsu

  • Bagikan
Ijazah Cakdes Ade Yusup yang diduga palsu (foto: Istimewa)

LABUHA – Hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Bajo Kecamatan Kayoa, ternyata  menyisahkan banyak masalah, selain terjadi kecurangan dan money politik dilakukan calon Kades,  juga terdapat penggunaan Ijazah Palsu yang dilakukan salah satu Cakades yakni Ade Yusuf. Calon Kades money politik nomor urut 4 sebagai pemenang suara terbanyak ini, diduga kuat melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen.

Berdasarkan informasi yang himpunan, Cakades Ade Yusuf yang hanya berselisih 12 suara dari Cakades pemenang kedua Sahbudin Alhadad tidak memiliki ijazah SD namun hanya mengantongi surat Tanda Lulus dari Madrasah Diniyah Awwaliyah Ternate pada tanggal 15 September 1976, yang notabene masuk katagori pendidikan non formal, sebab hanya jenjangnya 4 tahun. Tapi dijadikan sebagai dasar untuk mendapatkan Ijazah paket B.

Kejanggalan lain terdapat pada penulisan nama dan tempat tanggal lahir terlihat ada tanda Tipex kemudian difoto copy dan diganti.

Anehnya surat tanda lulus tersebut ditandatangani oleh Ketua Panitia ujian Ali Assagaf dan Sekretaris Salahudin Marzuki, kemudian disahkan oleh Yayasan Alkhairat Cabang Ternate pada tanggal 11 September 2017 oleh Drs Rusdi A Rahman sebagai bukti untuk disampaikan ke Panitia Pilkades.

Sedangkan untuk Ijazah paket B dimiliki Ade Yusup pada tahun 2013 lalu di Kota Tidore berdasarkan surat tanda lulus dari Yayasan Alkhairat. Hal ini dibenarkan Mustafa Albaar tokoh masyatakat Desa Bajo yang juga teman dekat Cakades Ade Yusuf.

Menurut Mustafa selama ini Ade Yusuf tidak pernah sekolah di SD dan memiliki Ijazah. Terkait dengan surat tanda lulus dari Yayasan Alkhairat Ternate, bukan ijazah melainkan semacam sertifikat karena Madrasah Diniyah Awwaliyah yang sempat dia dan Cakades belajar itu bukan masuk katagori pendidikan formal namun informal semacam kursus belajar pendidikan agama.

“Jadi waktu itu torang (kami) sudah sekolah di SD,  tapi masuk ke Madrasah itu hanya pelajari pendidikan agama, kalau sekarang ini Madin jadi bukan sekolah,” tutur Mustafa kepada wartawan, Senin (3/12/2018).

Karena itu dirinya juga heran terhadap Ade Yusup yang mengunakan surat dari yayasan Alkhairat itu sebagai jaminan mendapatkan Ijazah paket B.

“Saya juga heran biasanya kalau mau ikut ujian paket B, itu syaratnya harus ada Ijazah paket A, sementara yang bersangkutan tidak miliki Ijazah SD,” ujarnya.

Menangapi hal ini Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel),  Bustamin Soleman saat dikonfirmasi mengaku adanya laporan kasus tersebut hanya saja masalah ini masuk pada ranah Pidana dan harus dilaporkan ke aparat penegak hukum.

“Ada laporan tapi untuk dugaan pemalsuan Ijazah itu masuk unsur pidana jadi dilaporkan ke aparat penegak hokum,” pangkasnya.

Ade Yusuf sendiri hingga berita ini naik tayang belum bisa dikonfirmasi terkait dugaan tersebut. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut