Honor Belum Dibayar, Penari Kolosal Datangi Mabes Benny-Asrun

  • Whatsapp
Peserta Penari Kolosal ketika mendatangi Mabes Benny-Asrun (Foto: Fizri/KabarMalut)

DARUBA – Pegelaran Musik Bambu Tada pada Festival Morotai 2019 berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) bahkan rekor dunia dengan melibatkan sebanyak 2.124 pemain. Namun kesuksesan ini meninggalkan masalah, karena hak sejumlah peserta hingga kini dibayar oleh pihak panitia penyelenggara.

Puluhan warga yang tergabung dari peserta penari kolosal pada Festival Morotai 2019, sekira pukul 09:00 WIT mendatangi Markas Besar (Mabes) Benny-Asrun di Desa Yayasan, Jumat (9/8/2019). Kedatangan warga berasal dari empat desa yakni Desa Pangeo, Loleo, Gorugo dan Toara, untuk menemui Bupati Morotai Benny menuntut honor yang sudah dijanjikan pihak panitia penyelenggara.

Muat Lebih

Koordinator Penari Kolosal dari Desa Pangeo, Jufri Kurung saat diwawancarai menyampikan kekesalannya kepada pihak panitia. Dimana sebelumnya Panitia yakni Kepala Dinas Pariwisata dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, telah menjanjikan bakal memberikan uang saku untuk pengembalian biaya tranportasi. Namun hingga acara Festival Morotai selesai, tidak dibayar panitia.

“Saya sudah bertemu dengan ibu Kadispar dan dirinya mengaku bahwa anggaran ada, tapi masuk di Perubahan anggaran. Jadi kalau bisa ditanyakan ke Kadis DPMD dengan nilai Rp 250 ribu yang dipotong Rp 100 ribu untuk uang nginap di rumah warga,” jelasnya.

Meski Panitia Penyelenggara tidak menentukan waktu pembayaran uang saku para peserta, tetapi dijanjikan usai pelaksanaan acara langsung dibayarakan.

“Memang tidak dijanjikan kapan uang sakunya diberikan, tapi yang pasti setelah kegiatan selesai pasti langsung dibayar,” tambahnya.

Jufri berharap Bupati Benny Loas menemui para warga dan menyampaikan terkait kejelasan janji panitia, sehingga para penari bisa kembali lagi ke desa masing-masing.

Ketua Umum Panitia Festival Morotai 2019, Muhammad M Kharie ketika dikonfirmasi via telepon dan pesan whatshaap terkait persoalan tersebut, tidak memberikan komentar. Begitu juga Kepala Dinas Pariwisata Pulau Morotai, Nona Duwila. (Ajo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *