HIPMA Halteng Sulut Desak Pemda dan Polisi, Bijaksana Tangani Pembunuhan di Hutan Halmahera

  • Bagikan
Ketua Fomatur HIPMA Halteng Sulut, Indah Sari Fauto (Istimewa)

TERNATE – Menyikapi kasus pembunuhan tragis yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia dan empat orang korban selamat di belantaran hutan Pulau Halmahera, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara. Himpunan Pelajar Mahasiswa Halmahera Tengah Sulawesi Utara (HIPMA Halteng Sulut) mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) dan aparat kepolisian setempat, bersikap bijaksana mengusut dan menyelesaikan persoalan ini secara cepat dan tepat.

Ketua Fomatur HIPMA Halteng Sulut, Indah Sari Fauto mengatakan kasus pembunuhan tragis yang terjadi di Kecamatan Patani Utara, Halteng, Sabtu (20/3) pekan kemarin, merupakan tindakan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).

“Tragedi yang terjadi pada tanggal 20 Maret kemarin di hutan Halmahera Tengah khususnya hutan Patani Utara, adalah suatu malapetaka yang sungguh tak berperikemanusiaan,” kata Indah dalam keterangan tertulis kepada KabarMalut, Rabu (24/3/2021).

HIPMA Halteng Sulut, lanjut Indah, mendesak Pemda Halteng dan aparat penegak hukum baik Polres maupun Polda Maluku Utara, kiranya dapat mengambil langkah yang bijaksana dalam kasus ini. Selanjutnya diselesaikan secara normatif dan kooperatif demi mengantisipasi kemunculan dendam di hati para warga Patani Utara dan menimbulkan tindakan yang tidak kita inginkan bersama.

“Saya melihat bahwa secara sosiologis maupun psikologis warga masyarakat Patani Utara akan sangat merasa diresahkan dengan kondisi dan keadaan ini dikarenakan aktivitas ke hutan akan dibatasi untuk jajak waktu yang tidak menentu,” tegasnya.

Warga di Patani Utara secara keseluruhan baik Desa Gemia maupun Desa Tepeleo, aktivitas warga masyarakatnya rata-rata di hutan, karena memiliki kebun cengkeh dan pala yang limpah ruah. Jika lambat dibijaki, maka sudan tentu akan berpengaruh pada masyarakat setempat, terutama dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

“Kebutuhan dapur dan lainnya pun akan ikut berpengaruh, sebab warga masyarakat Patani Utara sebagian besar aktivitas hidupnya mengikuti pola hasil pala dan cengkeh,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut