Bakal Bangun Smelter Senilai US$ 650 Juta, Harita Nickel Butuh 2.000 Pekerja Baru

  • Bagikan
Salah satu smelter milik Harita Nickel yang sudah produksi feronikel di Halsel (Foto: Narjo/KabarMalut)

LABUHA – Harita Nickel yang terdiri dari PT Trimegah Bangun Persada, PT Gane Permai Sentosa dan PT Megah Surya Pertiwi telah menyiapkan lahan seluas 80 hektar untuk membangun smelter baru dengan menyiapkan investasi sebesar US$ 650 juta.

Smelter baru ini akan bisa memproses Ore Nickel dengan kadar rendah yang selama ini tidak bisa dimanfaatkan oleh smelter di Indonesia. Smelter baru ini akan menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai produk akhirnya.

Management perusahaan sangat berharap dengan datangnya investasi baru ini juga akan membawa pengembangan bagi pembangunan daerah baik dalam bentuk pajak dan juga dalam bentuk resapan tenaga kerja di Maluku Utara (Malut) dan khususnya Halmahera Selatan (Halsel). Diharapkan dengan adanya smelter baru ini akan menciptakan kurang lebih 2.000 pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.

“Kami di Harita memperkejakan kurang lebih sekitar 1.600 pekerja TKI di tambang, sekitar 2.000 pekerja TKI di Pabrik dan sekitar 280 TKA dari China yang bekerja di Pabrik,” Deputy Head Exrel dan CSR Harita Nickel, Alexander Lieman kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Alexander mengaku, beberapa TKA yang ada di pabrik diperuntukan bukan hanya untuk operasional mesin, tapi juga untuk melatih TKI dalam proses transfer teknologi. Karena mesin dan teknologi dari China pelatihan dan transfer teknologi menjadi sebuah bagian penting dalam pekerjaan di Smelter.

“Untuk memastikan proses ini berjalan dengan baik, Harita juga sudah pernah mengirim 242 Tenaga Kerja Indonesia ke China untuk belajar di sana untuk beberapa bulan. Dari 242 Anak Bangsa ini, 177 adalah putra daerah, dimana sisanya adalah siswa-siswa terbaik yang diambil dari Surabaya, Jakarta, Malang dan Ambon,” jelasnya.

Sementara itu, Manager Mine Environment Harita Nickel, Primus Priyanto mengaku Harita Nickel tetap berkomitment dalam melakukan praktik-praktik penambangan yang baik dan bertanggung jawab. Dari segi manajemen lingkungan, untuk memastikan implikasi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh tercampurnya tanah pertambangan dan air hujan, Harita telah mempersiapkan Sediment Pond (Kolam sedimen) yang bertugas untuk menjadi penyaring air sebelum masuk ke laut.

“Kami pastikan kalau area tambang kita mempunyai saluran penangkapan air yang terarah, agar bila hujan datang, air yang tercampur dengan tanah bisa tersalur dengan baik ke sediment pond, disaring dahulu, lalu baru disalurkan ke laut,” jelasnya.

Dengan Sediment Pond inipun, lanjut Primus, juga menetralisir unsur tanah yang terbawa air hujan. Membiarkan laut tetapi biru. Salah satu tanggung jawab perusahaan tambang jugalah untuk menimbun dan menanam ulang area bekas tambang bila sudah selesai.

“Komitmen Harita Nickel inipun juga sudah jelas dilaksanakan dengan baik dimana dari 296.67 Ha yang sudah ditambang, 113 Ha masih aktif ditambang, 181.74 Ha sudah direklamasi kembali dan sisanya sedang dalam proses penanaman,” kata Primus.

Untuk menjaga kualitas dan keberhasilan proyek reklamasi ini, Harita Nickel mempersiapkan area pembibitan yang dikontrol dengan baik untuk memastikan dan menjaga keendemikan jenis tanaman yang ditanam ulang dan juga ketahanan bibit saat sudah ditanam di alam liar. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut