Menyelamatkan Pulau Halmahera, Ekososialisme Sebagai Jalan Keluar dari Bencana Ekologi dan Kepunahan Manusia

  • Bagikan

Rusmin Hasan

Aktivis Kemanusiaan Sulut

 

Diserang Orang Tak Dikenal, 3 Warga Halteng Tewas, 4 Selamat: Kalau dikaji secara mendalam kasus pembunuhan di Kabupaten Halmahera Timur di bulan Mei tahun 2019 lalu, sama halnya dengan terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada tanggal 21 Maret 2021.

KASUS tersebut harus dipahami problemnya pada kacamata ekonomi politik dan dampak oligarki ekstraktif pertambangan yang masif di Pulau Halmahera, Maluku Utara, memperpapa kematian jiwa warga masyarakat setempat. Itu karena sistem ekonomi kita saat ini mensyaratkan penghancuran ekologi sebagai hal yang diperlukan bagi keberadaannya.

Dampak perusakan ekologi itu telah membuat patogen (virus, bakteri, dll) kehilangan habitat alaminya yaitu di hutan lebat, karena kawasan itu telah diganti menjadi area pertambangan, peternakan, pertanian industri, hingga perkebunan skala besar. Kini kehidupan patogen itu menjadi dekat dengan kehidupan manusia, mereka seperti mengantri untuk menciptakan epidemi berikutnya.

Peringatan ahli epidemiologi, tidak lantas membuat pemerintah bertindak cepat menata kebijakan ekonominya. Kelas penguasa justru melakukan penyangkalan dan pembenaran terhadap tindakan keliru yang mereka jalankan. Hal itu dapat dipahami karena kepedulian terhadap lingkungan hidup bertentangan dengan logika ekonomi kapitalisme. Realita itu disebut Wallace sebagai “Matinya Epidemiolog”, mereka dimatikan suaranya karena bertentangan dengan kepentingan kelas penguasa.

Masyarakat Halmahera harus membuka cakrawaka berfikir bahwa industri pertambangan itu bukan jalan solusi pembangunan namun krisis multi dimensi yang akan memperpapa krisis ruang hidup, ekologi dan pelestarikan lingkungan kita. Bahkan akan terjadi kepunahan masyarakat setempat.

Kasus pembunuhan beberapa dekade tahun lalu seharusnya kita masyarakat harus mengambil pelajaran. Bukan mala simpati terhadap investasi oligarki ekstraktif yang bercokol di Pulau Halmahera, Maluku Utara, pemerintah daerah sudah harus menutup ruang untuk masuknya watak oligarki ekstraktif beroperasi secara masif di daratan Pulau Halmahera Maluku
Utara. Secara geostrategis wilayah Halmahera, Maluku Utara, memilik luas tanah 17.780 km² (6.865 mil persegi) dan populasi 1995 sekitar 162.728. Pada 1997, sekitar 80% penduduk adalah Muslim, dan sekitar 20% adalah Kristen.

Pulau ini dibagi menjadi 10 kabupaten: Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Kepulauan Morotai, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Pulau Talibau. Dan memiliki kawasan industri dan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat melimpah, sehingga menjadi perebutan investasi besar di daratan Pulau Halmahera.

Namun secara historis sampai saat ini, investasi industri bukan menjadi resolusi terhadap masyarakat namun memperpapa kondisi alam masyarakat Halmahera, Maluku Utara. Miris kita melihat Pulau Halmahera yang menjadi tanah tak bertuan itu. Menurut Vallace dalam bukunya: Ia mengistilahkan sebagai matinya epidemiolog dan ekspansi modal. Maka ia menawarkan Ekososialisme adalah jalan keluar karena menghubungkan kembali kehidupan manusia dengan metabolisme alam, karena pada hakikatnya manusia adalah bagian dari alam semesta. Setiap energi yang kita curahkan untuk bergerak, untuk bernafas atau secara mendasar yaitu untuk hidup sangat bergantung dengan metabolisme alam. Namun saat ini, kita dihadapkan dengan sistem ekonomi yang mensyaratkan perusakan ekologi dan ekspolitasi manusia sebagai prasyarat bagi keberadaannya.

Oleh karenanya, solusi terbaik menurut Rob Wallace untuk memperbaiki metabolisme sosial pasti bertentangan dengan kepentingan modal. Sehingga setiap upaya untuk keluar dari bencana ekologi adalah sebuah pertaruangan kelas, yaitu perjuangan kelas pekerja untuk menghentikan setiap tindakan kelas kapitalis yang memusuhui bumi.

Sudah saatnya kita berdamai dengan bumi sebelum, semuanya terlambat. Sudah saatnya kita menarik rem sebelum kereta yang kita tumpangi terjun bebas menuju ke jurang kehancuran seluruh alam Pulau Halmahera. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut