BKSDA Maluku Lepasliarkan 51 Burung Endemik Hasil Sitaan

  • Bagikan
Burung kaka tua putih saat dilepasliarkan

TERNATE – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku melepasliarkan sebanyak 51 ekor burung endemik Maluku Utara (Malut) hasil sitaan penegakan hukum di Malut.

Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi menurutkan burung yang dilapasliarkan terdiri dari 22 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba), 15 ekor Kasturi Ternate (Lonus garrulus), 6 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus) dan 8 ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata). Semuanya merupakan hasil sitaan penegakan hokum, tangkapan hasil Polisi Kehutanan Seksi Wilayah I Maluku, dan penyerahan secara suka rela dari masyarakat.

“Mudah-mudahan burung ini bisa sampai ke habitatnya sehingga tidak ada lagi burung yang kita pelihara di kandang kami. Sebelum dilepas, burung tersebut kita disehatkan atau dirawat lebih dulu,” kata Muhktar kepada wartawan di Bukit Tanah Putih Kecamatan Jailolo Selatan, Halmahera Barat (Halbar), Selasa (4/12/2018).

Burung endemik Malut Utara sebelum dilepasliarkan

Mukhtar mengaku Malut masih tergolong rawan penyeludupan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), baik dalam negeri maupun ke luar negeri. Bahkan BKSDA Maluku sendiri mencatat terdapat dua kasus penyeludupan satwa endemik Malut ke luar negeri.

“Kita ada beberapa kasus yang kita tangani yang hendak diseludupkan ke Filipina melalui Bitung-Davao, motif biasanya mereka (pelaku) memerintahkan atau menugaskan penduduk desa mengambil burung kemudian dikumpulkan satu tempat kemudian diangkut menggunakan kapal, burungnya itu berbeda,” jelasnya.

Burung yang hendak diseludupkan, biasnya diisi di dalam kandang, pipa paralon bahkan dalam botol bekas air mineral. Sebagai provinsi kepulauan, Malut memiliki banyak pelabuhan tak resmi dimanfaatkan penyeludup.

“Paling panyak aksesnya jalur laut karena aksesnya sangat terbuka sekali, di laut banyak jalur tikus yang tidak melalui pelabuhan-pelabuhan resmi. Sangat sulit bagi kami mereka bertransaksi di tengah laut, karena mereka mempelajari keberadaan petugas terlebih dahulu,” jelasnya.

Untuk tahun 2018 BKSDA menangani 72 kasus tangkapan dan mengamankan 1.100 ekor burung paruh bengkok, sekitar 85 persen telah dilepasliarkan ke habitatnya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut