TRANFORMASI HMI UNTUK PERUBAHAN INDONESIA BERKEMAJUAN DAN BERDAULAT (Solusi Kepemimpinan Profetik Antara Konsep dan Realitas) Refleksi Kritis Milad HMI Ke-74 Tahun

  • Bagikan

Rusmin Hasan

Aktivis HMI Cabang Tondano

 

KETIKA kita melihat secara objektif kesadaran paradigma kritis perjalanan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memasuki usianya ke-74 tahun dekade ini, mengalami kemunduran yang sangat signifikan, ditandai dengan menurunnya semangat menjalankan Khittah perjuangan HMI, termasuk dalam mengamalkan lima kualitas insan cita yang menjadi landasar perjuangan  HMI. Orientasi dan eksistensi organisasi terbesar ini, kian hari mengalami kerapuhan nila, seperti marwah keummatan dan kebangsaan seakan hanya narasi jargon semata, yang perluh menjadi pertanyaan kritis bagi seluruh kader HMI se-nusantara sebagai bentuk kritik otokritik secara internal untuk memproyeksi tranformasi HMI secara radikal.

Mengutik bahasanya Kakanda  Almaharhum Guru bangsa Nurchlish Madjid di forum Seminar Kepemimpian Moralitas Bangsa, ia mengatakan bahwa, “ternyata pengkaderan HMI tidak semuanya membuahkan hasil yang baik, menurutnya bahwa memang banyak kader HMI yang bersih (Mister Clean) akan tetapi koruptor juga banyak dari HMI”. Pernyataan Cak Nur tersebut, direspon serius juga oleh almarhum Agus Salim Situmpol dalam bukunya; ’44 Indikator Kemunduran HMI’.

Menurut beliau pada pola pengkaderan dan manajemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi intelektual, kader HMI tidak memiliki gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis kader menurun serta kehilangan kekuatan batin.

Dan yang sangat disesalkan juga adalah Pengurus Besar (PB HMI), saat ini hanya terputar pada atmosfer konflik internal, dualisme kepemimpinan PB HMI serta terdapat gerbong dinternal kubu kepengurusan yang berplikasi keakraban sosial atau slogan kita berteman lebih dari saudara seakan tak diinternalisasi secara mendalam oleh anggota PB HMI, sehingga HMI acapkali mengalami marwahnya, seakan tak memiliki daya produksi kualitas kader dalam mengkorfirmasikan gagasan besarnya untuk terlibat pada problem kebangsaan dan keumatan saat ini.

Potret PB HMI hanya dihiasi dengan amatiran serta apoloji mempraktekkan tipelogis watak politikus oligarki, pragmatis sehingga agenda besar seakan dilupakan oleh seluruh pengurus PB HMI. Ruang tradisi intelektual PB HMI saat ini tak lagi diisi dengan dialektika intelektual tranformatif, sehingga narasi kongres PB HMI dari periodesasi hanya sebagai narasi kering yang tersimpan dalam sekretariat PB HMI dan tak berdampak positif buat umat dan bangsa.

Oleh kerangka problem internal HMI diatas, Penulis ingin menghadirkan kembali sekaligus mengajak seluru aktivis HMI se-Nusanatara untuk memenangkan Tranformasi HMI  untuk Indonesia berkemajuan (Kepemimpinan Profetik Anatara Konsep dan Realitas Sebagai Solusi Perdamiaan) di dalam konteks era disrupsi 4.0 saat ini, HMI harus banyak berbenah dalam segala aspek serta terus berpacu pada lembaran historis sejarah perjuangan HMI dan berguru pada pengalaman napak tilas perjaungan HMI, sehingga HMI bisa menjadi rol model rakyat Indonesia. Sebagaimana, ulasan Jendral Sudirman bahwa HMI bukan hanya sekedar organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Namun, HMI adalah harapan masyarakat Indonesia. Tentu, itu harapan kita bersama untuk ikhtiar mewujudkannya.

Maka melihat problem diatas, penulis berikhtiar untuk mengajak kader HMI se-Nusantara membumikan dan memenangkan kembali gagasan tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Kepemimpinan Profetik Antara Konsep dan Realitas ). Ketika kita ingin menjalankan misi tranformasi HMI untuk Indonesia berkemajuan, diperlukan sebuah paradigma teoritis dan praktis sebagai pedoman bersikap untuk menghadapi fenomena dan realitas yang muncul diera revolusi indutri 4.0 sebagai landasar epistemik berfikir dan berjuang menghadapi arus percereteruan global ditengah krisis kondisi umat dan bangsa.

HMI sebagai anak kandung revolusi sekaligus organisasi terbesar yang ada di Indonesia dan juga organisasi mahasiswa tertua sejak berdirinya 05 Februari 1947 yang masih bertahan sampai dengan hari ini, seharusnya mengarahkan pada proses tranformasi paradigma yang ideal, yang mana HMI harus senantiasa bergerak maju dengan gagasan-gagasan pembaharu yang bermuara pada sikap dan tindakan kader ketika menghadapi problem keumatan dan kebangsaan sesuai dengan misi HMI itu sendiri. HMI sebagai organisasi perjuangan sebaiknya peka dan produktif merespon segala hal, keberpihakan itu kecenderungan kepada hanif (kebenaran) yang diwujudkan pada konsep tranformasi perubahan sosial kepemimpinan HMI secara simultan dan konsistensi untuk di wujud nyatakan dalam sebuah karya HMI untuk Rakyat Indonesia, maka Solusi Kepimpinan Profetik adalah ijtihat sekaligus Ikhtiar untuk mengembalikan kembali esensi dan orientasi perjangan HMI diera Disrupsi 4.0 saat ini, sehingga HMI tak digilas zaman.

HMI sebagai organisasi yang beridentitas Islam, maka sudah segogyanya menjadikan Islam sebagai nafas perjuangannya. Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin yang dibawakan oleh sang revolusioner sejati baginda Rasulullah SAW untuk mengubah moralitas umat manusia dari ekspolitasi yang sangat jahiliyah. Tradisi Islam dibangun secara damai bersama para sahabat-sabahatnya dengan meletakkan prinsip dasar sebagai manusia, bahkan aspek trandental serta sosial budaya, ekonomi politik bahkan lain sebagainya.

Kepemimpinan Profetik adalah repsentasi kepemimpinan ideal. Karena kata profetik berasal dari bahasa Inggris (prophet) atau dalam istilah lain kata sifat yang berarti kenabian. Secara universalitas kepemimpinan profetik adalah salah satu ciri kepempinan manusia ideal secara spiritual, humanisme serta liberasi atau pembebasan yang menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat kearah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan kezholiman dan ekspolitasi terhadap rakyat kecil. Ispirasi dari teologis kepemimpinan profetik, menurut Kontowijoyo (2006:87) adalah dari misi historis Islam yang termaktub dalam Firman Allah SWT berikut:

Artinya : “Engkau adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada makruf dan mencegah dari munkar dan beriman kepada Allah SWT”. ( Q.S Ali Imran (03): 110 ).

Arti tersebut diatas, menurut Kontowijoyo memuat tiga nilai penting yakni; Nilai Humanisme, Liberasi dan Transendensi. Humanisme sebagai padanan Tu’muruna Bil Ma’aruf. Liberasi padanan Tanhana’an Al-Munkar. Dan Transedensi padanan Tu’minuuna Billah.

Tujuan dari humanisme adalah ranformasi proses memanusiakan manusia. Keadaan masyarakat yang telah bergeser dari pola hidup petani menjadi masyarakat industri. Tujuan dari Liberasi adalah pembebasan manusia dari jeretan-jeretan sosial, pembebasan dari kesamnya kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi dan pemerasan kaum pemodal. Dan kepemimpinan profetik sebagai semangat ingin membebaskan diri dari belenggu yang dibangun sendiri tanpa sadar. Maka HMI sebagai sala satu Organisasi yang strategis dibangsa ini harus menginternalisikan spirit kepemimpinan kenabian atau profetik sebagai jalan kearifan serta poros tranformatif HMI untuk merovolusi paradigma kader secara komprehensif dalam proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Dari sini HMI akan mampu mewujudkan Misi Lima Kaulitas Insan Cita.

Ada beberapa kerangka konseptual yang harus diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik Antara Konsep dan Realitas ) diera Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan Planfrom Tujuh Tranformatif HMI yakni;

Faktor Internal:

Manivesto Gerakan Tranformatif Intelektual berbasis data melalui riset, membuat data keanggotaan Kader HMI se-nusantara, Inovasi kaderisasi berbasis IPTEK, Kepemimpinan Profetik sebagai Tranformatif HMI dan sekolah kepemimpinan, lokakarya konstitusi HMI sekaligus menjadikan Sekret PB HMI sebagai wadah poros gerakan Nasional.

Faktor Eksternal:

Membangun rekonsulasi Cipayung Plus secara simultan, membuat lembaga advokasi dibagian pertanian, kelautan, agraria, parawisata dan kebudayaan. Membangun sekolah pelatikan pancasila, membangun dialog antar umat beragama untuk menjaga persatuan antar agama-agama di Indonesia, membangun gerakan diplomasi masjid sebagai pusat peradaban ummat Islam di Indonesia serta pusat gerakan ekonomi kerakyatan dan menkonsolidasikan gerakan Islam Internasional sebagai ajang silaturahim sekaligus menjaga Nafas Islam, keindonesiaan kita.

Penulis beroptimisme apabila kerangka konseptual diatas apabila diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik Antara Konsep dan Realitas ) diera Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan planfrom Tujuh Tranformatif HMI dengan modalitas 4 sifat kepempinan yakni, pertama; pemimpin yang lahir dari cultur budaya yang tidak homogen tapi harus majemuk sehingga corak pemikirannya tidak terputar pada konsepsi belaka namun harus diamalkan secara riil, kedua; kepemimpinan yang humanistik. Pola kepemimpinan seperti ini, penting untuk ia mampu mengkomunikasi kepentingan HMI bahkan rakyat indonesia baik pada aspek politik kenegaraan maupun aspek gerakan ekonomi kerakyatan dan ketiga; Seorang pemimpin diHMI harus memiliki beyond State ( Dia harus diatas negara dalam arti sosoknya harus mendunia baik wawasannya maupun terkoteksi jejaringan pada level internasional baik pada aspek kepentingan umat maupun kondisi kebangsaan.

Hal ini, penting harus dimiliki oleh seorang sosok pemimpin HMI dimasa akan depan untuk mampu hadir sebagai Jol Lokus peradaban Umat dan bangsa serta mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah SWT. Semoga narasi sederhana ini, bentuk refleksi dimomentum Milad HMI KE-47 Tahun 2021 ini, sekaligus kroyeksi dan proses mentranformasikan nilai Kepemimpinan Profetik dimasa depan untuk HMI yang lebih. Semoga bermanfaat. Wallahu A’alam Bissawab.. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut