Warga Halsel di Daerah Perbatasan Keluhkan Protokol Penanganan COVID-19

  • Bagikan
Pelabuhan ferry Pulau Makian, Halmahera Selatan (dok.kabarmalut)

LABUHA – Warga Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) yang berdomisili di desa-desa yang berbatasan langsung dengan Kota Tidore Kepulauan, Kota Ternate dan Halmahera Tengah keluhkan penanganan pencegahan virus corona COVID-19 yang dilakukan pihak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui tim gugus tugas. Warga menilai tim gugus tugas hanya memprioritaskan pencegahan dan penanggulangan virus corona COVID-19 di Ibu Kota Kabupaten. Sementara di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten kota lain yang sudah ditetapkan sebagai zona merah luput dari pantauan tim gugus tugas. 

Sudarto Abdul Gani, salah satu warga desa Batulak Kecamatan Gane Barat Utara menuturkan, sejak pandemi virus corona COVID-19 ini ditetapkan sebagai wabah yang mematikan, oleh pemerintah diminta kepada seluruh masyarakat untuk melakukan aktivitas sesuai dengan protap kesehatan. Namun, disisi lain, Pemerintah sendiri melalui tim gugus tugas yang dibentuk mengabaikan warga yang berada di perbatasan. Di Desa Batulak sendiri sampai sejauh ini tidak ada kegiatan pencegahan corona COVID-19 atau protokol kesehatan yang dijalankan oleh pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten. Padahal desa Batulak merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Kota Tidore kepulauan.

“Coba lihat kami yang ada di desa Batulak tidak ada kegiatan pencegahan virus corona COVID-19 baik dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.” kata Sudarto kepada kabarmalut melalui sambungan telepon seluler dengan nada kesal, Kamis (4/6/2020).

Sudarto menambahkan, edaran yang dikeluarkan Bupati Bahrain Kasuba seperti penghentian sementara pelayaran kapal penumpang dari Halsel ke Kabupaten lain juga tidak berlaku di desa. Buktinya, sampai saat ini kapal regional yang melayani rute Gane Barat Utara, Gane Barat dan Gane Barat Selatan masih saja beroperasi. Kalau kapal masih beroperasi kata Sudarto, secara otomatis mobilisasi orang dari luar Halsel yang masuk khusus di tiga kecamatan ini semakin tinggi. Apalagi, saat ini masih libur.

“Kalau terjadi apa-apa siapa yang disalahkan, jadi pemerintah juga harus turun langsung untuk melihat kondisi di desa.” ujar Sudarto. 

Kapal Ferry KMP Lompa saat sandar di pelabuhan ferry Pulau Makian, Halmahera Selatan (dok.kabarmalut)

Sementara itu, Muhajir salah satu warga Kecamatan Pulau Makian menilai, tim gugus tugas  COVID-19 di kecamatan Makian dan Kayoa tidak serius menjalani protokol penanganan COVID-19 di pelabuhan ferry Makian dan Kayoa. Muhajir berujar, pada saat dirinya melakukan perjalanan dari Makian menuju Babang dengan menumpangi kapal ferry mendapatkan para petugas Tim gugus tugas yang ditempatkan di Pelabuhan terlihat santai dan tidak ada tindakan penanganan yang serius ketika kapal ferry berlabuh di pelabuhan. Sehingga para pedagang asongan juga bebas naik ke kapal ferry. Padahal feri ini melayani pelayaran rute Kota Ternate dan Halsel. Sementara di pelabuhan feri Babang petugas sangat ketat melakukan penanganan. 

“Saya lihat mereka santai-santai saja. Apa seperti itu kerja mereka. Padahal mereka itu digaji.” tutur Muhajir. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut