Bentrok Dengan Polisi, Satu Massa Aksi Pingsan

  • Bagikan
Bentrok Polisi dengan massa akdi dari KMMB

DARUBA – Aksi protes terhadap kebijakan Bupati Pulau Morotai, Beny Laos berujung bentrok, massa aksi dihalau aparat kepolisian untuk bertemu dan melakukan hearing dengan anggota DPRD setempat.

Salah satu massa aksi dari Koalisi Masyarakat Morotai Bersatu (KMMB) bernama Haekal Samlan, menjadi korban dugaan penganiayaan oleh oknum polisi. Haekal saat unjuk rasa berada di kompleks kantor DPRD Morotai.

Dari data yang dihimpun, tak hanya Haekal yang menjadi korban, polisi juga ikut merusaki sound system milik pendemo. Terdapat dua titik massa aksi berkumpul saat demo menuntut penggulingan Bupati Benny Laos dari jabatannya.

Pertama massa aksi yang berada di dalam lokasi kantor DPRD, kedua massa aksi yang berada di depan kediaman Bupati yang jaraknya hanya sekira 30 meter dari kantor DPRD Pulau Morotai. Saat terjadi bentrok di jalan masuk kediaman Bupati antara pihak kepolisian dengan pendemo. Ternyata, di lokasi kantor DPRD juga terjadi perang mulut antara puluhan emak-emak dengan polisi.

Ketika itu, Haekal yang berada di dalam lokasi kantor DPRD itu keluar di jalan Raya. Salah satu oknum polisi Polres Morotai langsung mendatangainya dari belakang dan menghujamkan kepalan tangan di belakang lehernya. Akibatnya, Haekal langsung jatuh tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri.

“Dia (Haekal) keluar ke jalan, tiba tiba salah satu polisi dari belakang dan langsung pukul di panta talinga, ekal langsung jatuh di aspal,” ucap salah satu saksi mata.

Salah satu massa aksi menjadi korban dugaan penganiayaan oknum polisi

Melihat dipukuli, para pendemo tidak terima sehingga pendemo nyaris bentrok dengan polisi sembari mengeluarkan kata cacian dan makian terhadap aparat kepolisian. Haekal langsung dibawah ke RSUD untuk perawatan.

Sementara bentrokan di jalan masuk kantor DPRD itu dipicu karena aparat kepolisian melarang pendemo mendekati gedung DPRD untuk mendengar sikap DPRD terkait hak angket. Massa yang terus memaksa sempat saling dorong dengan polisi dan bentrokan fisik pun tak terhindarkan.

Disaat itu juga, polisi langsung menembakkan gas air mata ke pendemo. Sehingga, massa langsung lari berhamburan.

Sekretaris KMMB Fandi Latief menegaskan tindakan represif polisi dengan melakukan penganiayaan kepada massa serta menembakkan gas air mata di kerumunan massa yang jaraknya sangat dekat. KMMB meminta Kapolres harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan jajaranya.

“Kapolres Morotai harus bertanggungjawab, karena pendemo diperlakukan seperti binatang, kami mendesak agar Kapolda Malut segera copot Kapolres,” desak Fandi.

Menurutnya, tindakan Kapolres Pulau Morotai dalam penanganan aksi tidak sesuai dengan standar operasi yang berlaku. Misalnya, pemukulan semena-mena terhadap Haekal hingga pingsan, penembakan gas air mata langsung kepada pendemo dengan jarak dekat.

“Selain copot Kapolres, oknum polisi yang melakukan pemukulan juga harus diproses secara hukum, untuk itu kami akan rembuk dulu baru ditindaklanjuti untuk proses hukumnya, kami juga minta Komnas HAM segera turun tangan,” pinta Fandi.

Padahal, kata Fandi, tidak ada bentrokan jika polisi mengizinkan para pendemo mendekati kantor DPRD. Sebab, antara pendemo dan pihak DPRD juga sudah bersepakat agar hearing berlangsung dihadiri massa aksi.

Polisi memembakkan gas air mata untuk membubarkan massa aksi saat

Terpisah Kapolres Morotai, AKBP Mikael Sitanggang saat dikonfirmasi terkait persoalan yang dimaksud melalui pesan Watshaab menyatakan hal tersebut terjadi karena adanya pemaksaan dari massa yang mau masuk (di komando oleh korlap) ke gedung dewan yang sementara  diamankan oleh anggotanya.

“Anggota tidak akan melakukan tindakan berlebihan apabila dari massa Unras tidak memulai,” terangnya.

Terkait satu massa aksi yang diduga dianiaya hingga pingsan, Mikael membantah adanya tindakan penganiayaan tersebut. Menurutnya, korban pingsan tersebut hanya tekena dorongan saat saling dorong dengan massa aksi.

“Yang bersangkutan (Haekal) mungkin terkena dorongan dari anggota. Saat ini mungkin juga yang bersangkutan tidak apa-apa dan bergabung lagi dengan teman-temannya,” singkat Kapolres. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut