Sekertaris IKT Pulau Morotai Dikeroyok Sejumlah Oknum Polisi

  • Bagikan
Sekretaris IKT Pulau Morotai, Jamaludin yang diduga menjadi korban pemukulan oknum Polisi (Foto: Istimewa)

DARUBA – Sekretaris Ikatan Keluarga Tidore (IKT) Kabupaten Pulau Morotai, Jamaludin menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum Polisi bertugas di Polres Pulau Morotai. Oknum Polisi  pelaku utama pengeroyokan juga diduga telah dipengaruhi minuman keras.

Aksi bak preman ini rupanya berlangsung di kantor Polres Pulau Morotai pada Rabu (25/12/2019) dini hari,  dan mengakibatkan korban mengalami sejumlah luka robek di kepala dan luka lebam pada sekujur tubuhnya.

Informasi yang dihimpun KabarMalut, berawal sekira pukul 01:00 WIT korban mendapat telepon dari sepupunya bernama Dadi yang sedang berkerja pada pembangunan Gedung Oikumene didatangi empat orang tak dikenal (OTK), satu diantaranya belakangan baru diketahui merupakan oknum Polisi yakni Bripda Fahri, sudah dalam keadaan mabuk mengancam dan memukul diri bersama para pekerja dan membuat onar.

Mendengar hal itu, Jamaludin bersama istrinya Sri Wahyuni langsung menuju lokasi kejadian, sesampainya di lokasi Jamaludin menemui Dadi dan mencoba melerai penganiayaan yang sudah sempat terjadi pada korban lain. Namun upaya Jamaludin tak diterima Bripda Fahri yang sudah mabuk itu, sehingga kembali menganiaya Jamaludin.

Sebagai bentuk membela diri, Jamaludin pun balik memukul Bripda Fahri karena tidak mengatahui dia (Bripda Fahri) merupakan oknum anggota Polisi sehingga terjatuh.  Saat perkelahian, Bipda Fari sendiri berpakaian preman dan sudah mabuk berat dipengaruhi minuman keras (Miras).

Jamaludin kemudian mengikat Bripda Fahri sambil menelpon kantor Polisi dengan niat untuk mengamankan Bripda Fahri di Polres Pulau Morotai karena membuat onar dan dikhawatirkan melarikan diri. Sementara tiga orang teman Bripda Fahri yang tidak diketahui identitas mereka langsung melarikan diri saat mendengar ada laporan ke Polisi melalui telepon itu.

Namun tidak berselang lama, sekitar 4-5 orang oknum Polisi yang diduga teman seangkat BripdaFahri datang di lokasi dan membawa Jamaludin di Polres Pulau Morotai, sesampainya di Polres Jamaludin pun menjadi bulan-bulanan sejumlah oknum Polisi tersebut.

Sementara itri korban, Sri Wahyuni  mendatangi Polres Morotai untuk melihat keadaan suaminya namun pihak piket Polres melarang Sri Wahyuni membesuk suaminya di ruang tahanan. Karena sudah berulang kali tidak juga diberikan izin menjenguk suaminya, sekira pukul 13:30 WIT, Sri Wahyuni bersama saudaranya menemui Bupati Pulau Morotai Benny Laos dan menyampaikan perhila yang dialami suaminya yang tak lain merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Kesehatan itu.

Sekira pukul 14:00 WIT, Bupati Benny Laos bersama Forkopimda Pulau Morotai mendatangi Polres Morotai untuk melihat kondisi salah satu bawahanya yang mengalami sejumlah luka itu.

Terkait persoalan itu, Kapolres Pulau Morotai AKBP Andri Hariyanto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian itu. Menurutnya, jika dari hasil penyelidikan dan penyidikan, terbukti oknum anggota Polisi melakukan pengeroyokan maka sanksinya sudah sangat jelas bahkan bisa diancam hukuman pemecatan.

“Kalau anggota kena kode etik itu ada pemecatan, kalau disiplin itu ada tunda pangkat, masuk sel 7 hari, 14 hari, 21 hari, tunda gaji berkala atau mutasi, tergantung penyelidikan kita tidak mau langsung tapi ikut proses,” kata Andri.

Mantan Kapolres Halmahera Tengah (Halteng) ini mengaku kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang dilakukan oknum Polisi dan sebaliknya, kini telah dilakukan penyelidikan itu untuk memastikan status hukum selanjutnya tanpa pandang bulu.

“Saya bilang pak Waka proses anggota, harus diproses, berani berbuat berani bertanggungjawab. Kita lagi lidik mana kejadian sebenarnya, yang jelas kekerasan tidak diperbolehkan baik masyarakat atau Polisi,” jelasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Andri bahkan memerintahkan Kasat Reskim untuk segera menahan oknum Polisi yang menjadi biang kerok pengeroyokan. Dua oknum Polisi pun langsung ditahan pihak Propam Polres Pulau Morotai.

“Pemicu awal sudah kita tahan, yang ribut kita masukkan ke sel Propam dua orang. Saya bilang Kasat Reskrim tahan anggota, saya di Halteng tiga anggota dipecat, saya bilang itu harus saya lakukan karena itu dapat menghancurkan institusi,” tegasnya dengan geram.

Ditanya kronologis kejadian, Andri mengaku masih terdapat dua versi berbeda, dengan demikian maka harus dilakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi sebenarnya.

“Menurut anggota, ada yang lempar jadi mereka cari siapa yang lempar, dan Polisi diikat, siapa pun yang salah harus ditindak, pak bupati turun saya bilang saya janji kalau anggota salah saya tindak,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut