Reposisi Peran Pemuda Dalam Mengawal Pembangunan Bangsa

  • Bagikan

Mohtar Umasugi

Pembantu Ketua Bidang Akademik dan Kemahsiswaan STAI Babussalam Sula Maluku Utara

 

 

Historis Sebuah Wacana.

Dalam lintasan sejarah membuktikan, ibarat kata Bung Karno, “beri aku satu pemuda maka aku akan mengguncang dunia”, pemuda dalam dinamika kehidupan masyarakat selalu memegang peranan penting di setiap transformasi sosial, mengakselerasikan dan memperjuangkan untuk meraih cita-cita dan peradaban masa depan suatu bangsa. Di Indonesia, pemuda sebagai nafas bangsa membuktikan peranannya terhadap pembangunan peradaban bangsa, secara historis, peran pemuda tidak dapat dinafikkan dari sejarah peradaban bangsa Indonesia, sejarah dapat membuktikan dimana peran pemuda begitu dominan dalam melakukan perubahan sejarah nasional. Dimulai dari kebangkitan nasional 100-an tahun silam, sumpah pemuda, kemerdekaan Republik Indonesia, tumbangnya orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun hingga lahirnya orde reformasi dan oleh pemuda gerakan generasi 1908, generasi 1928, generasi 1945, generasi 1966, generasi 1978, Era NKK/BKK, generasi 1990 dan generasi 1998. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan akan terus menerus hidup dalam ketidakadilan bahkan penindasan.

Tidak hanya di Indonesia, di eropa pun sejarah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi transformator utama dalam setiap pergerakan dan kebangkitan suatu bangsa, misalnya kebangkitan Eropa diabad pertengahan (1789) digerakkan oleh kaum pemuda seperti, Condorcet, Olympe de Gouges, Rosseu, Montesquieu, Rene Descrates, yang menjadi penggerak utama masyarakat Eropa yang berujung dengan revolusi dan kemudian menandai zaman baru yang mengilhami bangkitnya masa renaissance (pencerahan) di Eropa. Di Rusia, Revolusi Bolsevik (Oktober 1917) menandai jatuhnya Dinasti Romanov dengan nakhodanya Tsar Nicholas II, diiringi tumpahan darah 15 juta orang selama Revolusi juga digerakkan oleh kaum muda. Namun semua itu hanyalah cerita indah dalam lembar sejarah.

Apa Yang Dilakukan Pemuda

 Berkaca dari kongres Pancasila III di Surabaya pada 31 Mei–1 Juni 2011 lalu menghasilkan gagasan untuk melibatkan pemuda sebagai subyek pengembang nilai-nilai Pancasila. Pemuda diharapkan mampu mengaktualisasikan peranannya sebagai nafas bangsa dan sebagai penerus tonggak istafet perjuangan menjaga dan membangun peradaban bangsa. Namun sayangnya, dewasa ini para pemuda telah kehilangan jati dirinya, nilai-nilai dan karakter pemuda telah mengalami degradasi karakter yang luar biasa, pemuda dewasa ini begitu apatis dengan wawasan sumpah pemuda, sehingga mereka tak mampu lagi memahami makna esensi dan aktualisasi dari sumpah pemuda yang menjadi saksi kehebatan peranan pemuda pada masa dulu.

Kini kondisi pemuda dalam keadaan yang mengenaskan, mereka lebih banyak terjebak dalam arus globalisasi dan budaya pragmatisme, sehingga terjadi kelesuan yang luar biasa dalam berbagai peranan yang mesti diambil pemuda sebagai generasi harapan bangsa. Pemuda kini daripada memaknai dan mengaktualisasikan nilai sumpah pemuda dalam kehidupan lebih suka melakukan aksi, perkelahian, ataupun terlena dengan berbagai lagu cengeng sehingga mental pemuda menjadi beringas, kalau tidak loyo dan lebay. Padahal masyarakat membutuhkan pemuda dalam setiap masalah dikehidupan mereka, pemuda yang akan berdiri di hadapan rakyat dari para penindas untuk pembelaan dan perjuangan aspirasi masyarakat, yang berani berjuang, berkorban dan berani mengungkapkan fakta di tengah kisauan belati, yang mampu memahami realita kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga penting bagi pemuda untuk segera melakukan reposisi peranan dan mengembalikan formasi mereka dalam kehidupan masyarakat untuk mengakselerasikan dan membangun peradaban bangsa meraih identitas mereka kembali. Maka, di tengah keterpurukan bangsa ini, pemuda seharusnya dijadikan momentum untuk merehabilitasi dan meritalisasi nilai dan peran sumpah pemuda dalam dirinya, memaknai sumpah pemuda tidak sekedar seremonial belaka tapi lebih pada esensi dan substansinya, menumbuhkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam diri serta mampu mengaktualisasikannya dalam konteks kehidupan nyata.

Maka, semua tingkah laku dan perbuatan pemuda harus dijiwai dengan sepenuhnya dan merupakan hasil pancaran dari sumpah pemuda, pemuda tak selayaknya terus terbuai dan tereuforia dengan segala catatan gemilang pemuda dalam lembar sejarah, akan tetapi sudah saatnya pemuda kembali mengukir sejarah sebagaimana yang telah ditorehkan para generasi pemuda dulu, mengukir sejara gemilang di tengah bangsa yang tengah merindukan tegaknya supremasi hukum, merindukan subtansi kemerdekaan bangsa yang nyata.

Reposisi Peran Pemuda

Melebihi dugaan semula para ahli, krisis multidimensional yang mendera Indonsia saat ini bukanlah sembarang krisis yang bisa dihadapi secara tambal sulam. Krisis ini begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya, menyerupai zaman peralihan, dalam gambaran Karel Amstrong (2006). zaman jahiliyah yang penuh prahara, pertikaian, kedunguan, kehancuran tata nilai dan keteladanan. Kegelisahan muncul dimana-mana. Disesalkan para elit politik yang mestinya sibuk bekerja keras untuk menyelesaikan masalah, malah ingkar dari perannya sehingga memperparah keadaan. Begitupun dengan kaum muda, yang katanya agent of change, tapi malah sibuk dalam hiruk-pikuk yang tak menentu. Dalam kondisi ini dimana sesungguhnya peran mereka yang katanya harapan bangsa? Apakah hanya sekedar menjadi penonton pada babak baru penderitaan bangsa ini?

Mengutip Pramudya Ananta, bahwa pemuda bukan hanya sekedar umur, tapi juga gagasan yang progresif, radikal dan militan. Sehingga ia mampu menjadi motor serta lokomotif perubahan yang akan diusung. Bercermin dari sejarah perjuangan generasi muda masa lalu, mereka adalah orang- orang yang punya semangat juang yang bermodalkan kesadaran bahwa hidup dalam keadaan tertindas. Kondisi sulit ini justru membangkitkan semangat sehingga begitu banyak agenda-agenda perubahan yang mereka toreh buat bangsa ini, seperti; Sumpah Pemuda 1928, Pancasila dan UUD 1945, Tritura 1966, dan terkini agenda reformasi 1998 yang belum pernah usai. Dan semua ini dilakukan bukan hanya dengan tenaga, waktu dan pikiran semata, akan tetapi juga dengan tetesan darah dan segenap jiwa raga demi terwujudnya sebuah bangsa yang merdeka dan beradab.

Menyakini perjuangan itu, masih menyisakan pekerjaan rumah yang rumit dan panjang, tentu secara moral merupakan kewajiban yang tak terelakkan bagi setiap pemuda dengan senantiasa ber-ijtihat dan ber-jihat dalam usaha ikut serta memecahkan persoalan yang masih membelenggu negeri ini. Kemelut yang sedemikian panjang, tiap harinya kita disuguhkan dengan prilaku para elit dan penguasa yang sedang berlomba-lomba mengkhianati negerinya. Hukum dan institusi lumpuh tak mampu meredam perluasan korupsi, ketamakan dan kerakusan merajalela, kebaikan dimusuhi, kemungkaran diagungkan. Dan ketika salah satu pihak merasa di atas angin, ia akan menggertak yang lain. Menurut Nietzshe (1844-1900), inilah naluri yang tak pernah padam dari manusia yaitu hasrat untuk berkuasa.

Jika fenomena ini dibiarkan, maka akan memperburuk keadaan yang lama kelamaan akan menjadi bangsa yang kerdil. Para elit yang duduk di eksekutif dan legislatif cenderung mempertontonkan prilaku politik praktis-pragmatis. Sedangkan tingkat pendidikan masyarakat kita umumnya masih tergolong rendah sehingga kurang mungkin memunculkan sikap kritis terhadap prilaku itu. Harapan satu-satunya untuk menjalankan fungsi korektif adalah para kaum menengah, yang memiliki idealisme dan semangat juang untuk mengubah lingkungan yang kejam.

Kadang sangat ironis memang, dalam keadaan bangsa yang sedang carut-marut, ternyata masih kita temukan generasi yang enak ketawa terbahak-bahak, mondar-mandir kesana- kemari tanpa prospek. Mereka larut dalam hiruk-pikuk dunia yang tak menentu untuk memenuhi hasrat diri tanpa peduli terhadap realitas negara-bangsa (nation-state). Egosentrisme dan jauh dari etika. Satu sisi mereka diharapkan melakukan perubahan melalui gerakan moral (moral force). Namun, malah terjebak dalam sikap anarkisme yang tak rasional, yang senantiasa mengaburkan identitas dan citra kaum muda.

Mengutip Muhammad Taufik, Mereka seolah-olah menjadi manusia kering dalam negeri yang terpasung. Gerakannya menjadi lamban ketika berhadapan dengan “the Other”, kaum muda tidak hanya kekeringan nalar tapi gugup bahkan kehilangan identitas. Pecahnya kemarau makna yang dirasakan beberapa tahun kebelakangan ini, belum juga dihujani oleh gagasan segar yang menghentakkan kebekuan. Para intelektual muda ini seolah-olah telah kehilangan panduan dalam berbangsa, berkelompok bahkan beragama. Mereka hanya bermain dalam pusaran kehidupan yang dikonstruksi oleh orang lain. Satu sisi mereka diharapkan bisa mengubah lingkungan, namun naifnya mereka juga ikut larut dalam lingkungan itu. Inilah generasi yang amnesia (Muhammad Taufik, 24/04/2008).

Kita berharap agar kaum muda segera berhenti terlena memikirkan diri sendiri. Sadarlah akan tugas dan tanggung jawab selaku anak bangsa. Mampu menahan diri terhadap hal yang merusak lantaran kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba canggih. Justru kita berharap sebaliknya, bagaimana bisa memanfaatkan kemajuan itu untuk kemajuan pula, yaitu kemajuan masyarakat yang dibarengi dengan kemajuan jiwa dan raga, bukan memanfaat kemajuan mengakibatkan kemunduran moral. Karena kemunduran moral tiap individu akan dirasakan pada kualitas sebuah bangsa, tinggal lagi menunggu bom waktu.

Hari ini berpikirlah kalau diriku bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain. Karena menurut Ali Shariati “seorang intelektual, akan lebih bermakna bila ia bersama masyarakat, membimbing masyarakat, membina masyarakat lalu melakukan perubahan bersama masyarakat” (Ali Shariati, 2007:323).

Sudah saatnyalah kita mengevaluasi reformasi yang belum usai ini. Atau sampai di sinikah kita menjalani hidup ini hanya sekedar mengikuti arus sebagaimana adanya? Atau pula perlukah kita berikhtiar dengan merapatkan barisan menyusun kekuatan untuk menghadapi segala persoalan. Hemat saya, di sinilah pentingnya gerakan reposisi itu, reposisi yang berusaha bercermin dari sejarah yang berisi nilai dan semangat juang serta pemahaman kebangsaan yang sejati. Karena hari ini kita rindu dengan sosok pemuda seperti Soekarno, Boedi Oetomo yang punya spirit perjuangan pantang menyerah. Tidak tergiur oleh pengaruh apapun, hatinya tetap kokoh bak batu karang di laut yang tak bergeser walupun kuatnya hantaman ombak. Namun, ia tetap pada posisi.

Inilah gambaran mental pemuda yang dibutuhkan bangsa hari ini, yang senantiasa konsisten dengan nilai yang dianut. Bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas secara filosofistidak atas dasar kebahagiaan manusia yang utuh terletak pada ekspedisi fisik dan material, melainkan dalam rupa peningkatan jiwa dan rohani, memiliki semangat dan kemampuan menunda kesenangan sementara, jujur dan adil dalam bersikap.Dengan demikian, kaum muda akan mudah menjalankan agenda yang strategis khususnya dalam rangka mengawasi reformasi.

Pada pasca reformasi setidaknya ada dua misi. Pertama; misi korektif, yaitu peran Pemuda dalam menjalankan fungsi sosial kontrol terhadap pelaksana kegiatan negara khususnya, masyarakat sosial umumnya. Dalam menjalankan misi ini pemuda diharapkan tidak terjun kedalam kegiatan politik praktis, tapi lebih pada pengawalan terhadap kegiatan politik itu agar lebih terarah dan berimbang, bernilai serta mencerdaskan. Karena dengan demikian kita meyakini akan lebih bersifat edukatif yang esoknya akan melahirkan gerakan pemuda yang berbasis pada pengetahuan ketimbang kepentingan. Kedua; misi transpormatif, yaitu pemuda bertugas ikut serta dalam mencerdaskan masyarakat. Menurut Antonio Gramsci yang diubah itu adalah pola pikir dan pemahaman mereka tentang dunia, serta norma prilaku moral agar mereka menjadi lebih baik, terutama pada generasi (Roger Simon: 2004, 26). Inilah revolusi moral dan intelektual yang harus dimotori oleh kaum muda hari ini.

Tanggung Jawab Pemuda (sebuah catatan akhir)

 Sebagai bagian dari warga negara dan merupakan sosok yang diharapkan bangsanya untuk mengendalikan arus transformasi dan segala kejadian yang terjadi dalam dinamika kehidupan di masyarakat. Mereka -menurut Novita Dewi, Dosen Sosiologi Hukum Faklutas Syariah IAIN Walisingo Semarang- mempunyai tiga tanggung jawab yang mesti diemban. Pertama, tanggung jawab mikro yang mencakup dalam empat pokok penting: peduli terhadap diri sendiri, peduli terhadap peningkatan kualitas diri, peduli terhadap ketahanan diri dan peduli terhadap lahirnya generasi berkualitas.

Fakta menunjukkan bahwa dalam dimensi inilah pemuda mengalami kemerosotan yang luar biasa, dari aspek pendidikan misalnya, para pemuda lebih asyik nongkrong dan pelesiran daripada mengejar pendidikan, dan mereka yang mengejar pendidikan kebanyakan hanya mengejar prestise dan titel untuk kepentingan tertentu sehingga melupakan esensi perjuangan dan makna pendidikan yang sebenarnya untuk membentuk karakter dan kualitas diri, mereka lebih suka terganung dalam ruang hidup yang pragmatis, instan dan cenderung hedonis.

Kedua, tanggung jawab dalam dimensi mezzo yang mencakup pada tanggung jawab terhadap lingkungan yang meliputi tanggung jawab terhadap perkembangan alam serta tanggung jawab sosial, dalam dimensi ini pemuda diharapkan mampu merangsang dan mensintesakan setiap peristiwa yang terjadi dalam lingkungannya dan mampu menguraikan persoalan-persoalan yang terjadi, mengurainya hingga bisa dipahami akar permasalahan yang sesungguhnya serta memberikan suatu sentuhan untuk memecahkan permasalahan yang ada serta menawarkan gagasan-gagasan baru untuk merepresi segala budaya buruk yang terjadi dalam masyarakat. Mereka diharapkan mampu menghentikan penjajahan non fisik yang dilakukan oleh bangsa sendiri, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan.

Ketiga, tanggung jawab dimensi makro, yaitu tanggung jawab terhadap kondisi dan pembangunan bangsa serta segala dinamika yang terjadi didalamnya. Dalam dimensi ini, pemuda mempunyai posisi yang strategis, sebagai stake holder kebijakan pemerintah, mengkritisi dan memperjuangankan setiap aspirasi rakyat yang menganggap kebijakan pemerintah telah menyeleweng, pemuda pula yang diharapkan mampu membantu negara membangun negeri, memberikan ide-ide cemerlang dan tindakan brilian serta mengorbitkan calon-calon pemimpin bangsa generasi mendatang.

Hemat saya inilah beberapa hal penting yang perlu direnungkan secara mendalam oleh generasi muda hari ini serta selalu meningkatkan semangat optimisme dalam rangka menuju pencerahan masa depan bangsa, terutama dalam mengawal pembangunan demi kesejahteraan rakyat di negeri kita tercinta Kabupaten Kepulauan Sula.

Demikian saya ucapkan terima kasih atas sebuah penghargaan untuk menyampaikan pikiran sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalam….. (*)

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut