Kabata, Tradisi Perhelatan Syair dari Tidore

  • Bagikan
Tradisi Kabata di Kota Tidore Kepulauan

DENTUMAN  yang beradu dari lesung dan alu menyajikan harmoni bunyi yang bertalu-talu. Tak sekedar benturan kayu yang berirama dari waduk dan penumbuk gabah untuk memisahkan sekam dari padi. Diikuti suara orang yang melantunkan semacam nyanyian, lebih tepatnya syair yang berirama, semua orang bersuka cita dalam gotong royong menumbuk gabah, ini semcam hiburan atau penyemangat dalam bekerja, tradisi perhelatan syair ini oleh orang Tidore disebut Kabata.

Tradisi ini mencerminkan budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat Tidore, sebagai bentuk kesadaran atas kesatuan sosial yang memiliki keterikatan antar satu dengan yang lain, sehingga rasa memiliki dan saling membutuhkan terjewantahkan dari pola kehidupan sehri-hari. Sebab tak dapat dipungkiri Kabata adalah bagian dari budaya  yang lahir dari kebersamaan sosial yang saling terpaut.

Kabata biasanya dilaksanakan sebelum  hajatan atau tradisi seperti  salai jin atau hajatan lainnya yang diniatkan untuk membuat Kabata. Beras hasil tumbukan itu akan diolah untuk kebutuhan hajatan nantinya, biasa diistilahkan dengan sebutan sou mangale.

Dalam bahasa Tidore istilah menumbuk gabah untuk memisahkan sekam dengan padi disebut tutu bira, selanjutnya menumbuk beras menjadi tepung beras atau dalam bahasa tidore disebut dengan tutu galpung. Selain menumbuk beras, kabata juga dilakukan saat memarut kelapa secara gotong royong yang disebut ciru igo, hanya saja kabat saat ciru igo sudah mulai jarang ditemukan.

Halik Saraha, salah satu tokoh adat di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore  Utara, Kota Tidore Kepulauan saat di temui KabarMalut beberapa waktu lalu, menjelaskan tentang tradisi ini yang mulai berkurang dan tak banyak generasi muda yang mampu melaksanakan kabata.

Tutu bira dan tutu galpung biasanya dilakukan sebelum atau menjelang hajatan yang akan dilakukan, untuk keperluan pada saat hajatan nanti, dan ini dilakukan secara bersama-sama dalam lingkungan masyarakat tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, Kabata dalam prakteknya dilakoni oleh 12 orang yang terbagi dalam  dua kubu. Satu kubu berisikan 6 orang, berhadapan dengan 6 orang lainnya. setiap kubu memiliki pemimpin yang bertugas menciptakan syair kabata yang dinamakan kabata ma saihu. Kemudian syair yang dicipta itu dijabarkan ke anggotanya atau yang disebut otimao untuk disampaikan secara bersama sama.

Peserta kabata tidak terbatas pada 12 orang tapi juga bisa 14, 16, dan 18, akan tetapi lebih efektif dengan 12 orang. Kedua kubu ini kemudian saling berbalas syair sambil menumbuk gabah. Syair kabata muncul secara kondisional alias tidak diciptakan sebelumnya, akan tetapi tergantung tema apa yang disyairkan oleh kubu lawan.

Tema yang diusung dalam kabata bersifat dinamis. Diksi dan majas diramu dengan sedikit gaya filosofis yang dilagukan dalam  perhelatan berbalas syair ini, berbeda dengan berbalas pantun karena pantun memerlukan rima dalam setiap katanya. Sedangkan,  kabata memerlukan kecerdasan bahasa dan komposisi irama yang pas.

“Untuk menjadi kabata ma saihu, seseorang harus kreatif memilih kata-kata yang tepat, harus memahami bahasa Tidore yang baku dan tanggap terhadap tema yang sedang diangkat,” jelas Khalik yang juga seorang pentolan kabata ma saihu ini.

Suara cengkok dengan sedikit meliuk-liuk menjadi irama khas dalam menambah indahnya syair. Ada perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki pada irama. Irama yang dilagukan perempuan lebih lembut, sementara laki-laki lebih tegas.

Kabata tergolong dalam sastra lisan, karena kabata tidak ditulis, tetapi dilisankan sehingga tak ada kitab kabata. Banyak masyarakat yang percaya bahwa kemampuan dalam mengkreasikan kata-kata oleh kabata ma saihu karena ada faktor kemampuan yang diperoleh dari garis keturunan seorang kabata ma saihu atau disebut kabata ma mansia.

Selain kabata, sastra lisan seperti moro-moro dan dola bololo juga turut mewarnai khazana sastra lisan bahasa Tidore dan keindahan kata-kata yang syarat makna dan filosofis. Sayangnya, dewasa ini kegiatan seperti kabata, moro moro dab dola bololo, mulai jarang terdengar eksistensinya.

Hal ini disebabkan perubahan sosial yang terjadi. Kabata sangat erat kaitannya dengan beras dan kelapa yang oleh masyarakat diolah secara bersama-sama, sedangkan, kini masyarakat sudah beralih dengan produk pabrik atau beras impor luar negeri.

“Kalau dulu semua kebutuhan makanan dipenuhi sendiri, seperti beras, jagung, singkong dan pisang. Kalau mau makan beras ya masyarakat membentuk kelompok kemudian kerja sama menanam sendiri diladang. Hasil panen itu di buat syukuran dengan kabata dan salai jin. Kalau sekarang kan tinggal beli beras dari jawa atau impor dari Thailand,” katanya.

Ini diperparah lagi dengan generasi muda  yang tak mengetahui kabata dan tradisi lisan lainnya, sehingga bukan tidak mungkin tradisi-tradisi ini suatu saat akan hilang. Karena itu, tradisi ini menjadi tanggungjawab semua pihak.

“Selain masyarakat, paling utama adalah pemerintah khususnya bagian dinas pariwisata dan kebudayaan agar lebih memperhatiakan masa depan budaya dan tradisi warisan leluhur ini,” harapnya. (Ong)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut