Pernah Ditemui Bos lllegal Logging, Kejari Kesulitan Tindak Lanjut Putusan MA

  • Bagikan
Kajari Halsel, Cristian Carel Ratuanik

LABUHA – Kejaksaan Negeri (Kejari) Halmahera Selatan (Halsel) merasa kesulitan menindak lanjuti putusan Mahkamah Agung (MA) nomor 2374 K/PID.SUS/2011 jo nomor: 154/Pid. sus/2010/PN.LBH tentang perintah penyitaan alat berat milik mantan terpidana illegal logging Hartono The atau lebih dikenal Ko Tek, salah satu pengusaha kayu terkenal di Halsel.

Informasi yang dihimpun, MA memerintah Kejari Halsel menyita alat bukti berupa 2 unit Lider jenis Loder WA, 500 Komatsu Lot No. 370 dan Loder Komatsu WA. 500 WL 02,  satu unit Grider GD 510 R Komatsu, satu unit Mitsubishi L-200 Strada nomor polisi DB 8131 CB, satu unit loging trcuk warna kuning merek Renault tipe CBH. 280 LT 01 nomor mesin ST. 5600104876 nomor casis 194240 dan barang bukti lainnya berupa kayu bulat berjumlah 664 batang dengan kubikasi sebanyak 3.334,47 meter kubik.

Namun faktanya hingga kini putusan atau perintah MA itu belum dieksekusi Kejari Halsel, bahkan berhembus kabar Kajari Halsel, Cristian Carel Ratuanik diduga telah menerima sejumlah uang dari Bos Illegal Longging Hartono The, sehingga tidak melaksanakan putusan MA.

Menanggpai hal itu, Kajari Halsel, Cristian Carel Ratuanik membantah bahwa tidak pernah menerima uang dari Hartono The. Meski begitu, Cristian mangaku, Hartono The yang juga mantan narapidana kasus illegal logging itu pernah menemuinya di rumah dinas kejaksaan yang berada tepat di belakang kantor Kejari Halsel, hanya saja dalam pertemuan itu untuk berkoordinasi, bukan menerima suap sebagaimana  dialamatkan kepada dirinya.

“Saya bersumpah, saya orang beragama, tidak benar kalau saya terima suap. Dia (Hartono The) pernah berkoordinasi dengan saya di rumah, tapi bukan berarti membawa kantong yang berisikan uang,” kata Cristian kepada sejumlah awak media di ruang kerjanya, Jumat (5/10/2018).

Terkait penyitaan sejumlah alat berat sesuai putusan MA, Cristian mengatakan pihaknya telah ke lokasi untuk dilakukan penyitaan, hanya saja Hartono The sebagai pemilik barang tidak memiliki itikad baik untuk menunjukan barang bukti yang akan disita.  Bahkan Hartono The, yang juga mantan narapidana kasus illegal logging melaporkan Kejari Halsel ke Kejaksaan Agung.

“Hartono The, tidak mau menunjukan barang bukti yang akan disita,” ungkap Cristian.

Kejari kesulitan mengetahui sejumlah alat berat dan kayu bulat yang akan disita karena penyidik Kejari yang menangani kasus tersebut, sudah pindah sehingga tidak lagi bertugas di Kejari Halsel. Bahkan Cristian mengaku telah membuat laporan ke Polres Halsel yang ditujukan kepada penyidik Polres yang menangani kasus tersebut agar membantu Kejari menunjukan sejumlah barang bukti yang akan disita.

“Sampai sekarang belum ada respon dari polres,” cetus Cristian.

Dirinya berjanji, alat berat dan kayu bulat sebagai barang bukti yang menjadi rampasan negara berdasarkan putusan MA itu cepat atau lambat tetap dituntaskan.

“Ini sudah menjadi pekerjaan rumah (PR) buat kami. Saya tetap tuntaskan,” tegas Cristian.

Polres Halsel melalui Kasat Reskrim, AKP Gede Atmaja saat dikonfirmasi mengaku pihaknya sudah menerima surat laporan dari Kejati terkait keberadaan alat bukti tersebut. Menindak lanjutani surat itu kata Kasat, pihaknya langsung membalas surat tersebut yang intinya penyidik siap mendampingi kejaksaan untuk turun ke lapang melakukan penyitaan.

“Sudah dibalas suratnya, surat itu di acc langsung Kapolres. Selanjutnya menunggu jadwal dari kejaksaan saja  karena Polres sifatnya hanya pengamanan,” tutup Kasat. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut