Diduga Stres Anak Meninggal, Seorang Warga Toloko Gorok Leher Sendiri untuk Ahiri Hidup

  • Whatsapp
Korban bunuh diri yang diduga stres (Foto: Yasim/KabarMalut)

TERNATE – Seorang warga lingkunag Toloko Kelurahan Sangaji Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate Provinsi Maluku Utara, sekira pukul 18:00 WIT mengakhiri hidupnya dengan cara menggorok lehernya sendiri. Korban bernama Mardan Badarudin (32) warga RT 03/RW 02, diduga stres akibat anaknya meninggal dunia 11 lalu.

Menurut saksi yang merupakan Isteri korban Raina La Anta mengatakan, sekira pukul 16:15 WIT dirinya bersama korban sedang menonton TV di dalam rumah. Tiba-tiba korban keluar dan meminta izin pergi ke kuburan orang tua dan anaknya untuk membersihkan kuburan.

Muat Lebih

“Sekitar Pukul 18.00 WIT almarhum (korban) manggil saya, tetapi saya tidak mendengar karena suara panggilan tidak jelas,” kata Raina kepada KabarMalut, Jumat (5/7/2019).

Mendengar panggilan, Raina langsung keluar dari rumah,  namun melihat suaminya tersebut sudah bersimbah darah sambil memegang leher yang sudah berlumuran darah. Raina kemudian berteriak meminta pertolong kepada masyarakat setempat.

“Dibantu masyarakat, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Islam Bina Warga Ternate dengan menggunakan sebuah mobil untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun dalam perjalanan korban sudah menghembuskan nafas terakhir (meninggal dunia),” ucapnya.

Kapolsek Ternate Utara, IPTU Ambo Wellang mengatakan korban diduga stres karena anak buksunya baru saja meninggal dunia 11 hari lalu.

“Menurut keterangan tetangga rumah korban, korbansering duduk melamun serta memutar video anaknya,” kata Ambo.

Sementara hasil pemeriksaan dokter terhadap luka korban, ditemuka luka irisan di leher bagian kiri sepanjang 4 cm dan luka irisan leher bagian kanan sepanjang 8 cm. Tim Medis RS Islam kemudian melakukan tindakan medis dengan cara menjahit luka di leher korban pada bagian kiri sebanyak 3 jahitan dan di leher bagian kanan sebanyak 9 jahitan.

“Dari pihak kepolisian mau melakukan otopsi terhadap korban, hanya saja keluarga korban tidak mau dengan alasan menganggap sebagai musibah,” pungkasnya. (Ajo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *