Harmonisasi Agama dan Filsafat Dalam Perspektif Ibn Rusyd

  • Bagikan

Rusmin Hasan

Pegiat Filsafat

 

Filsafat dikalangan umat Islam di Indonesia pada umumnya masih sangatlah minim diminati, kajian filsafat bahkan masih dianggap dapat membawa seseorang kepada kemurtadan (keluar dari agama). Sehingga mempelajari wacana yang bernuansa filsafat masih ada yang memandang haram, orang yang tak bertuhan, bahkan nyaris dijauhkan dalam aktivitas sosial masyarakat kita di Indonesia. Ada entitas masyarakat kita juga berasumsi bahwa Filsafat itu amat sulit. Sedikit sekali orang yang mampu mempelajarinya. Bahkan, kata sebagian aorang, jangan terlalu serius belajar filsafat. Bila otak tidak kuat, jangan-jangan kita menjadi gila karenanya. Buat apa mengambil risiko ini, padahal konon filsafat itu sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Benarkah belajar filsafat bisa demikian gilanya?.

 

UNTUK menjawab berbagai pertanyaan dan kekeliruan berfikir di atas, akan saya uraikan urgensi atau pentingnya manusia untuk berfilsafat dalam pandangan kaum filosof termasuk pemikir terkemuka sekaligus komentator terbaik aristoteles beliau adalah Ibn Rusyd.

Saya secara pribadi mengagumi pikiran-pikiran sang pemikir merdeka dan rasional ini. Menurut hebat saya, membaca gagasan kritis berbasis rasional dari karya-karya Ibn Rusyd memberikan deskripsi tentang pandangan dunia keislaman, keindonesiaan bahkan dunia bahwanya Rasio, intuisi dan wahyu adalah epistemologi mendasar untuk memahami relasi antara agama dan filsafat sebagai satu kesatuan integral untuk membangun peradaban islam, Indonesia bahkan dunia, pentingnya untuk mempertemukan tiga kutub sekaligus untuk membangun peradaban umat, bangsa bahkan dunia sebagai landasan memahami pandangan realitas hubungan antara manusia, alam semesta bahkan Tuhan sebagai kekuatan supranatural yang absolut.

Ada empat dimensi keharusan manusia untuk berfilsafat yaitu; Dimensi Fitrah Insania, Keheranan, Kesangsian, dan Kesadaran Akan Keterbatasan Sebagai Manusia. Pertama; Sebagai mahkluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia dan secara fitrah diberi keistimewaan potensi akal sekaligus sebaik-baik peciptaan. Allah juga memuliakan manusia dengan tanggung jawab sebagai Khalifah atau pemimpin di muka bumi dan mukallaf bagi mengimarahkan bumi. Menyuru manusia untuk mengoptimalkan potensi akalnya untuk menciptakan kebahagian dan perdamaiaan di dunia (Murtadha Muthahari ).

Sekaligus secara filosofis dari risalah kenabiaan yang pertama Allah memberi isyarat secara tegas kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril untuk membaca (Iqro ). Disitulah gambarkan sebagai pemantik kritis bahwa peran filsafat atau akal sangatlah penting untuk manusia memahami esensi ciptaannya di dunia ini.

Kedua; Keheranan. Sebagian filsuf berpendapat bahwa adanya rasa heran merupakan asal dari filsafat. Misalnya Plato mengatakan; “Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan penyelidikan ini berasal dari filsafat. Dan pada kuburan Immanuel Kant (1724-1804) tertulis: “Coelum Stellatun Supra Me, Lex Moralitas Intra Me”. Gejala yang paling mengherankan menurut Immanuel Kant adalah Langit, bintang-bintang di atasnya dan hukum moral dalam hatinya.

Ketiga; Kesangsian. Augustinus (354-430) dan Rene Descartes berpendapat bahwa kesangsian ini, merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia. Pada saat manusia melihat atau mengetahui sesuatu yang baginya merupakan hal yang baru. Maka ia akan merasa heran, kemudian ia merasa sangsi atau ragu-ragu. Seperti Rene Descartes dengan konsepnya yang sangat familiar yakni ia mengatakan bahwa “Cogito ergo sum”. Yang berarti aku berfkir maka aku ada. Tetapi yang dimaksud Descartes dengan berfikir ia menyadari jika ia saksikan, saya menyadari bahwa saya sangsikan. Kesaksian secara lansung menyatakan adanya saya. Dalam filsafat modern kata “Cagito”, sering kali digunakan dalam arti kesadaran.

Kempat, adalah kesadaran akan keterbatasan. Manusia mulai berfilsafat atau berfikir bahwa dirinya itu sangat kecil dan lema. Terutama bila dibandingkan dengan alam, manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan teringat terutama pada waktu mengalami penderiaan atau kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya ini, manusia mulai berfilsafat. Ia memulai memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas. (Baca Karya: Harry Hamersma 1981 (Buku pintu masuk kedunia filsafat, Rasionalitas Ijtihad Ibn Rusyd dan Esensi Manusia menurut pandangan Murtadha Muthahari).

Dari ulasan di atas, secara jelas bahkan manusia dituntut untuk mengoptimalkan nalar berfikirnya untuk mencari kebenaran. Maka merugilah mereka yang tak berfilsafat atau mengelola nalar berfikirnya. Sebagaimana Nabi bersabda bahwanya; Berfikir sesaat lebih baik dibanding ibadah setahun. Tentuh berfikir yang dimaksud kanjeng nabi adalah berfikir yang berkualitas, bukan berfikir apologi atau pembelaan tanpa landasan rasional, tak sesuai kaidah berfikir logis. Lantas apa syarat-syaratnya ilmiah dari kualitas berfikir tersebut?, apa metodenya?, dari mana pola memulainya?, lantas epistemologi atau sumber pengetahuannya apa yang harus dipakai?.

Pada penjelasan ini, akan penulis uraikan secara detail bagaimana sosok filosof Ibn Rusyd mengharmonisasikan agama dan filsafat atau peranan rasio dan wahyu secara berkesinambungan tanpa mengabaikan dimensi epistemologi atau sumber pengetahuan yang lainnya.

Wahyu dan rasio merupakan dua persoalan rumit dalam sejarah pemikiran Islam dalam kaitanya antara agama dan filsafat. Jauh sebelum Ibn Rusyd, sudah banyak pula para ulama, filosof, ilmuan mengkajinya. Baik kajian agama itu sendiri dan filsafat bahkan pencarian titik temu keduanya. Masing-masing kubu ekstrim dari dua hal tersebut telah melahirkan pertentangan sengit diantara para pendukungnya. Salah satu diantara bukti tentang sengitnya pertentangan diantara dua kutub tersebut adalah vonis kufur yang diberikan oleh Imam Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111 M ) terhadap kaum filosof seperti Al-farabi, Ibnu Sina, bahkan juga Ibn Rusyd yang menempatkan hukum pengasingan dan pembakaran atas buku-buku filsafatnya. Ibn Rusyd merupakan filosof muslim terakhir yang berusaha mencari titik temu (Rekonsiliasi) antara whyu dan rasio dalam kaitannya agama dan filsafat. Pemikiran Ibn Rusyd tentang usaha rekonsiliasi dituangkan dalam kitabnya berjudul: “Fashl Al-Maqal Wa Taqrir Ma Bain Al-Hikmah Wa Al-Syariah Min Al-Ittishal”.

Dalam narasi singkat ini, saya akan menguraikan perspektif pemikiran epistemologi Abu Al-walid Ibn Rusyd, seorang filosof muslim ulung sekaligus komentator terbaik karya aristoteles dalam mengharmonisasikan agama dan filsafat secara basis rasional. Namun sebelum itu, perluh kiranya kita mengenal sosok filosof pemikir merdeka dan rasional di dunia Islam secara singkat.

Biografi Ibn Rusyd.

Tokoh ini, bernama Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibn Ahmad Ibn Rusyd. Ibn Rusyd lahir di Cordova Andalusia pada tahun 520 H (14 April 1126 M), sebulan sebelum sang kakek wafat, atau 15 tahun setelah Al-Ghazali wafat (1111 M). Nama Kun’yah atau panggilannya adalah Abu Al-Walid, tetapi nama yang populer adalah Ibn Rusyd. Di dunia non-Muslim khususnya di Barat, ia dikenal dengan nama dalam bahasa Latin, Averroes. Kadang-kadang ditulis Averroës atau Averroès. Penyebutan ini merupakan suatu metamorfosis dari nama Ibn Rusyd tersebut. Nurcholish Madjid menyebutkan bahwa kata Averroes tersebut merupakan metamorfosis Yahudi, Spanyol dan Latin untuk penyebutan nama Ibn Rusyd. Hal itu diawali dari penerjemahan karya-karya filsuf ini dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin sekitar pertengahan abad ke-12. Dari nama Ibn Rusyd yang semestinya dalam transliterasi Latin ditulis Ibn Rochd, tetapi diucapkan Aben Rochd. Dalam bahasa Spanyol konsonan pada kata Aben diucapkan menjadi Aven. Setelah kata itu disambung kata berikutnya maka menjadi Aven Rochd.

Setelah melalui asimilasi maka dua kata tersebut disatukan menjadi Averrochd (dibaca Averrosyd) yang selanjutnya Averroisme karena alasan sulitnya pengucapan ch dan d (pengucapan huruf sy disambung dengan d) maka huruf d digugurkan menjadi Averros, yang dalam perjalanan waktu mengalami perubahan dalam tulis menjadi Averroes. Kata inilah yang tampaknya disepakati oleh mayoritas penulis dalam bahasa-bahasa Barat, Ibn Rusyd berasal dari keluarga terpelajar dan terpandangan yang di dunia Islam Barat dikenal sebagai Bani Rusyd. Mereka memiliki tradisi dan peran yang besar dalam bidang-bidang keilmuan, serta keahliannya yang menonjol dalam bidang hukum. Kakek Ibn Rusyd adalah seorang qadhi (hakim) terkemuka di Cordova pada zamannya, demikian juga ayahnya. Dari aspek tersebut tepatlah jika dikatakan bahwa keluarga Ibn Rusyd adalah keluarga terpandang dan berpengaruh.

Dalam bidang hukum mereka adalah penganut mazhab Maliki. Ibn Rusyd sendiri adalah sosok yang paripurna dalam ilmu, kewibawaan, dan memiliki kepribadian yang baik dalam pergaulan. Dalam sebagian literatur disebutkan bahwa karena tokoh ini memiliki kesamaan nama dengan kakeknya, yakni nama Muhammad, dan keduanya pun sama-sama pernah menduduki jabatan tinggi negara pada zaman masing-masing, karena itu sebagian penulis di masa lalu membedakan dengan sebutan nama Ibn Rusyd Al-Jadd dan Ibn Rusyd Al-Hafîd. Sebutan pertama untuk sang kakek dan yang kedua untuk sang cucu. Sang kakek adalah Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Al-Maliki, meninggal tahun 520 H. Sebagai seorang tokoh terkemuka di Cordova, yang karena kapasitasnya sang kakek ini disebut juga sebagai seorang faqih, alim dan hafizh. Tampaknya karena sang cucu yang terlahir dari keluarga yang amat terpandang dan sangat luar biasa dalam kecintaan pada ilmu pengetahuan ini mendapatkan karunia besar, karena keberadaan itu membukakan jalan baginya untuk juga tumbuh menjadi orang yang mencintai ilmu. Benar saja, karena ia terbukti mewarisi tradisi keilmuan dalam keluarganya, bahkan kelak ia mencapai kedudukan dalam bidang ilmu melebihi yang pernah diraih oleh kakeknya. Ibn Rusyd tampil menjadi tokoh pemikir, filsuf, ilmuwan, sekaligus agamawan.

Pada masa sekarang, seperti digunakan dalam beberapa sumber, misalnya pada ensiklopedia terbuka Arabic Wikipedia sebutan nama Ibn Rusyd, jika tidak disertai dengan keterangan khusus maka sebutan nama tersebut adalah ditujukan kepada sang cucu itu. Sedang untuk sang kakek digunakan judul entri Ibn Rusyd Al-Jadd. Di dalam tulisan ini tokoh yang di Dunia Barat dikenal sebagai Averroes ini pun juga hanya disebut sebagai Ibn Rusyd. Hidup wilayah timur, Ibn Rusyd adalah potret cendekiawan yang memiliki minat sangat tinggi untuk mempelajari berbagai bidang keilmuan yang berkembang pada zamannya. Berbagai disiplin ilmu ia kuasai, seperti ilmu Kalam, Fiqh, Tafsir Al-Quran, Hadits, Bahasa dan Sastra Arab, Matematika, Fisika, Astronomi, Kedokteran, Filsafat dan Logika. Muhammad Imarah dalam pengantar buku Fashl al- Maqal fi ma bayn al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, menggambarkan bahwa Ibn Rusyd adalah sosok yang sangat mencintai ilmu.

Karya Intelektual Ibn Rusyd

Ibn Rusyd meninggalkan banyak karya, diantaranya berupa karya asli yang murni dari pemikirannya, berupa buku dan risalah. Selain itu, ada karyanya berupa komentar-komentar, penafsiran, atau ringkasan dari karya pemikir lain, terutama karya-karya filsuf Aristoteles. Di antara karya-karyanya yang dihimpun dari berbagai sumber, dari sosok Filosof muslim terkemuka ini, kurang lebih 37 karya terbaiknya yang gali, saya hanya menyembut 11 karya besarnya dibawa ini adalah sebagai berikut: 1. Al-Da’awat, sebuah buku tentang hukum acara peradilan. 2. Al-Jism al-Samawi, karya Ibn Rusyd mengenai benda-benda langit yang ia tulis saat berada di Marakes hingga ketika berada di Seville pada tahun 1178-1179. 3. Al-Kasyf ‘an Manâhij al-Adillah fî ‘Aqa’id Ahl al-Millah, sebuah kitab yang mengulas tentang pandangan para Mutakallimin dalam masalah-masalah ketuhanan. 4. Al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, juz 21, hlm. 309. Sosok Tokoh Pemikir5. Bidâyah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, sebuah kitab dalam bidang fiqh dengan metode komparatif (muqâranah al-madzahib). 6. Dhamînah li Mas’alah al-‘Ilm al-Qadim, merupakan tulisan pelengkap sebagai apendiks pada buku Fashlal-Maqal. 7. Fashl al-Maqal fima bayna al-Hikmah wa al-Syari‘ah min al-Ittishal. Kitab ini merupakan pernyataan pendiriannya menyikapi pandangan para ulama yang memperhadapkan antara akal dan wahyu, maka Ibn Rusyd menyatakan bahwa dalam Islam akal dan wahyu itu berada dalam hubungan yang harmonis. 8. Jawami‘ Siyasah Aflathun, sebuah komentar atas buku Politeia karya Plato. 9. Kitab al-atsar al-‘Ulwiyyah, sebuah karya terjemahan dari buku Meteorologica karya Aristoteles mengenaibenda-benda di jagat raya. 10. Kitab al-Hayawan, komentar Ibn Rusyd atas buku DeAnima karya Aristoteles. 11.  Tahafut al-Tahafut. Kitab ini adalah salah satu karya Ibn Rusyd yang paling berpengaruh dalam bidang filsafat. Kitab ini ditujukan untuk melakukan kritik terhadap pemikiran Al-Ghazali yang menolak pemikiran para filsuf sebagaimana dituangkan dalam kitab Tahafut al-Falasifah.

Dasar pikir Ibn Rusyd Dalam Mengharmonisasikan Agama dan Filsafat

Ide mempertemukan antara syari’ah dengan hikmah atau agama dengan filsafat rupanya tidak muncul begitu saja, akan tetapi sebahagian menyebutkan bahwa ia terkait dengan sosio-historical problems yang ada pada waktu itu. Bahkan salah satu hal yang ikut mempertegang hubungan antara filsafat dengan agama adalah perdebatan mengenai kausalitas yang terjadi pada filsafat Islam abad pertengahan antara al-Ghazali lewat Tahafut al-Falasifah-nya dengan Ibnu Rusyd lewat Tahafut at-Tahafut dengan menjustifikasi terhadap kerancuan para filosof sebanyak 20 masalah, 3 di antaranya memvonis kafir zindiq. Abdul Mustaqim, memaparkan bahwa mengkaji sebuah pemikiran apapun termasuk pemikiran Ibnu Rusyd harus dikaitkan dengan konteks kesejarahannya, mengapa muncul ide tentang perlunya mempertemukan antara agama dan filsafat, wahyu dan akal.

Bagaimana konteks sosio kultural bahkan politik yang meh’ngkupi pada waktu itu. Ketika mengkaji sejarah filsafat maka harus juga jelas apa fundamental struktur pemikirannya. Jika para filosuf di Andalusia seperti, Ibnu Tufail, Ibnu Bajah dan Ibnu Masarrah dan Ibnu Rusyd, dengan gigihnya ingin menjelaskan kepada masyarakat bahwa sesungguhnya antara agama dengan filsafat tidak bertentangan, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah hal itu semata-mata memang filsafat secara fundamental tidak bertentangan dengan agama (syariah), atau karena kecintaannya mereka terhadap pemikiran filsafat, sehingga mereka begitu getol untuk memperjuangkan filsafat agar tidak kehilangan elan vitalnya dan dapat diterima masyarakat? Atau karena mereka termasuk dalam haI ini Ibnu Rusyd khawatir akan kutukan kaum muslimin terhadap filsafat dan para filosuf sendiri sebagaimana pendapat yang dilontarkan Goldziher. Kegigihan Ibnu Rusyd membela filsafat, khususnya filsafat Ibnu Sina dengan mengkounter al-Ghazali lewat Tahafut at-Tahafut, (distruction of distruction) atau lewat al-Kasyfu ‘an Manahij al-Adillah), ternyata tidak disebabkan oleh kekhawatiran beliau akan kutukan masyarakat kaum muslimin. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa agama dengan filsafat sesungguhnya tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan. Dan pembelaannya terhadap filsafat tidak dimaksudkan untuk menjauhkan masyarakat dari agama, melainkan bertujuan untuk mensingkronkan atau mensinergikan keduanya. Sebab, terjadinya kesan bahwa agama bertentangan dengan filsafat disebabkan oleh karena adanya salah paham terhadap agama dan filsafat itu sendiri.

Dalam hal ini Ibnu Rusyd pernah mengatakan bahwa: “Al-Ghazali telah salah dalam memahami syari’at (agama), begitu juga dalam memahami filsafat, filsafat dan agama, keduanya ibarat saudara sepersusuan (tau’amatani). Keduanya sama-sama ingin mencari sebuah kebenaran, hanya perbedaannya terletak pada masalah metodologi yang dipergunakan. Secara garis besar, ada tiga faktor yang melatar belakangi muculnya gagasan tersebut yaitu: 1. Faktor Sosiologis. Di Andalus, masyarakat cenderung mempunyai pandangan bahkan hampir menjadi idiologi bahwa kebenaran adalah yang disuarakan oleh para fuqaha, dan yang menyalahi pandangan itu dianggap menyalahi syari’at. 2. Kondisi objektif. Masyarakat muslim Andalus saat itu mengandaikan adanya titik temu antara agama dengan filsafat. Sebab konflik dan ketegangan antara kaum fuqaha dengan filosof sudah begitu parah bahkan sudah sampai tingkat saling mengkafirkan. Terlebih pada saat itu fiqh yang berkembang adalah fiqih madzhab Maliki yang sangat bercorak tradisonal dan tekstual atau deduktif tekstual, sehingga kurang dapat menyantuni terhadap pemikiran filsafat saat itu yang cenderung radikal rasional. 3. Faktor Ideologis. Ibnu Rusyd, beliau sangat gandrung dan menyukai kepada pemikiran Aristoteles. Terbukti beliau begitu besar perhatiannya untuk memberikan ulasan atau komentar terhadap kitab-kitab Aristoteles dan beliau begitu tinggi memberikan penilaian terhadap Aristoteles. Seakan-akan Aristoteles merupakan sosok manusia yang telah mencapai kesempurnaan akalnya dan pendapatnya maksum dari kesalahan. 3 Hal ini juga rupanya yang menjadi di antara sebab Ibnu Rusyd dituduh zindiq bahkan kafir oleh kaum fuqaha. Baca Abdul Mustaqim, (Corak Tafsir Falsafi Ibnu Rusyd).

Epistemologi Ibnu Rusyd dalam Mengharmonisasi Agama dan Filsafat

Sebelum penyusun lebih jauh membahas tentang rekonsiliasi wahyu dan rasio, maka menyusun terlebih dahulu mengantar kepada pemahaman Ibnu Rusyd tentang wahyu menurut agama. Menurut Ibnu Rusyd bahwa “wahyu” dimaknai olehnya lebih sebagai “hikmah” yang diartikan sebagai “pengetahuan tertinggi tentang eksistensi-eksistensi spritual (al-ma’rifah bi al-asbab al-ghaibah)”. Melalui hikmah ini, seorang nabi bisa mengetahui kebahagiaan hakiki yang berkaitan dengan kehidupan sesudah mati. Oleh karena itu, dalam kitabnya tahafut al-tahafut, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa seorang nabi yang telah menerima wahyu berarti ia telah menerima hikmah, sehingga seorang nabi berarti seorang ahli hikmah, tetapi orang yang ahli hikmah belum tentu seorang nabi. Untuk dan demi tercapainya kebahagiaan yang dimaksud, maka diturunkanlah syari’at (aturan-aturan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan praktis) kepada manusia.

Adapun materi ajarannya menurut Ibnu Rusyd adalah ajaran-ajaran yang dapat menyampaikan kepada tujuan tersebut yang terdiri dua hal; (1) ajaran tentang al-‘ilmu al-haq (ilmu yang benar); ilmu pengetahuan yang mengenalkan manusia kepada Allah sebagai Dzat yang maha Suci dan maha Tinggi, mengenalkan kepada segala bentuk realitas wujud sebagaimana adanya terutama yang bersifat metafisik dan mengenalkan pahala dan siksa di akhirat, dan (2) al-‘amal al-haq (amal yang benar) atau al-‘ilmu al-‘amali; perbuatan yang akan membawa kepada kebahagiaan dan menjauhkan dari penderitaan. Perbuatan yang benar ini terbagi dua; (1) perbuatan-perbuatan dzahir yang bersifat fisik sebagaimana dalam aturan hukum fiqh (yurisprudensi), (2) perbuatan-perbuatan yang bersifat psikis dan spritual, seperti rasa syukur, sabar dan bentuk-bentuk moral etika lainnya yang diajarkan syariat yang kemudian dikenal dengan prilaku zuhud. Akan tetapi, yang menarik adalah bahwa isi syari’ah itu bisa diturunkan lewat intelek itu sendiri selain dari pada wahyu, hanya saja tingkatannya lebih dibawah dari pada syariah yang disertai intelek dari wahyu. Seperti kata Ibnu Rusyd dalam kitabnya Tahafut –al-Tahafut; Dalam hal ini, nampaknya Ibnu Rusyd berusaha untuk mensejajarkan dalam artian mendampingkan rasional (akal) dengan wahyu (ayat-ayat qauliyah) dan alam (ayat-ayat qauniyah), supaya penalaran rasional tidak berseberangan dan bertentangan dengan syariat.

Bagi Ibnu Rusyd, titik temu agama adalah sebuah keniscayaan. Ada asumsi dasar yang menjadi landasan filosofis bagi Ibnu Rusyd dalam rangka merekonsiliasi agama dan filsafat. Paling tidak ada tiga asumsi, yaitu: 1. Ad-Din Yujibu at-Tafalsuf (Agama mengandaikan dan mendorong untuk berfilsafat). Pandangan tersebut senada dengan yang dinyatakan Muhammad Yusuf Musa bahwa Thabi’ah al-Qur’an Tad’u li at-Tafalsuf (Karakter al-Qur’an mengajak untuk berfilsafat). Terbukti banyaknya ayat yang menganjurkan untuk melakukan tadabbur, perenungan, pemikiran tentang alam, manusia dan juga Tuhan. 2. Anna as-Syar’a fihi Dhzahirun wa Batinun, yaitu bahwa Syariat itu terdiri dari dua dimensi, yaitu lahir dan batin. Dimensi lahir itu untuk konsumsi para fuqaha’, sedang dimensi batin itu untuk konsumsi para filusuf. 3. Anna at-Ta’wil Dharuriyyun li al-Khairi as-Syari’ah wal Hikmah aw ad-Din wal Falsafah. Atinya, ta’wil merupakan suatu keharusan untuk kebaikan bagi syari’at dan filsafat.

Adapun pendekatan yang dipergunakan oleh Ibnu Rusyd melalui dua cara yaitu pendekatan rasional (dari sudut penelitian akal) dan pendekatan syar’i (dari sudut nash agama). Sehingga hasil dari pendekatan syar’i direkonsiliasi ke hasil pendekatan rasional. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dalam pembahasan kitabnya Fashl al-Maqal terlebih dahulu bertanya tentang hukum mempelajari filsafat menurut agama, apakah dibolehkan (mubah), atau dilarang (mahzur), atau diperintahkan (ma’mur), baik sebagai perintah wajib ataupun sebagai perintah anjuran?. Untuk pendekatan yang pertama, menurut Ibnu Rusyd bahwa filsafat adalah mempelajari segala yang wujud (maujudat) dan merenungkan sebagai suatu bukti tentang adanya pencipta.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa segala yang ada ini, sebagai suatu ciptaan menunjukkan adanya penciptanya. Dan untuk mengetahui pencipta tersebut mesti mengetahui ciptaan atau sunnatullah-Nya. Justru itulah menurutnya, semakin sempurna pengetahuan terhadap ciptaan-Nya niscaya semakin sempurna pula pengetahuan tentang sang Pencipta. Untuk pendekatan yang kedua, ia mengemukakkan. Baca Ibn Rusyd (Epistemologi Burhani, akal berdiri sendiri di samping wahyu (ayat-ayat qauliyah).

Secara epistemologis, metode yang ditempuh oleh Ibnu Rusyd dalam rangka mempertemukan agama dengan filsafat adalah dengan cara menggunakan metode qiyas dan ta’wil. Menurut Ibnu Rusyd bahwa antara filsafat dan agama tidaklah bertentangan, karena kebenaran tidaklah berlawanan dengan kebenaran yang lain melainkan saling memperkuat. Dengan kata lain, filsafat adalah saudara kembar agama, antara keduanya bagaikan sahabat yang pada hakikatnya saling mencintai dalam mencari hakikat kebenaran. Dalam bahasa Abdul Mustaqim disebutnya sebagai saudara sepersusuan (tau’amatani) yang keduanya sama-sama mencari sebuah kebenaran.

Selanjutnya, Ibnu Rusyd mengungkapkan apabila akal menghasilkan pengetahuan tentang sesuatu, maka akan terjadi dua alternatif, yaitu sesuatu itu tidak disebutkan oleh agama dan atau sesuatu itu disebutkan oleh agama. Jika sesuatu itu tidak disebutkan oleh agama berarti tidak ada persoalan, dalam artian bahwa sesuatu yang dihasilkan itu dapat dijadikan pegangan. Hal ini sama kedudukannya dengan hukum yang tidak disebutkan dalam syara’ sehingga ahli fiqih menggunakan qiyas syar’i. Jika ahli fiqh menggunakan qiyas syar’i maka tidak ada salahnya filosof menggunakan qiyas aqli. Sehingga tidak ada alasan untuk menuduh bid’ah terhadap orang yang menggunakan qiyas aqli karena sama kondinya dengan orang yang menggunakan kias syar’i. Sementara itu, penggunaan qiyas syar’i dalam masalah-masalah fiqih sudah dilakukan oleh ulama salaf sejak awal Islam. Jika sesuatu itu disebutkan oleh agama, maka terjadi dua alternatif, yaitu nashnya sesuai dengan hasil akal dan atau nashnya bertentangan dengan hasil akal. Jika nashnya bersesuaian maka itu tidak ada masalah, artinya bahwa nash menguatkan apa yang dihasilkan oleh kajian akal. Jika bertentangan dengan nash, maka nashnya harus di-takwil-kan.

Dari sinilah kita menemukan gambar secara jelas bahwa agama dan filsafat itu tak bertentangan namun saling harmonis antar satu dan lainnya.

“Filosof itu bukan hanya sekedar memfilsafati kehidupan, tapi juga menghidupkan filsafat. Bukan hanya memikirkan kehidupan, tapi juga menghidupkan pikiran. Dan itu semua diwujudkan dengan menjadikan filsafat dan rasionalitas sebagai gaya hidup (Life Style), gaya hidup filosofis sekaligus gaya hidup rasional atau mengabdikan dirikan kepada pengetahuan”.

Selamat Membaca, Semoga Bermanfaat…

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut