Rumah Sebagai Etalase Pendidikan Generasi Bangsa

  • Bagikan
Danlanal Ternate, Kol (P) Rizaldi

(oleh Rizaldi, Maluku Utara)

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sekarang kita berada di tahun 2018, konon katanya abad millenium yang dikuasai oleh teknologi digital, dimana komputer, robot dan perangkat elektronik lainnya berlebelkan ‘intel inside’. Maka melalui momentum peringatan Hardiknas, mari kita bebaskan diri dari belenggu tirani kebodohan dalam menghadapi jaman kekinian.

Lihatlah!

Para orangtua kita rela banting tulang dan menderita serta hidup seadanya demi masa depan terbaik anak-anaknya. Para orangtua sesungguhnya adalah ‘Maha Guru Terhebat’, karena mereka telah mengajarkan berbagai mata pelajaran kehidupan.

‘Pendidikan Terbaik diawali dari Rumah’

Tanggung jawab orangtua terhadap keluarga menjadi contoh nyata pendidikan di rumah yang terbaik selama 24 jam. Tanpa mata pelajaran, tanpa ruang kelas khusus, tanpa alat peraga dan tanpa buku paket pelajaran dan lain-lain. Metode belajar mengajarpun sangat sederhana, hanya berdasarkan pengalaman hidup semata tanpa landasan teori bahkan ujian praktek dilaksanakan hari itu juga. Namun hasil penilaiannya akan diperoleh kemudian hari, saat kita menjalani hidup sendiri tanpa hadirnya bantuan mereka para orangtua kita. Teori sekolahan mengatakan bahwa ‘Pengalaman adalah guru terbaik’. Tapi menurut pendapatku: ‘Pengalaman Bukanlah Guru Terbaik’.

Alasan sederhananya adalah sebagai berikut:

– Pengalaman memberi ujian diawal persoalan, baru setelah itu kunci jawaban berikut pelajaran dan teorinya.

– Pengalaman tidak mutlak harus diperoleh dari pendidikan sekolah.

– Pengalaman dapat selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

– Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda.

– Dalam menyelesaikan suatu persoalan tidak harus selalu sama tergantung sudut pandang serta caranya sendiri.

– Belajarlah dari pengalaman pahit orang lain tanpa harus menjalaninya agar ke depan kita jauh lebih baik dari mereka.

Berbagi Waktu…

Para orangtua memulai hari berlomba agar lebih dulu terjaga daripada kokok ayam jantan, sehingga mereka dapat segera merubah mimpi menjadi kenyataan. Mereka mengawali hari dengan doa tulus agar hari ini jauh lebih baik dari kemaren. Dihiasinya dengan senyuman ikhlas guna menjalani hari ini serta menatap hari esok dengan kepastian dan kebaikan. Sedangkan kita para anak, mungkin masih menikmati mimpi indah yang belum tentu menjadi kenyataan.

Berpacu dengan Waktu…

Ketika mentari akan terbit di ufuk Timur, para orangtua telah meninggalkan rumah untuk mencari rezeki dan kembali ke rumah setelah sang surya condong ke Barat menuju ke peraduannya.

Mereka tak pernah mengenal lelah, mengeluh dan tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupannya. Sesulit apapun kehidupan namun mereka tetap ikhlas menjalani hidup tanpa mengeluh serta berusaha tetap tersenyum meski menyimpan segudang duka. Semua itu dilakukan demi kita sang anak agar dapat menikmati kebahagiaan menjalani kehidupan masa depan. Namun lihatlah bagaimana kita selaku anak!

Mungkin kita jarang merasa khawatir tentang kondisi orangtua kita manakala berada diluar sana. Kita selalu disibukkan dengan dunia kecil kita sendiri. Namun sebaliknya, mereka begitu mengkhawatirkan kondisi kita anaknya, sehingga tak jarang mereka berupaya keras memberikan perlindungan meskipun kita menganggap terlalu berlebihan dan bertentangan dengan keinginan kita.

Disisi lain, orangtua kita mungkin ada yang tidak pernah merasakan pendidikan tingkat menengah atas, apalagi Perguruan Tinggi, mungkin belajar baca tulis saja sulit. Tapi jauh di lubuk hati, para orangtua memiliki tekad yang teramat kuat untuk mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang lebih baik. Mungkin bila dihitung jarak perjalanan mereka terjauh hanyalah diperbatasan desa tetangga saja. Tapi mereka tetap berharap dapat mengirim kita menuntut ilmu dan mengenal dunia hingga ke negeri orang di seberang samudera. Mereka tidak pernah mempersoalkan ganti rugi terhadap biaya yang telah dikeluarkan. Mereka merasa puas terbayarkan dan bangga manakala anaknya telah bergelar sarjana atau memiliki penghasilan sendiri. Sedangkan orangtua kita tetap berada pada kondisi sederhana, tak kenal teknologi tapi tetap tersenyum puas menjalani kehidupan.

Paruh Akhir Waktu…

Meskipun orangtua kita bermandikan peluh, letih dan penat setelah bekerja keras, namun terbayar lunas ketika melihat kebahagiaan sang anak di rumah. Lalu ditunggui kita puas bermain dan tertidur pulas menikmati mimpi indah, selanjutnya mereka beristirahat. Itulah pendidikan terbaik sekolah berada di tengah keluarga di rumah. Untuk itu, ijinkan kutitipkan pesan singkat untuk menggugah nurani kita bersama:

– Jadikan Rumah sebagai Sekolah Elit bergengsi.

– Orangtua sebagai Guru Teladan bagi keluarga.

– Anak-anak akan menjadi Murid Berprestasi dalam menyelesaikan berbagai soal essay kehidupan.

– Lingkungan rumah menjadi alat peraga sederhana tanpa perlu dibeli dengan biaya mahal.

– Buku pelajarannya berasal dari tanda-tanda alam sekitar yang akan selalu updating sesuai kekinian.

– Buku catatan dan alat tulisnya tak akan habis oleh waktu. Karena semuanya terekam dalam memori otak dan tersimpan rapih di hati serta akan mempengaruhi kehidupan selanjutnya.

Pelajaran kehidupan terbagi dalam paruh waktu 1/3 hari dihabiskan anak di sekolah, namun 2/3 hari digunakan oleh anak bersama keluarga dan lingkungannya, sehingga dibutuhkan dukungan dari keluarga, terutama peran penting dan tanggungjwab orangtua terhadap anak-anaknya. Jadikanlah Rumah sebagai Homeschooling terbaik layaknya sekolah resmi favorit dengan segudang ilmu pelajaran berharga dan tanpa biaya mahal namun mampu menuntun generasi penerus bangsa yang mandiri dan berkarakter.

Orangtuaku dan juga Guruku, bimbing dan tunjukkan kami ke jalan kecerdasan guna meneruskan estafet pengabdian terbaik bagi negara dan bangsa.

Dari Bumi Para Raja Moloku Kie Raha, Kami mengucapkan:

“Selamat Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018”.

Pendidikan membuka jendela dunia dan mencerdaskan anak bangsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER
error: Hak Cipta KabarMalut