Rindu Suara Teriakan KAKATUA PUTIH di Hutan Maluku Utara

  • Bagikan

July Randales Manik S.Hut

Alumni Program Studi Kehutanan, Universitas Halmahera

 

Mendengar nama burung Kakatua mungkin teringat dengan lagu burung kakatua yang sering kita nyanyikan dan dengar pada waktu duduk di bangku Sekolah Dasar. Burung kakatua termasuk burung yang populer di tengah masyarakat Indonesia. Burung ini memang memiliki keistimewaan dan daya tarik tersendiri, terutama pada bentuk dan bulu yang eksotis serta kemampuannya dalam menirukan suara manusia.

 

KAKATUA Putih merupakan salah satu jenis dari tujuh (7) jenis kakatua yang ada di Indonesia. Enam lainnya terdiri dari Kakatua Raja, Kakatua Koki Jambul Kuning Besar, dan Kakatua Rawa yang dapat ditemukan di Papua, Kakatua Tanimbar di Kepulauan Tanimbar, Kakatua-kecil Jambul kuning di Nusa Tenggara, Sulawesi dan sekitarnya, dan Kakatua Maluku di Maluku Selatan.

Karena paruh yang bengkok dan kuat  sehingga sering disebut burung paruh bengkok serta memiliki bentuk kaki dua mengarah ke depan dan dua lainnya mengarah ke belakang, dengan begitu burung kakatua dapat memegang, menggenggam serta memanjat.

Burung dengan nama latin Cacatua alba ini merupakan burung endemik Maluku Utara yang tersebar di Pulau Halmahera, Ternate, Tidore, Bacan, Mandioli, Kasiruta dan Obi. Dengan ciri khas warna bulu yang dominan berwarna putih di seluruh tubuhnya dan di kepalanya memiliki jambul besar berwarna putih yang dapat ditegakkan, kecuali bulu di bagian bawah sayap dan ekor terdapat sedikit warna kuning.

Kakatua putih biasanya memakan biji-bijian, buah-buahan, dan kacang-kacangan seperti buah kenari, rotan, matoa, papaya, pisang, durian, kelapa dan juga buah perkebunan lainnya.

Sayangnya kelestarian burung ini kian semakin terancam. Perburuan kakatua untuk diperjualbelikan membuat jumlahnya makin berkurang di alam liar. Beberapa upaya sudah dilakukan untuk melindungi jenis ini, baik itu dari pihak pemerintah maupun Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait, selain dari upaya penegakan hukum juga sering dilaksakan kampanye mengenai perlindungan burung, pada setiap tanggal 16 September selalu diperingati dengan Hari Kakatua Indonesia dengan tujuan agar masyarakat makin peduli pada pelestarian satwa ini.

Masyarakat lokal (Halmahera) biasanya menyebut burung ini dengan sebutan Gatala. Burung berwarna putih ini sering ditangkap oleh masyarakat. Mereka umumnya menangkap dengan cara tradisional yaitu menggunakan lem yang terbuat dari getah pohon Amo (Sukun) dan menggunakan burung kakatua putih yang sudah jinak sebagai burung pancingan.

Biasanya penangkap memilih pohon yang tinggi, terkadang mencari pohon yang sedang berbuah dan menjadi sumber pakan burung kakatua putih. Kemudian membersihkan bagian cabang-cabang pohon sampai dua atau tiga cabang saja yang tersisa yang letaknya di paling atas. Setelah itu cabang yang sudah dibersihkan akan dilumuri lem, dan langsung menggantung burung pancingan di pohon jebakan. Selanjutnya, burung pancingan akan bersuara dan memanggil-manggil kawanannya, sehingga burung kakatua yang berada di sekitar area jebakan tersebut otomatis akan datang dan hinggap di cabang pohon yang sudah dilumuri lem. Burung kakatua yang sudah berhasil ditangkap biasanya mencabut bulu-bulu sayap untuk menghindari burung terbang kembali dan memasukkan ke dalam kandang yang berukuran kecil.

Cara-cara ini merupakan tindakan yang sangat memprihatinkan bagi seekor burung kakatua putih. Namun apa daya jika keserakahan dan ketidaktahuan akan pentingnya burung bagi kehidupan. Terkadang kita tidak menyadari hal itu.  Kembali lagi bahwa semua mahluk hidup yang sudah diciptakan oleh Sang Pencipta mempunyai peran dan fungsinya masing-masing.

Ancaman terbesar dari jenis ini adalah penangkapan secara illegal dan kehilangan habitat sebagai rumah untuk bertahan hidup. Secara ekologis kakatua putih memiliki peran yang sangat penting dan menyebarkan benih atau biji-bijian yang penting bagi ekologi tanaman yang bisa juga disebut si Petani Hutan.

Berawal dari perburuan dan perdagangan liar serta hilangnya habitat yang terus terjadi, kakatua putih masuk dalam kategori sebagai burung yang terancam punah menurut IUCN dan dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, yang artinya kegiatan menangkap alam liar, memeilhara, mengekspor ataupun mengimpor burung kakatua merupakan tindakan terlarang dan melanggar hukum.

Berdasarkan data terbaru Burung Indonesia tahun 2020 bahwa estimasi jumlah populasi kakatua putih di alam berkisar 31.835-53.252 ekor. Salah satu hal yang memicu terjadinya penurunan angka populasi burung ini yaitu penangkapan yang berlebihan akan menyebabkan meningkatnya laju penurunan populasi di habitat aslinya.

Saran Penulis, kita memang bukan pihak yang bekerja di bidang perlindungan burung, namun ditengah-tengah kondisi yang sangat memprihatinkan terhadap burung-burung kakatua putih yang menjadi kekayaan hayati alam Indonesia, khususnya Maluku Utara membutuhkan kepedulian kita. Untuk itu kita semua wajib menjaga, melindungi, dan melestarikan kekayaan alam yang menjadi  titipan anak cucu kita, nantinya dapat menjadi warisan terbaik bagi generasi yang akan datang.

“Mari jaga dan lindungi burung-burung yang ada di wilayah kita dengan membiarkan mereka terbang dan bersuara di alam bebas,”. (*)

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut