Appreciate Kawasan Rancang-Bangun Kota Bacan

  • Whatsapp

Rosydan Arby Samad, M. Eng

Pengamat Tata Ruang Kota dan Daerah

Muat Lebih

Teringat kalimat Homer Hoyt (dalam Yunus, 1991), dinyatakan bahwa perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam suatu kota, berangsur-angsur menghasilkan kembali karakter yang dipunyai oleh sektor-sektor yang sama terlebih dahulu. Inilah yang sementara dilaksanakan pembangunan kawasan ekonomi terpadu di Kota Bacan.

SEBAGAI orang yang pernah mengamati, saya merasa ada gebrakan baru yang dihadirkan oleh Pemerintah Kabupaten yang merenacanakan tata ruang kotanya tidak kalah dengan kota-kota administratif lainnya di Maluku utara. Terhitung 4 kali menginjakkan kaki ke Bacan dan merasakan ada roh pembangunan yang akan menjadi daya tarik, inilah yang disebut sebagai the city of sustainable development (pembangunan kota yang berkelanjutan).

Walaupun skalanya adalah Kabupaten, tapi tata ruang kota ini dikonsepkan dengan sistem centrifugal (pengembangan sektor di luar titik pusat).

Sepanjang jalan pantai yang tertata dengan ruas jalan yang mengikuti pola teknis yang mempunyai standar yang baik. Ada juga desain pembangunan pasar tradisional yang terpadu dengan koneksi dari pusat aktivitas pemerintahan dan ruang-ruang industrialisasi lainnya (tinggal dilaksanakan penertiban dan tempat-tempat sampah yang memadai agar tidak terlihat kumuh).

Selain itu, konsep jaringan jalan sudah hampir memenuhi syarat kebutuhan standarisasi kota (konsep dua jalur terarah).

Teringat ketika saya berkunjung di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, kota yang secara administratifnya adalah Kabupaten tetapi mampu untuk menunjukan kepiawaiannya untuk menghidupkan sektor industri dengan pengembangan kawasan terpadu, sehingga dikenal sebagai pusat dari kerajinan batik di Indonesia, yang kebutulan sudah diakui oleh UNESCO.

Bacan sebagai pusat kota Kabupaten Halmahera Selatan, kini mampu merencanakan kota yang menghadirkan rencana kawasan yang konsepnya ialah membangun dari pesisir laut. Secara arsitektural, kota dengan potensi kepulauan harus menampilkan wajah kota pulau dengan desain kota di semenanjung pantai (water Front City), tapi tak harus mengabaiakan ruang ekologinya. Saya yakin, para perencana punya studi kasus untuk merencanakannya.

Harapan saya, konsep yang sudah baik ini harus dituntaskan. Secara makro, recovery dermaga (Pelabuhan Kupal) di Pulau Bacan menjadi garis imajener jalur perdagangan antara pulau, agar Kota Bacan menjadi epicentrum penyalur suplay kebutuhan dagang di pulau-pulau di Halmahera Selatan.

Terakhir saya ingin menyampaikan, Kota Bacan ialah salah satu kota kesultanan di Maluku utara, kota yang harus menunjukan eksistensinya sebagai wajah kota pulau yang plural untuk menjadi salah satu kota dengan  wajah identitas daerah Maluku utara.

Selamat menjadi masyarakat kota kedepan dan jangan inkonsisten untuk tetap membangun citra Kota Bacan kedepan. (*)

Pos terkait