Benarkah Filsafat Telah Mati dan Tak Ada Lagi Masa Depan Filsafat Diera Disrupsi?

  • Bagikan

Rusmin Hasan

Pegiat Filsafat

 

Akhir-akhir ini perbincangan tentang filsafat diruang publik seakan menuai kontraversi, ada sebagian alih-alih yang berasumsi bahwa filsafat akan mengalami kepunahan? Benarkah demikian…?.

ASUMSI yang mengatakan bahwa Filsafat telah mati pertama kali, diperkenalkan oleh “Stephen Hawking”. Seorang Fisikawan ia menulis dalam karyanya: “A Brief History Of Time”. Ia mengatakan bahwa filsafat sudah jauh ketinggal zaman, karena ketidak mampuan dalam mengejar kemajuan teknologi, terutama fisika. Dengan mengacu pada pertanyaan pada awal mula alam semesta, Hawking berasumsi bahwa filsafat tak mampu menjawab pertanyaan mendasar tentang: Mengapa kita ada di alam ini? Dari mana kita berasal.

Asumsi-asumsi fundamental dari Hawking ini mengingat imajinasi kita tentang awal filsafat klasik, ketika para filosof yunani bertentang tentang awal mula alam ini terbentuk seperti: Anaxagoras, Pythagoras, Socrates, Plato dan aristoteles. Sumbangsi pemikiran filosof yunani inilah membuka cara berfikir kita tentang pentingnya mempertanyaan secara kritis tentang asal muasal alam ini, dan dari mereka kita bisa menatap dunia lebih luas bukan hanya sekedar berputar pada perdebatan teologis namun melihat perkembangan dunia dari semua dimensi realitas.

Menurut hemat saya, Stephen Hawking dan para alih-alih yang mengatakan bahwa filsafat telah mati adalah bentuk dari ketidak mampuan mereka dalam memproduksi nalar kritis dan menafikan sifat dasar manusia sebagai makhluk berfikir. Hawking bukanlah seorang positivis reduksionis, filosof, namun ia hanya saintifik fisikawan yang hanya melihat dimensi realitas pada pendekatan fisika, namun ia hanya menggunakan sudut pandangan subjektif saintifik dan tak berdasarkan landasan ilmiah, pendekatan filosofis bahkan mengabaikan metode berfikir sistematis filsafat.

Ia lupa bahwa sejarah dan pusat dari semua disiplin ilmu pengetahuan termasuk sains adalah berasal dari induk filsafat. Dan akhirnya ia terpencara didalam metode berfikir saintifik yang apsurditas. Perluh kita ketehui bahwa Sains hanyalah menguraikan realitas secara empiris, namun sains tak mampu mengungkapnya realitas dibalik dimensi empiris tersebut. Semisal; Dari mana alam itu terbentuk, untuk apa ia ada dan bagaimana metodenya. Begitupula dengan realitas eksistensi manusia bahkan yang paling tinggi tentang relasi keduanya. Hal tersebut hanya bisa diungkapkan oleh filsafat secara filosofis dan rasional.

Filsafat Akan Tetap Hidup dan Bagaimana Masa Depan Filsafat Diera Disrupsi?

Filsafat sebagai sebuah ilmu. Kebanyakan akademisi, mahasiswa bahkan masyarakat pada umumnya kurang perhatian padanya. Banyak orang berasumsi bahwa belajar filsafat akan membawa kita atheis atau tak bertuhan, tak beragama dan hanya menghabiskan waktu. Banyak yang bertanya bahwa profesi dibidang filsafat arahnya tidak jelas, kita mau bekerja dimana? Bahkan yang lebih tragis sebagian masyarakat bahkan berasumsi bahwa filsafat tak menjanjikan prospek masa depan yang jelas dan mereka sering menjauh dari perbincangan filsafat, filsafat tak mampu menjawab komplesitas persoalan kemanusiaan diera disrupsi saat ini. Benarkan semua asumsi-asumsi diatas?

Lantas apa gunanya filsafat?, Filsafat sebagai disiplin ilmu yang mengajarkan kita sebagai entitas dari manusia berfikir untuk mengoptimalkan pola berfikir yang benar, sistematis dan radikal, sehingga manusia mampu memahami esensi kemanusiaannya. Filsafat pada pada dasarnya cinta akan kebijaksaan. Namun secara filosofis kebijaksaan yang dimaksud adalah pada proses mengasah penalaran, mencinta khasanah pengetahuan bahkan menghantarkan kita menjadi seorang filosof yang menjaga pikiran, mengabdi diri pada proses transformatif pengetahuan universal. Baik itu tentang eksistensi kemanusiaan, alam semesta dan dimensi absolut (Tuhan). Bahkan relasi antar ketiganya secara rasional, mendalam dan sistematis dan mampu dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dan tak kala pentingnya belajar filsafat adalah untuk kita terhindar dari kepercayaan yang dogmatis, fatanisme buta. Dengan filsafat setiap manusia yang beriman diajak untuk mengimani secara rasional, merdeka dan bebas tanpa intervensi apa pun itu. Manusia yang menjauhkan dirinya dari filsafat pada hakikatnya ia menafikkan dirinya sebagai manusia yang berfikir bahkan ia mengkonfirmasi ketidak mampuan dalam mengasah pikirannya dan mendistrubusikan ide tentang dirinya, alam semesta bahkan relasi dimensi keduanya secara kesinambungan keduanya, sekaligus ia telah membutuh dirinya sendiri sebagai manusia. Selama  Homo Sapiens atau manusia baik masih ada di muka bumi ini, selama itu pula filsafat tetap hidup, dan akan berkembangan pesat sesuai dengan relitas zaman.

Dengan demikian, maka manusia sangatlah membutuhkan filsafat sebagai metode berfikir untuk menjalin harmonisasi akal dan agama sebagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Meminjam pesan dari “Magnis Suseno” ia berpendapat bahwa filsuf tetap diperluhkan dipojok-pojok kebudayaan sebagai kritikus. Karena pada esensi filsafat membantu kita untuk berfikir kritis, termasuk sebagai kritik ideologi, dan menjadikan kita sosok ideolog dan pelaksana kebudayaan.

Dalam istilah Prof. Nurcholish Madjid bahwa filsafat dapat menjadi reservoir etika,dimana dalam situasi anomali nilai. Filsafat dapat memberi alternatif untuk rencana kebudayaan yang baru ditengah perkembangan masyarakat modern saat ini yang semakin krisis identitas. Filsafat melati kita untuk berfikir layaknya manusia, dan membedakan kita dengan hewan. Dengan akal manusia mengetahui, mana yang baik, dan mana yang buruk. Filsafat akan selalu hidup selama manusia itu sadar dan tetap ada. Tak ada dimensi realitas yang tak bisa diselediki dengan filsafat. Filsafat membuat kita beragama secara rasional, sehingga kita mampu menempuh jalan kebenaran dan menghindarkan kita dari kesalahan dan jalan yang tidak tulus, begitulah apabila kita mengharmonisasikan filsafat dan agama sebagai pandangan dunia untuk membantu kita memahami dimensi keuniversalitas Tuhan. Menghidupkan filsafat adalah menghidupkan pikiran, dan pikiran itu harus mampu memahami realitas sekaligus ikut serta dalam menjawab fenomena masyarakat ditengah komplesitas problem kemanusiaan. Dan filsafat adalah metode kontekstual dan akan tetap relavan sebagai metode untuk digunakan untuk memahami pandangan dunia ilahia maupun materis.

Bagaimana masa depan filsafat? Akankah benar-benar tetap hidup atau akan mengalami kepunahan seperti yang dikatakan para alih-alih diatas?. Dibawa ini, penulis akan uraikan secara detail masa depan filsafat diera disrupsi saat ini bahkan akan tetap hidup selama masih ada homo sapiens yang mendiami zakat kosmos ini.

Masa Depan Filsafat Diera disrupsi

Bagaimana masa depan filsafat diera disrupsi? Filsafat berasal dari bahasa yunani. Asal kata dari philosophia yang berarti  cinta akan kebijaksanaan. Filsafat pada prinsipnya metode paling gigih secara kemanusiaan untuk menghantar manusia memahami makna dan tujungan hidup. Berangkat dari makna pencariaan kebenaran, kearifan dan berujung pada etika. Dalam bahasa lansung; In the begining Reality was at, once being, knowledge and bliss.

Ketika hal tersebut mengawikili filsafat, pengertian tentang keberadaan adalah metafika, pengertian tentang pengetahuan, adalah epistemologi dan dan punjak pemahaman yang disebut sebagai kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia yang disebut sebagai etika. Masa depan filsafat akan selalu hidup apabila selalu diperpinjangkan, sekaligus bagi para filosof, cendekiawan bahkan pegiat filsafat melahirkan konstruksi berfikir baru didalam menggali filsafat sehingga mampu menjawab realitas isu-isu kontemporer diera disrupsi saat ini. Mengingat realitas akan selalu dinamis. Apakah dimasa depan masih ada kaum intelektual, filosof yang masih membicarakan filsafat? Apa saja tema yang akan diakangkat? Dan apa indikator untuk mengukur masa depan filsafat?

Dalam Karya John B. Searle “The Future Of Philosophy” (1999). Searle mengungkap perbedaan filsafat dan sains. Beliau berpendapat bahwa filsafat hanya membicarakan sesuatu abstraksi melalui pendekatan filosofis, sedangkan sains lebih membicarakan hal-hal yang empiris dan bukti-bukti ilmiah. Searle mengungkapkan perbedaan filsafat dan sains pada gambaran kanker.

Menurutnya; Kalau sains akan bertanya apa yang menyebabkan penyakit kanker?, sedangkan filsafat akan mempertanyakan apa hubungan sebab akibat dari kanker tersebut? Dari sinilah, menurut Searle masa depan filsafat ialah filsafat yang dibedakan dengan sains, lalu topik-topik apa saja yang akan dibicarakan didalam filsafat.

Ada enam topik yang sangat penting menurut Jhon B. Searle dalam membicarakan filosof masa depan diantaranya; yang pertama adalah Mind body problem yaitu fikiran dan tubuh atau otak dan kesadaran. Bagaimana kesadaran itu bisa lahir didalam otak. Kedua; Pikiran dan kognisi yaitu intensional atau keterarahan, kalau kita gambarkan otak adalah komputer maka kognisi itu adalah aplikasi dari komputer itu yang diistal.

Menurut Searle bahwa kalau kita tarik kepikiran bukan hanya mengungkapkan tentang simbol partikel namun dalam pikiran itu mampu menampilkan kecerdasan nalar atau kesadaran sario untuk menjelaskan partikel-partikel yang materi maupun non materi, menurutnya topik ini akan menjadi pembahasan menarik para filosof dimasa yang akan datang.

Ketiga adalah filsafat bahasa, menurutnya filsafat bahasa bukan hanya membicarakan teks semata namun membicarakan konteks dalam bahasa tersebut dan mengungkapkan secara ilmiah dari makna konteks tersebut. Kempat adalah Filsafat masyarakat atau sosial, menurut searle bahwa realitas masyarakat harus dikaji secara filosofis semisal; mengapa seseorang harus diingat didalam hubungan sosial masyarakat? Apa saja indikatornya dan bagaimana mengukurnya? Dari sinilah kita akan memahami esensi dari perkembangan masyarakat.

Kelima; Etika dan nalar praktis, menurut kita akan mengkaji secara kritis apakah tindakan manusia didalam realitas manusia itu objektif atau tidak?, Bagaimana kita mengukurnya dan apa saja metodenya?. dan Keenam adalah Filsafat Ilmu, menurutnya melalui filsafat ilmu kita akan mengkali secara mendalam apa saja indikator mengukur kualitas ilmu seseorang?. Dari mana ia dapatkan dan apa saja metodenya.

Perbincangan topik-topik diatas akan menarik diwacakan era disrupsi atau sekarang ini dan akan datang oleh para filosof, kaum intelektual bahkan pengiat filsafat. Dan filsafat akan selalu kontekstual dan mampu menjawab isu-isu diera disrupsi saat ini, seperti; demokrasi, HAM, Krisis Ekologi, Ekonomi dan lain sebagainya. Dikarenakan filsafat adalah induk dari semua ilmu pengetahuan yang berkembang. Dan akan ditelaah secara ilmiah, filosofis dan radikal terhadap suatu realitas zaman modern dan tumbuhnya perkembangan umat manusia. itulah kenapa, filsafat itu selalu relevan dengan zaman dan akan selalu berkembangan pesat selama Homo sapiens atau manusia bijak masih mendiami kosmos ini.

Dan dipertegas oleh Hassan Hanafi Dalam Bukunya; Studi Filsafat I dan II, Ia mengatakan bahwa Filsafat bukanlah pemikiran a-historis yang terlepas dari konteks sosial dan budaya, melainkan suatu sistem pemikiran yang tumbuh dalam suatu masa, dibangun oleh suatu generasi bangsa, melayani masyarakat dan mengekspresikan suatu peradaban. Inilah yang diupayakan oleh para pendukung paradigma sosial di dalam menelaah pemikiran-pemikiran, kendatipun ia adalah proposisi selft eviden truth (qadhiyah badîhiyyah) yang tidak butuh penetapan. Untuk inilah dibuat ilmu-ilmu humaniora secara komprehensif, misalnya ilmu pengetahuan sosial yang sudah terkenal atau antropologi budaya, dengan mentransformasikan sejumlah paradigma sejarah: sejarah filsafat, sejarah pemikiran, dan sejarah aliran pemikiran.

Menurut hemat saya, jika hari ini, kita masih tenggelam dalam polemik teologis, fatanisme buta, dogmatis dan urusan normatif lainnya. Itu bukti gamlang bahwa kita tak bisa berdamai dengan masa lalu dan tak bisa lepas dari penjara berfikir absurditas yang akan membawa kita terpenjarah didalam fikiran kita sendiri. Kita sudah harus membuka cara berfikir yang lebih moderat, inklusif dan kritis untuk melihat realitas dari segala dimensi bukan terkoptasi pada pola berfikir fatalistik dan tak berkemajuan yang akan membawa kita tak bisa berkembangan dan menatap dunia secara luar. Oleh karena itu, bagi yang masih berasumsi bahwa filsafat telah mengalami kepunahan dan tak lagi relevan, sekaligus akan membawa kita tak bertuhan.

Semoga mereka bisa tercerahkan melalui narasi singkat ini, dan menghantarkan mereka pada esensi kehidupan sekaligus pola beragama yang rasional dan mampu dipertanggung jawabkan secara argumentatif maupun filosofi untuk mengenal kebenaran dan keluar dari penjarah berfikir dogmatis dan absurditas diatas tersebut.

“Masa Depan Peradaban Berada Ditangan Kaum Pemikir atau Intelektual”. ( Cak Nur )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut