Jadi Tersangka, Asisten I Bantah Pengakuan Kabag Wassidik Ditreskrimum Polda Malut

  • Bagikan
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Maluku Utara, Gafaruddin (Istimewa)

TERNATE – Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Maluku Utara (Malut), Gafaruddin angkat bicara atas penetapan dirinya sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan dan memasuki pekarangan orang lain oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrium) Polda Malut.

Gafaruddin membantah pengakuan Kabag Wassidik Ditreskrimum Polda Malut, AKBP Hengky Setiawan terkait pemanggilan dirinya oleh penyidik sebanyak lima kali namun tak diindahkan. Sebab selama ini, Gafaruddin mengatakan tidak pernah mendapat surat panggilan dari penyidik atas laporan Holvenus Tonengan tersebut.

“Saya belum pernah terima surat dari penyidik Polda Malut terkait dengan kasus yang dilaporkan oleh Holvenus Tonengan,” kata Gafaruddin ketika dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (2/7/2020).

Selama ini Polda Malut, lanjut Gafaruddin, hanya sekali menelpon dirinya tetapi tidak berkaitan dengan pemanggilan untuk pemeriksaan. Dalam percakapan itu, Polisi hanya mempertanyakan kwitansi jual beli tanah.

“Mereka (penyidik) tidak pernah melakukan pemanggilan kepada saya hanya saja menelpon satu kali untuk menanyakan kwitansi jual beli tanah,” tegas Gafaruddin.

Jika penyidik menginginkan adanya pemeriksaan terhadap dirinya, Gafaruddin menyarankan agar penyidik melayangkan surat pemanggilan dirinya kepada Gubernur Malut atau Sekretaris Daerah terlebih dahulu. Dan jika sudah ada kesepakatan antara Gubernur maupun Sekretaris Daerah, maka dirinya siap menghadiri panggilan penyidik tersebut.

“Jika sudah ada kesepakatan dari Gubernur dan Sekretaris Daerah baru ada surat tugas untuk saya agar menghadiri undangan dari penyidik, karena setahu saya jalurnya seperti begitu, agar bisa menghadiri undangan dari penyidik tetapi tidak ada kesepakatan dari Gubernur maupun Sekretaris Daerah maka saya tidak hadir undangan yang dilayangkan dari penyidik,” pungkasnya.

Sebelumnya, Penyidik Ditreskrimum) Polda Maluku Utara (Malut) menetapkan Gafaruddin sebagai tersangka atas kasus dugaan pemalsuan surat dan memasuki pekerangan rumah orang lain.

Kabag Wasidik Ditreskrimum Polda Malut, AKBP Hengky Setiawan mengaku pihaknya sudah melayangkan surat panggilan kepada Gafaruddin sebanyak lima kali, namun tidak memenuhi panggilan Polisi untuk dimintai keterangan.

“Penyidik sudah mengeluarkan surat perintah membawa kepada Gafaruddin untuk datang menghadap penyidik, jika yang bersangkutan datang maka penyidik akan melakukan mediasi tetapi hingga sekarang yang bersangkutan tidak datang menghadap penyidik,” tegasnya.

Hengky mengaku berdasarkan hasil penyelidikan penyidik, sertifikat rumah dan surat-surat lainnya masih tercatat milik korban Holfenus Tondenggan sehingga Gafaruddin pun ditetapkan sebagai tersangka.

Gafaruddin dijeret pasal berlapis yakni pasal 167, pasal 263 dan pasal 383 KUHP atas dugaan pemalsuan dan masuk pekarangan orang tanpa izin. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut