Home » Bisnis » Pabrik Semen China di Aceh, Pengusaha Lokal Khawatir

Pabrik Semen China di Aceh, Pengusaha Lokal Khawatir

Fajar Eka Putra June 14, 2024

kabarmalut.co.id – Rencana pendirian pabrik semen baru oleh konsorsium China telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan emiten semen lokal. Langkah ini tidak hanya melanggar aturan moratorium tetapi juga memperparah kondisi kelebihan pasokan semen di Indonesia. Kekhawatiran ini muncul setelah PT Kobexindo Cement, konsorsium dari Hongshi Holding Group asal China, menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Penandatanganan dilakukan pada 18 Mei 2024 di Jakarta. Pabrik baru tersebut diharapkan memiliki kapasitas produksi hingga 6 juta ton per tahun, dengan investasi yang diperkirakan mencapai Rp10 triliun. Situasi ini menambah parah kondisi oversupply semen, mengingat pada tahun 2023, kebutuhan semen dalam negeri mencapai 65,5 juta ton sementara total produksi mencapai 119,9 juta ton, menghasilkan kelebihan pasokan sebanyak 54,4 juta ton.

” Baca Juga: Mengatasi Hotspot iPhone yang Tidak Tersambung “

Reaksi Pengusaha Semen Lokal

Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), Christian Kartawijaya, menyatakan bahwa tidak ada kebutuhan untuk pasokan tambahan semen di Aceh dan Pulau Sumatra. Berita tentang pendirian pabrik baru ini sangat mengejutkan di tengah kondisi oversupply semen di Indonesia dan janji pemerintah untuk melakukan moratorium pemberian izin pembangunan pabrik semen baru. Indocement sendiri sudah berinvestasi dalam tiga terminal di Lampung, Palembang, dan terminal apung di Kuala Tanjung, Sumatra Utara, untuk memenuhi kebutuhan semen di Pulau Sumatra. Saat ini, rata-rata utilisasi pabrik hanya mencapai 55%-60%. Christian berharap pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Investasi/BKPM, menerapkan kebijakan moratorium izin pabrik semen baru agar industri semen Indonesia bisa lebih sehat.

Baca Juga :   Kebijakan Impor Baru: Kepatuhan Jastip Terhadap Aturan

Tantangan dari Pabrik Baru

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) juga menyoroti adanya penambahan kapasitas produksi semen dalam tiga tahun terakhir, meski ada moratorium. Sekretaris Perusahaan SIG, Vita Mahreyni, menyatakan bahwa masih ada penambahan kapasitas baru yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan permintaan semen yang sempat terkontraksi akibat pandemi. Kehadiran pabrik baru dari China berpotensi menggerus pangsa pasar dari emiten semen lokal seperti INTP, SMGR, dan PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) yang baru akan meresmikan pabrik hasil akuisisi di Sumatra Utara pada Juni 2024.

Strategi Menghadapi Persaingan

SMGR, yang memiliki tiga pabrik di Pulau Sumatra, tetap optimis bahwa permintaan semen akan tumbuh pada semester kedua tahun 2024. Mereka berencana untuk fokus pada pengelolaan pasar dan harga, diversifikasi produk, optimalisasi jaringan produksi dan distribusi, serta pembangunan berkelanjutan. Meskipun demikian, SMGR mencatat penurunan laba bersih pada kuartal pertama 2024 sebesar Rp472 miliar, turun 16% dibandingkan tahun sebelumnya. INTP juga mengalami penurunan laba bersih sebesar 35,91% menjadi Rp238,02 miliar pada kuartal pertama 2024.

” Baca Juga: Jaring Hitam Gunung Fuji Tak Mengurangi Antusiasme Wisatawan “

Prospek Saham dan Rekomendasi

Dari sisi pasar saham, emiten semen mengalami penurunan. Saham SMGR turun 0,53%, INTP turun 1,85%, dan CMNT stagnan. Menurut riset J.P. Morgan, baik INTP maupun SMGR mencatat penurunan laba akibat volume penjualan yang lemah dan penurunan harga jual rata-rata. J.P. Morgan memperkirakan laba tahun 2024 untuk SMGR dan INTP akan lebih rendah 10%-15% dari estimasi pasar. Dengan kondisi ini, J.P. Morgan mempertahankan peringkat netral untuk SMGR dan underweight untuk INTP, sementara Kiwoom merekomendasikan hold untuk SMGR dengan target harga Rp4.180.

Baca Juga :   Pembangunan Infrastruktur Indonesia: Bendungan dan Jalan Tol