Polres Ternate Ciduk Lima Pelaku Penyebar Hoax di Medos

  • Bagikan
Kapolres Ternate, AKBP Azahari Juanda didampinggi Kabag Humas Polres Ternate saat memperlihatkan kelima pelaku penyebar hoax (Yasim/KabarMalut)

TERNATE – Meski aparat Kepolisi telah menyampaikan tidak ada kasus penculikan anak di Maluku Utara (Malut), namun penyebaran isu penculikan anak di Media Sosial (Medsos) terus terjadi dan meresakan warga. Aparat Kepolisian dari Polres Ternate pun melakukan Patroli Cyber Crime dan berhasil menciduk lima pelaku penyebar infomasi bohong atau hoax.

Kapolres Ternate, AKBP Azhari Juanda mengatakan lima pelaku penyebar hoax yang diamankan tersebut masing-masing, Julaiha Hamja alias Leha (32) seorang ibu rumah tangga warga Kelurahan Kalumata, Fahri Haya alias ARL (23) mahasiswa warga Kelurahan Sasa, Sabna Yusuf alias Sabna (20) mahasiswa warga Kelurahan Gambesi, Cici Riska S Aovat alias Eka (26) wiraswasta warga Kelurahan Markerubu dan Sahrul A Rauf (19) warga Kelurahan Rua.

“Lima orang yang ditahan ini telah diduga menyebarkan informasi yang tidak betul alias hoax, sehingga bisa meresahkan masyarakat yang ada di Kota Ternate,” kata Azahari kepada wartawan, Senin (27/1/2020).

Kelima pelaku diduga menyebarluaskan infomasi hoax di akun Medsos facebook berkaitan dengan isu penculikan anak. Hasil Patroli Cyber Crime akun facebook diketahui telah memosting isu hoax.

“Akun facebook atas nama @Fahri Haya status postinganya Pelaku penculikan di Kota Ternate, mungkin baru dapa ciuman tangan dari warga setempat kong (lalu) jadi gagah (gaul) begitu. Sedangkan untuk nama akun facebook @Rita Wilja Filja status postinganya Kejadian penculikan anak di Kelurahan Fitu semalam jam 2 lewat pelaku ditangkap warga Fitu dan Gambesi ditanya pelaku dia bafoya (bohong) pura-pura gila sekarang pelaku sudah dibawah tahanan Polres Takoma semoga pelaku dihukum mati. Sedangkan untuk akun facebook @Sabna Yusuf dari status postinganya menyebutkan waspada,” jelas Azhari.

Lebih lanjut Azhari menuturkan untuk akun facebook @Filja Nofila Watako Yana dalam status postinganya menyampaikan Dia mau pencuri anak kong (lalu) dapat riki ana (anak) Fitu dengan Gambesi dapa (dapat) pukul sampai mati trada dong (lalu) tanya dia (kamu)  dia (kamu) bilang orang Kayoa tapi Kayoa mana tu. Sementara akun facebook @Sahrul Abdulraul dalam status postinganya menyampaikan Pencuri ana (anak) dapat tangkap di Gambesi baru pura-pura gila dapat pukul sampe mampos.

Dari lima orang yang diamankan ini penyidik sudah mengambil keterangan dan hasil postingan mereka di Medsos facebook beserta dengan HP dari masing-masing penggunggah postingan tersebut dan sekarang masih dilakukan pendalam oleh penyidik.

“Kami akan panggil ahli bahasa untuk mengkaji terkait postingan yang diposting oleh kelima orang ini,” terangnya.

Kapolres menambahkan, kelima pelaku ditahan sebagai tahanan wajib lapor seminggu dua kali hingga kasus ini dilakukan penyelidikan sampai selesai. Jika melanggar, maka akan berhadapan dengan hukum sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

“Tentu ini akan dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua pengguna di media sosial agar jangan sembarangan memposting sesuatu yang belum tentu benar kejadinya, jangan berikan komentar berdasarkan presepsi duga-duga secara pribadi di media sosial sehingga meresahkan masyarakat,” pungkasnya.

Untuk sementara pasal yang akan diterapkan terhadap kelima pelaku yakni pasal 45 a ayat (2) jounto pasal 28 ayat (2) Undang-Undang nomor 19 tahun 2015 tentang perubahan atas Undang-Undang nomo 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang nomor 146 tentang KUHP. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut