Tenaga Medis dan Fasilitas Untuk HIV/AIDS di Halsel Minim

  • Bagikan
Pelatihan pelayanan penderita HIV/AIDS (Foto: Dahbudin/KabarMalut)

LABUHA – Penderita HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) serta banyak orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang ditemukan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) belum bisa dilayani sampai dengan pengobatan karena keterbatasan tenaga medis dan belum langkapnya fasilitas pelayanan.

Hal ini diungkap dalam kegiatan pelatihan layanan HIV/AIDS oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) yang melibatkan peserta dari 33 Puskesmas dan tiga rumah sakit, Senin (9/12/2019).

Dinkes mencatat pada Januari  sampai  November 2019 jumlah penderita yang datang ke layanan berjumlah 32 kasus reaktif dengan total yang meninggal dunia 7 orang dan dirujuk ARV 5 orang.

“Tentang hal ini merupakan hal yang serius,” ungkap Pengelola Program Penyakit Menular, Asdiana Saibi.

Menurut Asdiana, telah dilakukan identifikasi bahwa masih terjadi miss opprtunity kebutuhan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan peningkatan akses dan kualitas, sehingga pihaknya melakukan intervensi dalam suatu jejaring yang terintegrasi dan berkaitan satu dengan lainnya.

Dirinya mengaku, sejauh ini masih terkotak-kotak antara satu layanan HIV dengan layanan HIV lainnya dan kadang sulit disambungkan, sehingga perlu diperkuat dan didekatkan akses layanan ke masyarakat melalui layanan komprehenshif berkesenambungan (KLB) Kabupaten dan Kota.

Menurutnya, pelayanan HIV/AIDS dan IMS KLB  bukan merupakan suatu konsep yang baru. Konsep layanan seperti ini telah diinisiasi olah Kemenkes melalui layanan IMS.

“Pencegahan adaptasi dan operasionalisasi kerangka kerja LKB di tingkat kabupatan dan kota,” terangnya.

Dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Halsel lebih meningkatkan akses dan cakupan terhadap upaya promosi pencegahan dan pengobatan HIV/IMS, serta rehabilitasi yang berkualitas dengan memperluas jejaring layanan hingga ke tingkat Puskesmas, termasuk layanan untuk populasi kunci dan meningkatkan pengetahuan dan rasa tanggung jawab.

“Memperbaiki dampak pengobatan anteretoviral dengan mengadaptasi prinsip treatment,” pungaksnya.  (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut