Pasien DBD RSUD Ternate Meningkat 50 Persen

  • Bagikan
Pasien balita dan anak-anak di RSUD dr H Chasan Boesoirie Ternate yang didiagnosa mengidap DBD (Foto: Yunita/KabarMalut)

TERNATE – Pasien penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUD dr H Chasan Boesoirie Ternate, selama 2019 meningkat dratis. Pihak RSUD Chasan Boesoirie mencatat data penderita pasien kini mencapai 35 pasien, jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 maka meningkat mencapai 50 persen.

Dokter Spesialis Anak RSUD dr H Chasan Boesoirie Ternate, Husain Assagaf menyebutkan jumlah pasien yang dirawat saat ini 35 pasien untuk diagnosa DBD. 15 diantanya dinyatakan postif, sisahnya belum diagnosa melainkan telah mengalami gejala yang sama.

“Kalau bicara positif harus ada pemeriksaan yang namanya anti Dengue IgM dan anti Dengue IgG, tapi kami pakai untuk  positiv diagnosis berdasarkan BHO saja, jadi promosiknya turun itu sekitar 15 orang hampir itu demam berdarah,” kata Husain kepada wartawan di RSUD Ternate, Rabu (13/2/2019).

Dokter spesialis Anak RSUD dr H Chasan Boesoirie Ternate, Husain Assagaf saat di wawancarai (Foto: Yunita/KabarMalut)

Menurutnya, usia pasien yang rentan terkena DBD hampir rata-rata diatas umur 1 tahun. Sementara bayi yang usia dibawah dari 6 bulan, sulit terkena DBD karena ada proses imunologis.

“Kalau diatas itu rata-rata bisa orang dewasa juga pasti ada,” jelasnya.

Masyarakat sudah mengetahui informasi tentang DBD, sehingga jadi anak yang baru terkena DBD langsung dibawah ke rumah sakit dan langsung ditangani pencegahan serta pengobata pasien. Jika terlambat datang atau kondisi pasien sudah kumat bisa mengakibatkai korban meniggal dunia.

“Biasanya baru awal-awal demam, jadi kami deteksinya semakin lebih mudah sehingga komplikasi yang terjadi itu minimal. Masyarkat yang paham dan tahu serta khawatir tentang DBD dia akan datang lebih awal bisa cepat kami antisipasi,” cetusnya.

Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab, apabila tidak tertangani dengan baik, DBD dapat menyebabkan kematian. Faktor lingkungan paling mempengaruhi, sebab masih banyak masyarakat belum memiliki kesadaran untuk memperhatikan kondisi sekitar rumah.

“Nyamuk Aedes Aegypti ini kan berkembang biak di air bersih yang tergenang, lingkungan rumah yang banyak nyamuk tak mesti kumuh. Bisa saja dia bersih, tetapi banyak barang yang menampung air jernih di dalamnya, seperti bak mandi, penampung tumpahan air di dispenser, vas bunga yang menggunakan air, ban bekas, kemudian wadah-wadah yang tak sengaja menampung air hujan di pekarangan,” terangnya.

Husain member tips upaya pencegahan DBD yang harus dilakukan, diantaranya mengaktifkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dengan kegiatan 3M+. Tindakan 3M+ dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan menutup semua tampungan air atau sumber air, menguras bak mandi, dan mendaur ulang barang bekas untuk mengurangi peluang

“Plusnya (3M+) menggunakan ikan pemakan jentik. Jadi apabila di dalam rumah ada tanaman berisikan air, nah air itu juga bisa menjadi tempat berkembang biak jentik nyamuk penyebab demam berdarah. Sebaiknya di sana ada ikan pemakan jentik nyamuk,” pungkasnya. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut