Keberadaan Burung Kasturi Ternate Endemik Maluku Utara

  • Bagikan

July Randales Manik S.Hut

Alumni Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera (Uniera)

 

Burung paruh bengkok merupakan kelompok jenis burung merujuk pada ordo Psitaciformes. Di Indonesia ragam jenisnya seperti Kakatua, Nuri, Perkici, dan sebagainya.

MALUKU Utara dianugerahkan sebagai surganya burung-burung yang indah karena memiliki keberagaman burung yang cukup tinggi, baik itu burung endemik maupun non endemik. Maluku Utara terdapat 311 jenis burung, 9 diantaranya merupakan burung paruh bengkok yang dilindungi, termasuk didalamnya burung Kasturi Ternate yang memiliki nama latin Lorius garrulus.

Masyarakat lokal umumnya cukup mengenal jenis ini dengan sebutan bermacam-macam, sebagian menyebutnya burung Busu, Luri, atau Nuri. Burung yang hidup berpasang-pasangan ini terdiri dari tiga subspecies dengan wilayah persebaran yang berbeda, yakni: Lorius garrulus morotaianus tersebar di Pulau Morotai dan Rau, Lorius garrulus garrulus tersebar di Pulau Halmahera dan kepulauan sekitarnya, Lorius garrulus flavopalliatus tersebar di Pulau Bacan, Obi, Kasiruta dan Mandioli.

Biasanya burung ini mendiami hutan primer, hutan sekunder, pinggiran hutan, dan kadang mengunjungi perkebunan kelapa. Burung paruh bengkok ini mempunyai paruh yang cukup kuat dan kaki yang berbentuk Zigodaktil (Dua jari mengarah ke depan dan dua lainnya ke belakang) yang berfungsi untuk mengupas biji-bijian yang keras, bertengger, mengenggam makanan, serta untuk membuat lobang pada batang atau cabang pohon untuk dijadikan sebagai sarang. Burung Kasturi Ternate umumnya hidup secara berpasangan. sedangkan untuk pakan jenis ini termasuk pemakan buah-buahan, biji-bijian dan juga nektar.

Kasturi Ternate merupakan salah satu kelompok hewan yang hanya berada di wilayah Maluku Utara saja yang artinya tidak ditemukan di daerah lain dalam bahasa Inggris burung ini dikenal sebagai Chattering Lory karena kecantikannya dan kemampuan dalam menirukan suara burung bersuara nyaring dan berbulu indah ini berukuran sedang atau 30 centi meter untuk burung dewasa dengan warna merah dominan pada bulunya. Pada bagian punggung terdapat bulu berwarna kuning, sedangkan pada bagian sayap, paha, dan ujung ekornya berwarna hijau terang.

Selain dari burung endemik, burung ini pada awalnya sering dijadikan sebagai cendramata dan oleh-oleh kepada tamu atau keluarga, sehingga burung ini banyak dipelihara dikalangan masyarakat. Tidak hanya sampai disitu, yang paling menyita perhatian yaitu maraknya perburuan dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu secara illegal yang mengakibatkan penurunan populasi di alam.

Perdagangan yang dilakukan bukan hanya di daerah Maluku Utara namun sampai keluar daerah seperti di Pulau Jawa, Sulawesi bahkan sampai ke Pilipina. Ciri khas burung ini adalah warna bulu yang sangat indah dan menarik ditambah lagi dengan keahlian dalam menirukan suara sehingga burung ini banyak perjualbelikan.

Banyak burung kasturi diperdagangkan yang digunakan sebagai burung peliharaan. Kebiasaan-kebiasan masyarakat dalam memelihara burung dikarenakan hobi dan kesenangan semata. Karena burung ini memiliki warna yang indah dan bisa menirukan suara sehingga menarik untuk dipelihara. Sangat disayangkan bahwa burung ini merupakan burung liar dan bukan untuk dipelihara, namun masyarakat menjadikannya burung peliharaan.

Keberadaan burung Kasturi Ternate kian lama kian terancam. Apa yang menyebabkan hal tesebut terjadi? Sesuai data Burung Indonesia tahun 2019 bahwa estimasi jumlah populasi burung Kasturi Ternate di Maluku Utara khususnya Pulau Halmahera yaitu berkisar 107.496-230.364 ekor, Pulau Bacan yaitu berkisar 18.339-56.947 ekor, Pulau Morotai berkisar 3.892-31.997 ekor.

Ancaman utama penurunan populasi di alam yaitu perburuan dan penangkapan illegal yang dilakukan untuk tujuan perdagangan. Faktor penyebab lainnya yaitu rusaknya habitat alami dengan melakukan pembukaan wilayah hutan untuk keperluan industri (pertambangan, perkebunan).

Burung Kasturi Ternate merupakan burung yang proses perkembangbiakan relative lambat. Burung Kasturi betina hanya bertelur dua atau tiga butir dalam satu masa kawin, yang kemungkinan hanya sekali dalam setahun. Apabila perburuan terus dilakukan dapat dipastikan punah suatu hari nanti. Karena ketidak seimbangan antara jumlah bayi kasturi yang ditetaskan dan pengambilan secara liar di alam. Akibat perburuan yang dilakukan secara terus menerus membuat populasinya yang semakin sedikit di alam.

Oleh karena itu, Birdlife International (BI) dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan jenis dalam dalam ketegori terancam punah. Pemerintah juga sudah memasukkan burung ini sebagai status burung dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor :P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Dengan adanya peraturan ini artinya bahwa kita dilarang untuk menangkap, memperdagangkan dan juga memelihara, karena burung ini sudah masuk kategori terancam punah, maka kita harus menjaga dan melestarikannya.

Saran dari penulis supaya kita saling mengingatkan antara satu sama lain untuk tidak lagi menangkap burung di habitat dan tidak memelihara burung kembali. Untuk yang sudah terlanjur memelihara tetaplah perhatikan dan utamakan kesejahteraan satwa peliharaan anda, terlebih khusus pakan dan kebebasan dalam beraktivitas, karena pada umumnya setengah dari aktivitas burung kasturi adalah mencari makan selebihnya bertengger, dan bercumbu dengan pasangannya. Tetaplah jaga kelestarian satwa dan habitat burung Kasturi Ternate yang merupakan burung endemik Maluku Utara.

“Banggalah terhadap daerah kita yang telah diaugerahkan-Nya burung-burung yang sangat indah dan cantik”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut