Geger Ikan Mati Mendadak, DLH dan DKP Pulau Morotai Perketat Awasi Perusahan dan Imbau Masyarak tak Buang Sampah di Laut

  • Bagikan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pulau Morotai, Anwar Marasabessi (Fizri/KabarMalut)

DARUBA – Sejak munculnya kehebohan warna air laut beruba dan ikan mati yang terjadi di perairan Pulau Makian Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) dan kini meluas ke Kota Ternate, Maluku Utara. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pulau Morotai, memperketat pengawasan aktifitas sejumlah perusahan serta mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke laut.

Kepala DLH Pulau Morotai, Anwar Marasabessi mengatakan pemberitaan kehebohan ikan mendadak di sejumlah daerah di Maluku Utara, membuat pihaknya lebih berhati-hati dan mengawasi aktifitas perusahan. Meski begitu, hingga kini tidak ada keluhan masyarakat terkait perubahan warna air menjadi coklat dan ikan mati di Pulau Morotai.

“Minimal atispasi terlebih dahulu kita lakukan, sejauh ini belum ada keluhan dari masyarakat terkait efek seperti ikan mati tiba-tiba. Setelah informasi didapat ramai diperbincangan, kita dari Dinas selalu waspada, misalnya ada perusahan yang masuk ke Morotai minimal harus taat aturan sehingga limbah-limbah itu bisa diatasi. Misalanya dalam  mendirikan perusahan itu sudah ada izin lingkungan tercantum bahwa limba-limba itu harus ada sistem pengelolaan, dengan ini kami perketat izin masuk pabrik ke Morotai ,” kata Anwar kepada KabarMalut, Rabu (26/2/2020).

DLH juga mengimbau masyarakat terutama nelayan untuk selalu berhati-hati. Jika melihat adanya gejala-gejala yang tidak wajar, mohon secepatnya dilapor ke pihak terkait sehingga ada antispasi lebih cepat sebelum ada korban.

“Kalau saya lihat ini bukan karena pabrik yang punya limbah tapi patut berhati-hati juga, untuk kapal-kapal itu kadang minyak pelumas itu juga bisa berbahaya kalau tertumpah di laut juga bisa berbahaya. Tidak hanya ikan tapi, terumpu karang juga,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pulau Morotai, Suryani Antarani (Fizri/KabarMalut)

Sementara Kepala DKP Pulau Morotai, Suriyani Antarani mengatakan saat fokus memberikan imbauan agar masyarakat jangan buang sampah ke laut, karena sampah juga bisa menjadi sumber kerusakan ekosistem laut. Sampah yang dibuang ke laut, bakal menjadi gas dan bahkan bisa meledak, yang tentunya berimbas ke ikan.

“Hal itu kemungkinanya, dan itu tidak bisa diprediksi, jadi paling tidak kita buat imbauan agar jangan buang sampah ke laut,” ucapnya.

Dia mengaku hingga saat ini, untuk Pulau Morotai belum ada keluhan baik dari masyarakat maupun nelayan seperti terjadi di Pulau Makian Halsel dan Kota Ternate, sehingga dirinya berharap agar hal tersebut tidak akan terjadi di wilayah laut Pulau Morotai.

“Sejauh ini kami tetap kontrol, tapi sebatas koordinasi karena pengawasan sendiri itu untuk kabupaten kan sudah tidak ada fungsi pengawasan untuk laut 0-12 mil itu kewenanganya provinsi, selanjutnya itu kewenganya pusat. Jadi kami DKP hanya sebatas koordinasi ke instansi terkait, ke provinsi maupun ke pusat, cuma sebatas laporan, walaupun ini wilayah kita dan tangung jawab, tapi tangung jawab sepenuhnya ada di provinsi maupun pusat,” imbuhnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut