Soal Air Laut Berubah Warna dan Ikan Mati di Pulau Makian, Ini Penjelasan Akademisi

  • Bagikan
Ikan mati di Pulau Makian akibat perubahan warna air laut (Istimewa)

TERNATE – Fenomena air laut tiba-tiba berubah warna kecolatan disertai ikan mati mendadak di perairan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), membuat geger dan mencemaskan warga Kecamatan Pulau Makian, Senin (24/2).   Terkait dengan kejadian anah itu, para Akademisi pun memberikan penjelasan sesuai bidang ilmu yang ditekuni.

Ketua Prodi Ilmu Kelautan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Halik Umasangaji mengatakan kematian ikan di laut tampa ada sebab seperti itu, bisa diduga karena munculnya zat-zat beracun entah itu blooming hito plankton spesies tertentu yang bisa meracuni ikan.

“Jadi dugaan sementara dimana daratan ada sungai yang besar berarti itu kemungkinan besar adalah blooming nutrien yang artinya ada zat-zat sara berasal dari sungai tersebut dalam volume yang sangat besar maka ikan tersebut akan mati,” kata Halik ketika dikonfirmasi KabarMalut, Selasa (25/2/2020).

Ketua Prodi Ilmu Kelautan Unkhair Ternate, Halik Umasangaji (Yasim/KabarMalut)

Pulau Makian tidak memiliki aliran suangan dan pulanya kecil, maka diduga kuat adanya zat-zat racun tertentu dari fitoplankton. Kematian ikan bukan disebabkan oleh karena nutrial dari daratan tetapi mungkin karena menimbulkan lingkungan setempat, tetapi ini masih sebatas dugaan sementara.

“Jika misalkan diduga karena senyawa tertentu itu harus diteliti dulu ikan yang mati karena apa, apakah saluran pencernaan seperti apa, baru bisa ditarik kesimpulan bahwa ikan mati karena ada zat-zat racun penyebabnya,” akunya.

Perubahan warna air laut yang mengakibatkan ikan mati ini butuh penilitian, maka Halik tidak bisa memberikan opini menarik kesimpulan penyebabnya karena faktor apa.

“Ikan yang mati itu harus semua diteliti dulu, ilmuwan bidang kelautan, saya belum bisa menduga-duga,” terangnya.

Dosen Ilmu Perikanan UMMU Ternate, Azis Husen (Istimewa)

Sementara itu, Dosen Ilmu Perikanan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate, Azis Husen mengaku terjadinya perubahan warna air laut menjadi kecoklatan di Pulau Makian ternyata ada hubunganya dengan ledakan alga (blooming alga). Istilah ini kita dengar populasi fitoplankton, yaitu tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut, biasanya terjadii perairan air laut atau danau.

“Penyebabnya terjadi perubahan air laut  adalah karena pembuangan limbah industri dan limbah aktivitas rumah tangga. Limbah yang mengalir sampai laut itu mengandung nutrient, nitrat dan ortofosfat yang bisa menstimulasi proses pembiakan alga,” kata Azis.

Selain itu, lanjut Aziz, ledakan alga juga terjadi  ada pemanasan global, atau naiknya suhu perairan laut. Kalau suhu naik, maka aktivitas metabolisme alga jadi terpicu dan pecah sehingga warna air laut berubah dan reproduksi alga secara berlangsung lebih cepat.

Azis bahkan mengatakan, warna yang muncul bergantung pada pigmen (zat warna tubuh) mikroalgae yang meledak. Biasanya kejadian seperti ini alga ini sangat berbahaya, karena selain bisa merusak sumber daya perikanan, sampai ke manusia. Ini juga bisa mempengaruhi arus laut sehingga pergerakan masa air tidak lagi normal, lalu terjadi Blooming Alga.

“Blooming alga merupakan suatu peristiwa dimana jumlah alga yang berada di perairan membludak jumlahnya. Alga adalah hewan mikroskopik yang menyerupai tumbuhan dan merupakan organisme yang umumnya terdapat di perairan disinari cahaya matahari,” pungkasnya.

Ketua Prodi Akuakultur Unhena Tobelo, Frits Jamlaay (Istimewa)

Ketua Prodi Akuakultur Universitas Hein Namotemo (Unhena) Tobelo, Frits Jamlaay mengaku fenomena tersebut sudah sering terjadi di beberapa perairan yang ada di Indonesia. Itu bisa disebut dengan kelimpahan fitoplankton/blooming.

“Dalam ilmu perikanan kita sudah tidak asing lagi dengan fenomena tersebut, pengaruh blooming tersebut diakibatkan karena suhu panas bumi yang semakin meningkat, sehingga mengakibatkan terjadinya proses fotositesis yang berlebihan terhadap fitoplankton yang hidup di perairan tersebut,” kata Frist.

Fitoplankton merupakan mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang tetapi dapat dilihat dengan timbulnya warna air yang diakibatkan oleh plankton tersebut. Kelimpahan fitoplankton dapat mengakibatkan ikan atau organisme lain mati karena tertutupnya permukaan air sehingga ikan yang berada di perairan tersebut tidak dapat mengkonsumsi oksigen untuk bertahan hidup.

“Untuk lebih jelasnya kita harus melakukan analisis lanjutan berupa melihat isi lambung dari sampel ikan yang mati agar kita dapat melihat jenis plankton apa yang dikonsumsi ikan tersebut, sehingga kita bisa mengambil kesimpulan ikan tersebut mati karena kehabisan oksigen atau akibat keracunan plankton yang berbahaya. Jadi ini murni fenomena alam bukan fenomena tahyul,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut