Investasi Tak Kunjung Cair, Oknum Jaksa Diduga Peras Astrid

  • Bagikan
Kantor Kejati Malut (Foto: Dok/KabarMalut)

TERNATE -Tidak hanya masyarakat biasa yang menjadi korban investasi bodong yang dilakukan Astrid Pakaya, seorang oknum Jaksa pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara (Malut) berinisi SM juga menjadi korban investasi bodong. Karena investasinya senilai Rp 25 juta tak kunjung cair, oknum Jaksa ini diduga memeras Terdakwa Investasi Bodong, Astrid yang nilainya mencapai Rp 200 juta.

Informasi yang dihimpun KabarMalut melalui sumber terpercaya, menyebutkan oknum jaksa inisial SM diduga peras Astrid hingga Rp 200 juta itu dikarenakan SM sebelumnya berinvestasi ke Astrid senilai Rp 25 juta, namun uang yang diinvestasi tak kunjung cair hingga proses hukum Astrid masuk pada ranah Kejaksaan. SM ditunjuk sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada perkara Astrid memenfaatkan kesempatan dengan memeras Astrid.

Tak terima karena diperas, kolega Astrid kemudian melapor SM ke Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Malut. Dari laporan tersebut Aswas kemudian melakukan penyelidikan, hingga kini sudah tiga saksi diperiksa termasuk SM.

Plh Kasi Penkum Ikhram, saat dikonfirmasi membantah adanya pemerasan yang dolakukan oknum jaksa SM terhadap Astrid. Menurutnya, kasus tersebut belum dikategorikan sebagai pemerasan, karena SM juga ditipu oleh Astrid sehingga wajar jika SM meminta pengembalian uangnya sebagaimana nominal uang yang diinvestasi kepada Astrid.

“Kita belum bisa menyimpulkan bahwa itu pemerasan. Kan sah-sah saja kalau SM ini juga korban investasi, jadi wajar kalau dia minta Astrid mengembalikan uangnya dia,” bantah Ikrham belum lama ini.

Ikhram, menambahkan laporan Astrid sendiri sudah ditindaklanjuti oleh Aswas yakni klarifikasi baik pihak pelapor maupun terlapor.

Secara terpisah SM membantah tuduhan tersebut, menurut SM dirinya tidak pernah melakukan pemerasan terhadap Astrid sebagaimana dilaporkan.

“Pada prinsipnya secara pribadi maupun institusi tidak pernah melakukan pemerasan terhadap siapa pun. Jaksa tidak mungkin menipu, apalagi pemerasan, masyarakat saja jika kita melakukan pemerasan harus berpikir seribu kali. Saya punya bukti silakang cuman bukti SMS laporan itu tidak benar,” tegas SM. (Ajo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hak Cipta KabarMalut