Kepsek SMPN 6 Halsel Beberkan Kronologi Pemukulan Siswa 

  • Bagikan
SMP N 6 Halmahera Selatan (Foto: Bud/KabarMalut)

LABUHA – Kejadian pemukulan terhadap salah satu siswa SMP Negeri 6 Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) berinisial RBT (14) yang dilakukan oknum guru berinisial MTU pada Kamis (25/7) pekan kemarin, dibenarkan oleh Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 6 Halsel, Mardiana Danunani. MTU merupakan wali kelas RBT di Kelas VIII.

Mardian Danunani menjelaskan kronologis pemukulan yang dilakukan MTU terhadap siswa RBT itu berawal ketika jam istirahat mata pelajaran. Saat itu, RBT makan di kantin sekolah bersama salah satu temannya, belum sempat menghabiskan makanannya ketika jam istirahat berakhir.

“Para siswa diminta masuk kembali ke kelas masing-masing. Namun pada saat itu, RBT masih berada di kantin menikmati makanan yang dipesan bersama temannya,” ungkap Mardiana kepada KabarMalut di ruang kerjanya, Selasa (30/7/2019).

Karena jam istirahat sudah berakhir dan proses belajar mengajar pun dimulai serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah berada di kelas untuk melakukan proses belajar. Namun RBT dan temannya masih berada di kantin menghabiskan makanan sebelum bergegas masuk di kelas.

“Merasa masih banyak siswa yang berada di luar kelas, Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia melaporkan kepada MTU yang merupakan Wali Kelas VIII,” jelasnya.

MTU kemudian mencari siswanya yang masih berkeliaran di luar kelas, tak lama berselang MTU menemukan enam siswa dan diminta masuk ke kelas. Sedang RBT dan temannya masih berada di kantin.

“Pada saat mereka selesai makan dan balik ke kelas Pak Taufik (MTU) sudah menunggu di depan kelas. Pokoknya Pak Taufik sudah marah begitu,” terangnya.

Dirinya meminta kepada MTU dan dewan guru SMPN 6 agar tidak mempermasalahkan kejadian pemukulan yang dilakukan MTU kepada RBT sampai mengalami luka lebam dibagian betis dan pantat. Apalagi saat ini sudah ada undang-undang perlindungan anak. Mardiana juga, mengaku tindakan pemukulan yang dilakukan MTU sudah melewati batas.

“Terus dia (MTU) juga mengaku. Jadi kita tidak usah mempermasalahkan. Saya sudah lihat kondisi anak itu mengalami lebam. Jangan sampai teman kita ini kena (proses hukum),” sebut Mardiana.

Dirinya juga mengaku pihaknya sekolah dan keluarga siswa RBT menempuh jalur damai secara kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah ini.

“Mereka mau damai. Mereka mau penyelesaian, tidak ada masalah,” pungkas Mardiana.

Sebelumnya, MTU dilaporkan orang tua murid atas perkara dugaan penganiayaan terhadap RBT ke Polres Halsel dengan Laporan Polisi nomor : LP-B/ 43 /VII/2019/SPKT tertanggal 28 Juli 2019. Pihak Polres sendiri saat ini telah mempersiapkan surat perintah (Sprin) pemeriksaan terhadap oknum guru MTU. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut