Genjot Ekonomi Petani Kelapa, HKTI Siap Datangkan Alat Produksi Virgin Kokorid Oil ke Halbar

  • Bagikan
Ketum DPP HKTI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko didampingi Ketua DPD Malut, Danny Missy saat diwancara awak media (Foto: Surahman/KabarMalut)

JAILOLO – Harga kopra di Maluku Utara (Malut), anjlok dan masih dikeluhkan para petani kelapa khusunya di Halmahera Barat (Halbar). Untuk menggenjot ekonomi para petani kelapa Malut, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bakal menghadirkan alat produksi Virgin Kokorid Oil ke Halbar, agar bisa menambah pendapatan petani kelapa.

Ketua Umum DPP HKTI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko meminta masyarakat Malut khususnya petani kelapa, untuk tidak lagi memikirkan harga Kopra. Sebab hasil dari kelapa bisa difungsikan untuk produk lain yang nilainya atau harganya jauh lebih tinggi dibandingkan Kopra.

“Jadi hasil diskusi saya dengan Bupati Halbar hari ini, perlu dipikirkan masyarakat tidak lagi berpikir menanam Kopra. Tetapi ada sebuah produk yang bagus dari buah kelapa yang harganya bagus, cukup lumayan namanya Virgin Kokorid Oil,” kata Moeldoko kepada sejumlah wartawan usai pelantikan Bupati Halbar Danny Missy sebagai Ketua DPD HKTI Malut, Kamis (24/1/2019).

Kepala Staf Kepresidenan RI ini, mengaku pihaknya akan mendatangkan alat produk tersebut ke Malut khususnya Halbar. Agar produk Virgin Kokorid Oil bisa dijadikan produk andalan Malut.

“Alat teknologinya saya akan bawa ke sini (Halbar) dan itu janji saya dan hal tersebut sudah dibicarakan saya dengan Bupati Halbar,” ujarnya.

Disentil mata rantai pencaharian masyarakat Halbar adalah petani kopra dan jika hal tersebut ditinggalkan begitu saja, bisa berdampak untuk ekonomi masyarakat, Moeldoko mengaku produk kopra tidak serta merta ditinggalkan, tetapi masyarakat harus diberikan pilihan. Sebab jika kelaba dijadikan produk Virgin Kokorid Oil, maka sudah tentu harganya lebih tinggi dari kopra.

“Pilihan-pilihan masyarakat yang harus diambil untuk bisa memengaruhi pendapatan. Namun masyarakat yang sudah fanatik dengan kopra silahkan, tetapi jika ingin menjadikan pengelolaan kepala ini menjadi produk unggul dan kebutuhan luar negeri lebih tinggi,” akunya..

Lanjutkan, hanya saja para petani ini belum langsung mengelola produk tersebut, tetapi masih ada perbaikan dan bukan secara otomatis. Karena bagi petani harus dilihat baru percaya.

“Caranya begini nanti petani diubah pelan-pelan, kemudian ada pilihan baru yang menguntungkan baru akan dia memilh produk-produk yang ada,”pungkasnya. (Nan/Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut